POPULARITAS.COM – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran yang dipicu teknologi kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Melihat kondisi tersebut, lebih dari 200 ekonom dunia mendesak pemerintah dan perusahaan teknologi untuk segera mengambil langkah mengantisipasi dampak AI terhadap lapangan kerja.
Desakan tersebut disampaikan melalui surat terbuka (open letter) yang dirilis kelompok bernama We Must Act Now, pada Senin (13/7/2026). Surat itu telah ditandatangani oleh lebih dari 200 ekonom, termasuk di dalamnya ada 16 peraih Nobel, salah satu pendiri perusahaan AI Anthropic Jack Clark, mantan CEO Google Eric Schmidt, serta kepala ekonom OpenAI dan Anthropic.
Adapun dalam surat tersebut, para ekonom menilai bahwa perkembangan AI yang pesat berpotensi mengubah perekonomian dunia secara besar-besaran dalam 10 tahun ke depan.
Mereka bahkan menyebut dampak teknologi ini bisa melampaui Revolusi Industri, yang umumnya berlangsung dalam waktu lama, tetapi ini terjadi dalam waktu singkat.
Di satu sisi, perkembangan AI memang dinilai dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Namun di sisi lain, teknologi tersebut juga berisiko menyebabkan hilangnya lapangan kerja dalam skala besar apabila tidak diantisipasi sejak awal.
“Para ekonom, pembuat kebijakan, dan pemimpin perusahaan teknologi harus bertindak sekarang untuk memahami dampak ekonomi dari AI transformatif, serta membangun insentif, pagar pengaman, dan institusi yang diperlukan,” demikian bunyi surat tersebut.
Dalam surat tersebut, para ekonom turut meminta agar perkembangan AI bisa lebih diarahkan agar dapat “melengkapi” peran manusia, alih-alih menggantikan sepenuhnya.
Mereka juga berharap supaya perkembangan teknologi AI dapat memberikan manfaat lebih banyak bagi masyarakat, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Mashable, Selasa (14/7/2026). Di Amerika Serikat (AS) sendiri, pemerintah negara bagian California mulai mengambil langkah untuk merespons kekhawatiran mengenai dampak AI terhadap lapangan kerja.
Bulan lalu, setelah Meta melakukan PHK terhadap sekitar 8.000 karyawan, Gubernur California Gavin Newsom mengumumkan bahwa pemerintah akan memantau dampak AI terhadap lapangan kerja melalui California AI-Unemployment Tracker
Kendati demikian, para ekonom yang menandatangani surat terbuka tadi menilai langkah tersebut masih belum cukup.
Salah satu penggagas kelompok We Must Act Now, Erik Brynjolfsson, menyebutkan kemampuan AI berkembang jauh lebih cepat dibandingkan pemahaman manusia terhadap dampak ekonominya.
Karena itu, menurut dia, kondisi tersebut justru menjadi peluang untuk mengarahkan AI agar dapat melengkapi manusia dan menciptakan manfaat yang lebih luas bagi banyak orang.
PHK akibat AI diprediksi terus bertambah
Kekhawatiran para ekonom soal perkembangan AI hadir bukan tanpa alasan. Dalam surat itu, mereka turut menyoroti dampak AI yang mulai mengubah dunia kerja, termasuk menggeser pekerja manusia.
Sebuah laporan yang dirilis pada akhir tahun 2025 mencatat sekitar 50.000 pekerjaan hilang akibat adopsi AI di sepanjang tahun.
Sementara pada 2026, sejumlah perusahaan teknologi, seperti Amazon, Atlassian, Block, Fiverr, Meta, Pinterest, dan Snap juga telah mengumumkan PHK seiring meningkatnya penggunaan AI.
Di sisi lain, hasil survei terhadap 12.000 eksekutif pada Mei 2026 menunjukkan 99 persen responden memperkirakan teknologi AI akan menyebabkan setidaknya pengurangan jumlah karyawan dalam dua tahun ke depan.


Leave a comment