POPULARITAS.COM – Kasus anak mengalami muntah, diare, atau ruam kulit setelah makan sering membuat orang tua panik. Tak jarang, kondisi tersebut langsung dianggap sebagai keracunan makanan, padahal bisa juga merupakan reaksi alergi.
Dokter Spesialis Anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Yogi Prawira, SpA, Subs ETIA(K) menekankan pentingnya orang tua memahami perbedaan keduanya.
Hal itu, untuk menghindari adanya kesalahan dalam membuat penanganan pada anak.
Beda keracunan dan alergi makanan pada anak
Menurut dr. Yogi, alergi makanan umumnya bersifat individual dan hanya muncul pada satu atau dua anak.
Sementara, jika bila terjadi secara serentak dan masal setelah mengonsumsi makanan yang sama, maka hal tersebut dapat dipastikan serentak.
Gejala keracunan makanan
Lebih lanjut, dr. Yogi menjelaskan keracunan makanan pada anak biasanya disebabkan oleh makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, virus, maupun racun tertentu. Beberapa bakteri yang sering jadi penyebab seperti Salmonella, CampylobacterE. coli, Listeria, hingga Clostridium botulinum.
Tak hanya itu, menurut dr. Yogi, ada beberapa gejala yang umum muncul saat anak mengalami keracunan makanan, antara lain: Mual dan muntah dalam waktu singkat setelah makan
Nyeri perut Diare, terkadang disertai darah Anak tampak lemas dan dehidrasi (mulut kering, haus berlebih, berkemih sedikit dan pekat, anak tampak lemas)
“Kalau keracunan, umumnya gejalanya muncul bersama-sama dalam kurun waktu berdekatan pada banyak anak yang makan makanan yang sama,” jelas dr. Yogi.
Gejala alergi makanan
Berbeda dengan keracunan, alergi makanan adalah reaksi sistem imun tubuh terhadap zat tertentu dalam makanan. Kondisi ini bisa muncul meski makanan yang dikonsumsi sebenarnya tidak berbahaya bagi orang lain.
Gejala alergi makanan pada anak antara lain: Ruam merah atau gatal pada kulit Bengkak di bibir, mata, atau wajah Muntah segera setelah makan Kadang disertai sesak napas pada reaksi berat (anafilaksis) “Pada alergi, gejalanya bisa berbeda-beda pada tiap anak dan tidak selalu terjadi pada semua yang mengonsumsi makanan tersebut,” ujar dr. Yogi.
Pertolongan pertama
Jika anak mengalami keracunan makanan, orang tua disarankan untuk: Mengistirahatkan anak agar tubuh fokus pada pemulihan. Berikan cairan sedikit-sedikit tapi sering, bisa berupa air putih atau oralit untuk mencegah dehidrasi. Tetap berikan makanan ringan setelah gejala muntah atau diare mereda, misalnya bubur, pisang, atau roti.
Hindari makanan pedas, asam, serta susu. Hindari obat penghenti diare tanpa anjuran dokter, karena bisa menahan bakteri atau racun di dalam tubuh.
Sementara itu, dr. Yogi menekankan agar orangtua segera membawa anak ke dokter bila muncul gejala berikut: Muntah tidak berhenti dan sulit minum. Diare berat atau disertai darah. Tanda dehidrasi tampak jelas. Demam tinggi lebih dari 38,5 derajat Celsius, atau berlangsung lebih dari 3 hari.
Pencegahan tetap yang utama
Dokter Yogi mengingatkan bahwa pencegahan jauh lebih penting, baik untuk keracunan maupun alergi makanan. Pastikan makanan anak diolah dengan higienis dan matang sempurna Simpan makanan dengan benar untuk mencegah kontaminasi Kenali riwayat alergi makanan anak dan hindari pemicunya
“Orang tua perlu membedakan mana gejala keracunan dan mana alergi, agar penanganan lebih cepat dan tepat,” tegas dr. Yogi.

Leave a comment