Home News 7 Fakta Menarik RA Kartini, Sisi Lain Pelopor Emansipasi Wanita
News

7 Fakta Menarik RA Kartini, Sisi Lain Pelopor Emansipasi Wanita

Share
RA Kartini
Share

POPULARITAS.COM – Raden Adjeng (RA) Kartini merupakan pelopor emansipasi wanita di Indonesia yang namanya terus dikenang dan diperingati setiap 21 April.

Sosoknya identik dengan kebaya dan sanggul, tetapi di balik citra tersebut tersimpan pribadi yang penuh warna, dinamis, serta memiliki keberanian melawan tradisi yang mengekang pada masanya.

Banyak orang mengenal Kartini hanya melalui buku “Habis Gelap Terbitlah Terang“, padahal perjalanan hidupnya jauh lebih kompleks. Berikut ini fakta-fakta menarik yang jarang diketahui dan bisa mengubah cara pandang terhadap sosok luar biasa ini.

  1. Julukan “Kuda Liar” karena sifatnya yang energik

Sejak kecil, Kartini bukan gadis pingitan yang pendiam. Ia justru dikenal sangat aktif dan ekspresif. Ayah serta kakaknya menjulukinya “Trinil”, yang berarti burung kecil yang lincah dan cerewet.

Selain itu, Kartini juga mendapat julukan “Kuda Liar” atau Kuda Kore. Julukan ini muncul karena kebiasaannya berjalan dengan melonjak-lonjak, tidak seperti putri bangsawan yang biasanya anggun dan tenang.

Karakter bebas dan sulit dikekang ini sudah terlihat sejak masa kanak-kanak, menjadi cerminan semangat kemerdekaan yang ia perjuangkan hingga dewasa.

  1. Kecerdasan luar biasa sejak usia dini

Kemampuan intelektual Kartini sudah menonjol sejak sangat muda. Saat berusia 8 bulan, ia sudah mampu berjalan sendiri, pencapaian motorik yang melampaui rata-rata bayi seusianya.

Pencapaian ini membuat sang ayah, RM Sosroningrat, menggelar upacara tedak siten sebagai bentuk syukur. Saat menempuh pendidikan di Europese Lagere School (ELS), Kartini dikenal sebagai murid yang cerdas, supel, dan mahir berbahasa Belanda.

Lingkungan sekolah kolonial yang diskriminatif tidak menghalangi semangatnya untuk terus belajar.

  1. Sosok pebisnis dan pelestari budaya

Kartini tidak hanya dikenal sebagai pemikir, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan. Ia mendirikan bengkel ukir kayu di Rembang untuk memberdayakan pemuda setempat secara ekonomi.

Selain itu, Kartini juga mendalami seni batik sejak usia 12 tahun bersama Mbok Dullah, seorang pekerja kadipaten. Ia bahkan melakukan riset dan menulis catatan khusus tentang batik sebagai upaya pelestarian budaya.

Langkah ini menunjukkan kepeduliannya terhadap warisan lokal sekaligus visinya dalam mengembangkan potensi masyarakat.

  1. Hobi memasak dan menulis resep dengan aksara Jawa

Kartini memiliki kegemaran memasak yang cukup serius. Ia tidak hanya mencoba berbagai resep, tetapi juga mendokumentasikannya dengan rapi. Menariknya, resep-resep tersebut ditulis menggunakan aksara Jawa.

Hal ini menunjukkan kedekatannya dengan budaya lokal meskipun ia banyak terpapar pemikiran Barat. Kegiatan ini menjadi bukti modernitas tidak membuatnya meninggalkan akar budaya.

  1. Hubungan keluarga dan dilema poligami

Kehidupan keluarga Kartini tidak lepas dari kompleksitas. Ibu kandungnya, MA Ngasirah, bukan istri utama karena tidak berasal dari kalangan bangsawan. Situasi tersebut dipengaruhi aturan kolonial yang mengharuskan seorang bupati memiliki istri dari kalangan ningrat.

Ayah Kartini kemudian menikah dengan Raden Adjeng Moerjam. Pengalaman ini membuat Kartini menentang praktik poligami. Namun, ia menghadapi dilema ketika dijodohkan dengan Bupati Rembang, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang telah memiliki tiga istri. Dalam kondisi tersebut, Kartini tetap berusaha memperjuangkan prinsip hidupnya.

  1. Syarat khusus menjelang pernikahan

Kartini tidak menerima perjodohan secara pasif. Pada usia 24 tahun, ia mengajukan syarat kepada calon suaminya. Salah satu syarat penting adalah izin untuk mendirikan sekolah bagi perempuan.

Permintaan ini disetujui oleh suaminya yang berpikiran moderat. Dukungan tersebut memungkinkan Kartini mendirikan sekolah perempuan di kompleks kantor Kabupaten Rembang, sebuah langkah nyata dalam memperjuangkan pendidikan bagi kaum wanita.

  1. Warisan mendunia hingga ke Belanda dan Amerika

Pemikiran Kartini tidak hanya berpengaruh di Indonesia, tetapi juga di dunia internasional. Namanya diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota di Belanda, seperti Amsterdam, Utrecht, dan Haarlem.

Karya terkenalnya, Habis Gelap Terbitlah Terang, telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Arab, Sunda, dan Jawa. Bahkan, Eleanor Roosevelt pernah menulis kata pengantar untuk edisi bahasa Inggris buku tersebut.

Hal ini menunjukkan gagasan Kartini tentang kebebasan dan pendidikan perempuan memiliki pengaruh global.

Memahami berbagai sisi kehidupan RA Kartini membuka perspektif baru tentang dirinya. Ia bukan hanya simbol emansipasi, tetapi juga sosok manusia dengan hobi, kegelisahan, serta keberanian dalam menghadapi realitas sosial.

 

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
InternasionalNews

Elon Musk Jadi Triliuner Pertama di Dunia

POPULARITAS.COM – Elon Musk diperkirakan akan menjadi orang pertama dalam sejarah yang...

NewsSepakbola

Sepatu Bola Warna Pink Jadi Tren pada Piala Dunia 2026

POPULARITAS.COM – Warna pink menjadi salah satu sorotan unik pada Piala Dunia 2026. Sejumlah...

InternasionalNews

China Teriak, Sebut Dimata-matai Penyu dari Barat

POPULARITAS.COM – Kementerian Keamanan Negara China mengeluarkan peringatan keras terkait adanya badan...

News

Ruang Mesin KMP Aceh Hebat 2 Meledak, Belasan Taruna Terluka

POPULARITAS.COM – Satu insiden ledakan disertai kebakaran terjadi di kamar mesin KMP...

Exit mobile version