POPULARITAS.COM – Pada 15 Juni 2026, Amerika dan Iran mengumumkan sebuah kerangka kesepakatan atau Memorandum of Understanding (MoU).
Penandatanganan resmi dijadwalkan Jumat 19 Juni 2026 di Swiss. Tentu saja Swiss. Negara ini sudah seperti gedung serbaguna dunia.
Kesepakatan ini dimediasi Pakistan di bawah PM Shehbaz Sharif dengan bantuan Qatar. Di atas kertas terlihat megah. Di lapangan terasa seperti memasang plester pada bendungan yang mulai bocor.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kesepakatan damai dengan Iran telah dipastikan melalui unggahan di Truth Social pada Minggu (15/6/2026).
Dilansir dari The Jerusalem Post, Trump menyatakan kesepakatan dengan Republik Islam Iran telah rampung dan menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh pihak yang terlibat.
Trump juga mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa biaya tol serta pencabutan segera blokade angkatan laut AS terhadap Iran.
Namun, dalam wawancara dengan New York Times setelah pengumuman tersebut, Trump menegaskan jika Iran gagal mencapai kesepakatan akhir terkait program nuklirnya, AS akan kembali melancarkan serangan terhadap Teheran.
Menurut analisis The Jerusalem Post, terdapat lima isu utama yang akan menentukan apakah kesepakatan nuklir yang diumumkan Trump akan dianggap sebagai keberhasilan strategis atau justru menjadi sumber ancaman baru bagi Israel dalam lima bulan hingga lima tahun ke depan.
5 Poin Kunci Kesepakatan Nuklir AS dan Iran
Nasib uranium yang diperkaya 60 persen dan 20 persen
Kerangka kesepakatan yang ditandatangani pada Minggu (14/6/2026) hingga Senin (15/6/2026) memulai periode negosiasi selama 60 hari untuk menyelesaikan persoalan nuklir dan sanksi.
Apabila uranium yang diperkaya hingga 60% berhasil dihilangkan dari Iran atau diencerkan di bawah pengawasan AS, maka ancaman utama dari program nuklir Iran dalam satu hingga dua tahun mendatang dinilai dapat diatasi.
Penilaian tersebut didasarkan pada fakta sebagian besar ancaman jangka pendek terhadap fasilitas nuklir Iran telah dilemahkan selama perang yang terjadi pada Juni 2025.
Sebaliknya, jika uranium dengan tingkat pengayaan 60% tidak ditangani, Iran masih akan memiliki kemampuan yang berpotensi digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir dalam beberapa tahun mendatang.
Banyak analis memperkirakan persoalan ini akan menjadi prioritas utama dalam kesepakatan karena dianggap sebagai capaian terbesar yang ingin diperoleh Trump.
Pembekuan pengayaan uranium
Sejumlah bocoran sebelumnya menyebut Iran akan menyetujui pembekuan aktivitas pengayaan uranium selama 15 hingga 20 tahun. Namun, Trump justru menyatakan pada Minggu malam, ia telah menyetujui adanya tingkat pengayaan uranium rendah tertentu bagi Iran.
Penarikan pasukan dari Lebanon
Salah satu isu yang turut dibahas dalam perundingan adalah kemungkinan penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan. Israel pada dasarnya tidak memiliki kepentingan untuk mempertahankan kehadiran militernya secara permanen di wilayah tersebut.
Namun, penarikan pasukan diharapkan dapat dilakukan bersamaan dengan langkah-langkah yang membatasi aktivitas Hizbullah.
Kembali ke strategi MABAM
Jika kesepakatan nuklir baru benar-benar berhasil diwujudkan, Israel dinilai perlu menahan diri dari operasi militer terhadap Hizbullah setidaknya sampai persoalan uranium yang diperkaya 60% benar-benar terselesaikan.
Ancaman tidak tertulis Israel terhadap rudal balistik Iran
Isu terakhir yang dinilai sangat penting adalah perkembangan program rudal balistik Iran. Israel disebut memiliki batas toleransi tertentu terhadap jumlah rudal balistik yang dimiliki Teheran.
Meski angka pastinya tidak diketahui, beberapa analis memperkirakan ambang batas tersebut berada di kisaran 4.000 hingga 6.000 rudal.
Meski Israel selama ini menoleransi kepemilikan sekitar 3.000 rudal balistik Iran sejak era 1990-an, munculnya persenjataan dalam jumlah yang jauh lebih besar dipandang sebagai ancaman yang tidak dapat diterima.
Kelima isu tersebut akan menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan atau kegagalan kesepakatan nuklir yang diumumkan Donald Trump.
Apabila seluruh poin tersebut dapat diselesaikan secara efektif, kesepakatan nuklir berpotensi membuka babak baru stabilitas di Timur Tengah. Sebaliknya, jika masih menyisakan celah yang dapat dimanfaatkan di masa depan, perjanjian ini berisiko memunculkan ketegangan baru yang dapat kembali mengganggu keamanan kawasan.


Leave a comment