POPULARITAS.COM – Angin laut berembus dari arah Selat Malaka, menyapu pepohonan dan perbukitan di kawasan timur Pulau Weh. Di antara bentang alam yang menyuguhkan pemandangan laut lepas, berdiri bangunan beton tua yang menyimpan kisah panjang tentang pendudukan Jepang, strategi pertahanan militer, dan perjalanan sejarah Kota Sabang pada masa Perang Dunia II.
Bangunan itu dikenal masyarakat sebagai Benteng Jepang Anoi Itam terletak di Ujong Kareung, Kecamatan Sukajaya, Kota Sabang. Wujudnya mungkin tidak semegah bangunan bersejarah di kota-kota besar, tetapi keberadaannya menyimpan cerita tentang masa ketika Sabang menjadi salah satu kawasan strategis dalam perebutan pengaruh militer di kawasan Asia Tenggara.
Di balik dinding beton yang menua, lorong-lorong pertahanan, dan sisa bangunan yang menghadap laut, terdapat jejak masa lalu yang patut dikenali para generasi sekarang. Benteng ini bukan sekadar bangunan tua yang menjadi latar berfoto bagi wisatawan, melainkan bagian dari warisan sejarah yang menghubungkan Sabang dengan dinamika Perang Asia Pasifik.
Kini, kawasan Benteng Anoi Itam menawarkan pengalaman wisata yang berbeda. Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati keindahan Pulau Weh, tetapi juga dapat menyelami kisah sejarah melalui peninggalan sejarah yang masih ada hingga sekarang.

Kota di Pulau Weh, Provinsi Aceh, ini berada di kawasan perairan yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Selat Malaka. Selat Malaka sejak lama menjadi jalur pelayaran penting bagi perdagangan internasional, mobilitas kapal, dan kepentingan militer berbagai negara.
Posisi tersebut membuat Sabang memiliki lokasi strategis, terutama pada masa perang dunia II ketika kawasan Asia Tenggara menjadi salah satu medan persaingan kekuatan militer.
Pada masa pendudukan Jepang, Pulau Weh dikembangkan sebagai bagian dari sistem pertahanan militer. Berbagai bangunan pertahanan didirikan untuk menghadapi kemungkinan serangan musuh dari laut, sekaligus mendukung kegiatan militer Jepang di kawasan Samudra Hindia dan Selat Malaka.
Bangunan pertahanan ini menjadi saksi bagaimana kondisi geografis Sabang dimanfaatkan dalam perencanaan militer. Perbukitan, tebing pantai, dan pandangan langsung ke perairan terbuka memberikan keuntungan strategis bagi pihak yang ingin mengawasi pergerakan kapal dari kejauhan.
Bagi tentara Jepang pada masa itu, penguasaan kawasan pesisir bukan hanya berkaitan dengan perlindungan wilayah, tetapi juga menyangkut kepentingan mengamankan jalur pelayaran dan mendukung operasi militer.
Benteng-benteng yang dibangun di kawasan Pulau Weh menjadi bagian dari sistem pertahanan yang saling melengkapi.
Karena itulah, ketika wisatawan berdiri di sekitar Benteng Anoi Itam, pemandangan laut yang terlihat indah di hadapan mereka sesungguhnya memiliki sisi sejarah yang jauh lebih kompleks. Perairan yang kini menjadi daya tarik wisata tersebut pernah menjadi bagian dari kawasan yang memiliki arti penting dalam strategi perang.
Jepang mendarat di Sabang Tahun 1942
Sejarah Benteng Anoi Itam tidak dapat dipisahkan dari kedatangan tentara Jepang ke Sabang pada 1942.
Dikuti dari publikasi sejarah Senandung Sabang yang tersedia melalui Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, disebutkan bahwa pada 12 Maret 1942 pasukan Jepang mendarat di Sabang melalui operasi militer berkode Operation T. Sabang kemudian berkembang menjadi pangkalan penting bagi aktivitas Angkatan Laut Jepang.
Peristiwa tersebut berlangsung ketika Jepang memperluas pengaruh militernya di Asia Tenggara. Penguasaan wilayah strategis diperlukan untuk menunjang pergerakan pasukan, penyediaan logistik, serta operasi laut.
Sabang mempunyai keunggulan karena letaknya berdekatan dengan jalur pelayaran internasional. Dalam situasi perang, pengawasan terhadap wilayah pesisir menjadi kebutuhan penting.
Tentara Jepang membangun berbagai fasilitas pertahanan, termasuk bunker, tempat perlindungan, dan posisi artileri. Benteng Anoi Itam menjadi salah satu bagian dari peninggalan tersebut.
Kompleks ini dibangun dengan mempertimbangkan kondisi geografis di sekitarnya. Posisi bangunan yang mengikuti kontur kawasan pesisir menunjukkan bagaimana bentang alam dimanfaatkan untuk mendukung pertahanan.
Namun, sejarah pendudukan Jepang tidak hanya berbicara tentang strategi militer dan pembangunan benteng. Periode tersebut juga merupakan bagian dari pengalaman pahit masyarakat di berbagai wilayah Indonesia akibat pendudukan, kerja paksa, keterbatasan hidup, serta tekanan pemerintahan militer.
