POPULARITAS.COM – Kopi menjadi minuman favorit di banyak negara, bahkan sudah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.
Di Indonesia, selain dikenal banyak memilki lahan kebun kopi, yang hasil panen kopinya diekspor keluar negeri, ada juga kota yang dikenal dengan julukan Kota Seribu Warung Kopi, yakni Kota Banda Aceh.
Di Banda Aceh bisa ditemui warung kopi disepanjag jalan. Diwarung kopi tersebut tersedia kopi jenis Arabika dan Robusta.
Namun, tidak semua negara memiliki kebiasaan minum kopi yang tinggi.
Berbagai faktor memengaruhi rendahnya konsumsi kopi, mulai dari kuatnya budaya minum teh, tingginya orientasi ekspor, hingga harga kopi yang relatif mahal bagi masyarakat lokal.
Berdasarkan sejumlah data, ada beberapa negara dengan tingkat konsumsi kopi per kapita paling rendah di dunia.
Dilansir dari News18 (02/07/2026), berikut lima negara yang tercatat paling sedikit mengonsumsi kopi beserta alasan di balik rendahnya budaya ngopi di sana.
India
India merupakan salah satu produsen kopi terbesar di dunia dengan kopi robusta dan arabika yang berkualitas, tapi konsumsi kopi di India justru tergolong rendah.
Berdasarkan data Visual Capitalist dan Coffee Board of India, negara ini menjadi negara dengan konsumsi kopi paling sedikit di dunia rata-rata konsumsi kopi masyarakat India hanya sekitar 0,07 kg per kapita per tahun atau setara sekitar 0,02 cangkir per hari, jauh di bawah rata-rata global sebesar 1,3 kg.
Salah satu penyebab utamanya adalah kuatnya budaya minum teh atau ‘chai’ yang telah mengakar selama bertahun-tahun.
Konsumsi kopi juga tidak merata karena sekitar 75-80% penikmat kopi terkonsentrasi di wilayah India Selatan, sementara daerah lain lebih memilih teh sebagai minuman sehari-hari. Rata-rata penduduknya hanya mengonsumsi sekitar 365 cangkir kopi sepanjang hidup.
Uganda
Meski dikenal sebagai salah satu produsen kopi terbesar di Afrika, konsumsi kopi masyarakat Uganda masih tergolong rendah. Berdasarkan data United States Department of Agriculture (USDA) dan Uganda Coffee Development Authority (UCDA), rata-rata penduduk Uganda mengonsumsi sekitar 1.226 cangkir kopi sepanjang hidupnya.
Salah satu penyebabnya adalah budaya minum teh yang telah mengakar sejak masa kolonial Inggris. Selain itu, sebagian besar hasil panen kopi diprioritaskan untuk ekspor karena memberikan nilai ekonomi lebih tinggi.
Di sisi lain, terbatasnya industri pengolahan kopi lokal dan daya beli masyarakat membuat konsumsi kopi di dalam negeri belum berkembang secara luas.

Peru
Peru dikenal sebagai eksportir kopi organik terbesar di dunia, konsumsi kopi di Peru justru tergolong rendah. Rata-rata penduduknya hanya mengonsumsi sekitar 2.208 cangkir kopi sepanjang hidup.
Salah satu penyebab utamanya adalah sebagian besar hasil panen kopi, sekitar 94%, dialokasikan untuk pasar ekspor sehingga hanya sebagian kecil yang dinikmati di dalam negeri.
Konsumsi kopi per kapita masyarakat Peru juga hanya berkisar 0,65-1 kg per tahun, lebih rendah dibandingkan negara tetangganya. Menariknya, sekitar 75% konsumsi kopi domestik di Peru masih didominasi kopi instan, bukan kopi biji berkualitas tinggi yang diproduksi sendiri.
Afrika Selatan
Budaya ngopi di Afrika Selatan terus berkembang, akan tetapi konsumsi kopi di Afrika Selatan masih tergolong rendah.
Berdasarkan data dari Insight Survey dan industri komoditas internasional, rata-rata penduduknya hanya mengonsumsi sekitar 2.544 cangkir kopi sepanjang hidup.
Salah satu penyebabnya adalah kuatnya budaya minum teh, terutama teh rooibos yang menjadi minuman khas negara tersebut. Selain itu, sebagian besar masyarakat lebih memilih kopi instan atau campuran chicory yang harganya lebih terjangkau.
Sementara itu, kopi seduh dari biji segar atau specialty coffee masih relatif mahal karena banyak bergantung pada impor, sehingga belum menjadi pilihan utama bagi banyak konsumen.
Mesir
Meski memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat budaya kopi di dunia, konsumsi kopi di Mesir masih tergolong rendah. Rata-rata masyarakat Mesir hanya mengonsumsi sekitar 0,55 kg kopi per kapita per tahun atau sekitar 3.040 cangkir sepanjang hidup.
Salah satu penyebab utamanya adalah kuatnya budaya minum teh hitam dan teh herbal yang lebih populer sebagai minuman sehari-hari.
Meski begitu, konsumsi kafein di negara ini tetap tinggi karena masyarakat juga banyak mengonsumsi teh, minuman bersoda, dan minuman energi. Belakangan, kafe kekinian serta kopi bergaya Turki dan Arab juga mulai berkembang pesat di kota-kota besar seperti Kairo.
Leave a comment