Home News Edukasi 81 Cagar Budaya Rusak Diterjang Banjir, Bupati Pidie Jaya Minta Kemenbud Turun Tangan
Edukasi

81 Cagar Budaya Rusak Diterjang Banjir, Bupati Pidie Jaya Minta Kemenbud Turun Tangan

Share
Sekjen Kementerian Kebudayaan RI Bambang Wibawa saat bersama Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi dan Sekda Munawar Ibrahim saat meninjau Mesjid Tgk. Dipucok Krueng Beuracan, Kecamatan Meureudu. FOTO : popularitas.com/HO Humas Pidie Jaya
Share

POPULARITAS.COM – Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya meminta Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) merevitalisasi 81 situs cagar budaya yang rusak akibat banjir bandang yang melanda daerah itu tahun lalu.

Permintaan itu disampaikan langsung Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, kepada Sekretaris Jenderal Kemenbud, Bambang Wibawarta, yang meninjau sejumlah cagar budaya di Pidie Jaya, Senin (2/11/2026).

“Kami mengharapkan agar 81 cagar budaya yang terdampak bencana dapat diselamatkan,” kata Sibral.

Kunjungan Sekjen Kemenbud bersama rombongan itu merupakan bagian dari konsolidasi Program Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRRP) Bidang Kebudayaan Tahun Anggaran 2026.

Tersebar di Delapan Kecamatan

 Pidie Jaya, yang dikenal sebagai Negeri Japakeh, merupakan salah satu daerah yang kaya cagar budaya. Situs-situs sejarah itu tersebar di delapan kecamatan.

Angka 81 situs merupakan hasil inventarisasi timyang dipimpin Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pidie Jaya pascabencana. Berdasarkan penilaian awal, seluruh situs yang tersebar di delapan kecamatan terdampak itu membutuhkan penanganan serius.

Salah satunya adalah Masjid Madinah di Gampong Dayah Kruet, Kecamatan Meurah Dua. Masjid yang dibangun Teungku Japakeh sekitar tahun 1623 itu ikut rusak akibat bencana hidrometeorologi pada 26 November 2025.

“Kita membutuhkan dukungan pemerintah pusat, tenaga ahli, serta penanganan yang tepat sesuai kaidah pelestarian cagar budaya,” ujar Sibral.

Pemulihan Tak Boleh Lupakan Sejarah

Sibral menegaskan, rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Pidie Jaya tidak boleh hanya berfokus pada pemulihan permukiman dan ekonomi masyarakat. Penyelamatan peninggalan sejarah juga harus menjadi prioritas agar tidak hilang ditelan waktu.

“Jangan sampai kita sibuk membangun infrastruktur baru, tetapi membiarkan sejarah dan identitas daerah hilang akibat bencana. Warisan leluhur ini harus diselamatkan untuk generasi mendatang,” tegasnya.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
Edukasi

Jihan Kalila dan Tim Raih Juara II Festival Math Fair XIX 2026 HIMATIKA USK Banda Aceh

POPULARITAS.COM – Jihan Kalila bersama timnya dari SD Negeri 24 Banda Aceh...

EdukasiNews

Teuku Kamaruzzaman Kembali Pimpin IKAKUM USK

POPULARITAS.COM – Teuku Kamaruzzaman kembali terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Ikatan...

EdukasiNews

Riset Kolaboratif Uin Ar-Raniry Dorong Penguatan Ekosistem Wisata Halal Dan Pengembangan Pariwisata Aceh

POPULARITAS.COM – Tim peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh melaksanakan...

Edukasi

Asap Karhutla cemari udara di Aceh, Kadisdik : Sekolah bisa selenggarakan pendidikan jarak jauh

POPULARITAS.COM – Kurun waktu tiga hari terakhir, Aceh asap kebakaran hutan dan...

Exit mobile version