Karena itu, keberadaan Benteng Anoi Itam sebaiknya dipahami secara menyeluruh. Bangunan tersebut bukan simbol untuk mengagungkan perang, melainkan peninggalan yang dapat membantu generasi sekarang mempelajari dampak konflik dan pentingnya menjaga perdamaian.
Melalui wisata sejarah, pengunjung dapat mengenali bagaimana Sabang pernah berada di tengah pusaran kepentingan militer internasional.
Enam Bangunan Pertahanan
Salah satu hal yang membuat Kompleks Benteng Anoi Itam menarik adalah karakter bangunannya yang tidak berdiri sebagai satu gedung besar saja.
Data cagar budaya Aceh menyebut kompleks tersebut terdiri atas enam benteng dengan ukuran berbeda yang tersusun mengikuti kontur tebing dan perbukitan pesisir, membentuk barikade pertahanan. Material yang digunakan meliputi beton cor, batu bata, dan besi penguat.
Dari sisi arsitektur, susunan bangunan tersebut memperlihatkan pendekatan pertahanan yang menyesuaikan diri dengan kondisi alam.
Sebagian struktur tampak menyatu dengan tanah dan lingkungan sekitarnya. Bentuknya berbeda dari bangunan modern yang dirancang untuk kenyamanan dan keindahan visual. Pada masa pembangunannya, fungsi utama benteng adalah melindungi personel dan persenjataan serta mendukung pertahanan wilayah.
Sisa-sisa bangunan yang masih dapat dilihat saat ini memberi gambaran tentang bagaimana sebuah kawasan pertahanan dibangun di tengah lingkungan pesisir.
Di Anoi Itam, pengunjung dapat melihat langsung bentuk bangunan, material konstruksi, dan hubungan antara posisi benteng dengan kondisi geografis sekitarnya.
Setiap sudut menghadirkan kesempatan untuk memahami sejarah karena tersimpan dalam bangunan, tanah, lanskap, dan peninggalan fisik yang masih dapat dijumpai.
Meriam tua dan kisah pertahanan pesisir
Salah satu unsur yang kerap menjadi perhatian pengunjung adalah peninggalan persenjataan yang berada di kawasan benteng.
Bagi wisatawan, meriam tua memiliki daya tarik tersendiri. Benda tersebut menjadi penghubung visual antara keadaan masa kini dan masa ketika kawasan ini digunakan untuk kepentingan militer.
Namun, di balik bentuknya, meriam tersebut mengingatkan pengunjung, apalagi saat pengunjung berdiri di dekatnya. Bisa membayangkan bagaimana sebuah posisi pertahanan ditempatkan di kawasan yang menghadap laut.
Seiring berjalannya waktu, fungsi kawasan Benteng Anoi Itam mengalami perubahan. Dari tempat yang berkaitan dengan pertahanan militer, kawasan tersebut kini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata sejarah di Kota Sabang. Perubahan ini menghadirkan perspektif baru dalam melihat peninggalan masa lalu.
Bangunan yang dahulu dibangun untuk kepentingan perang kini dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, penelitian, dan pengembangan pariwisata. Masyarakat dapat mengenal sejarah wilayahnya, sementara pengunjung memperoleh alternatif wisata selain pantai dan kegiatan bahari.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Sabang, Benteng Jepang Anoi Itam menawarkan pengalaman berbeda dari destinasi wisata bahari yang selama ini menjadi daya tarik utama Pulau Weh. Di tempat ini, perjalanan tidak hanya diisi dengan menikmati panorama laut, tetapi juga kesempatan mengenal jejak sejarah yang masih tersisa.
Afzal, salah satu wisatawan asal Sigli, Kabupaten Pidie, menilai keberadaan benteng bersejarah tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin mengenal lebih jauh sejarah Sabang.
Menurutnya, destinasi seperti Benteng Anoi Itam memberikan alternatif wisata yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga pengetahuan mengenai masa lalu.
“Sabang bukan hanya tentang pantai dan laut. Di sini juga ada peninggalan sejarah yang menarik untuk dikunjungi. Dengan melihat langsung benteng ini, kita bisa lebih mengenal cerita masa lalu dan memahami Sabang memiliki kekayaan sejarah yang patut dijaga,” kata Afzal
Afzal menilai, keberadaan situs sejarah seperti Benteng Anoi Itam perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda, agar peninggalan tersebut tidak hanya dikenal sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan sejarah Aceh.
Sementara Wisatawan lainnya Alviana dari Aceh Barat mengatakan wisata sejarah memiliki nilai tersendiri karena memberikan pengalaman perjalanan yang sekaligus menambah wawasan. Bangunan tua yang masih bertahan menjadi pengingat bahwa setiap daerah memiliki kisah masa lalu yang penting untuk diketahui.
“Tempat ini (Benteng Anoi Itam) menarik karena kita bisa menikmati pemandangan laut sekaligus melihat langsung peninggalan sejarah. Saya berharap benteng ini terus dirawat dan dipromosikan sehingga semakin banyak wisatawan yang tertarik datang untuk mengenal sejarah Sabang,” kata Alviana.
Kehadiran wisatawan seperti Afzal dan Alviana menunjukkan sudut pandang yang dapat memperkaya cerita mengenai potensi wisata sejarah di Sabang. Pengalaman pengunjung menjadi bagian penting dalam memperkenalkan Benteng Anoi Itam sebagai destinasi yang menggabungkan rekreasi, edukasi, dan pelestarian warisan budaya.
Leave a comment