Home Hukum Bekas Walikota Lhokseumawe didakwa korupsi Rp44,9 miliar
HukumNews

Bekas Walikota Lhokseumawe didakwa korupsi Rp44,9 miliar

Share
Bekas Walikota Lhokseumawe didakwa korupsi Rp44,9 miliar
Terdakwa Suaidi Yahya, eks Wali Kota Lhokseumawe mengikuti persidangan perkara korupsi rumah sakit di Pengadilan Tipikor Banda Aceh, Senin (23/10/2023). ANTARA/M Haris SA
Share

POPULARITAS.COM – Bekas Walikota Lhokseumawe Suadi Yahya, didakwa telah melakukan tindak pidana korupsi dan rugikan negara senilai Rp44,9 miliar dalam kasus di RS Arun di kota tersebut.

Hal tersebut disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) saat bacakan berkas tuntutan dihadapan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Banda Aceh, Senin (23/10/2023) seperti diberitakan laman Antara.

Jaksa Safaruddin menyebutkan, akibat tindakan Suadi Yahya itu dalam pengelolaan RS Arun Lhokseumawe, negara telah dirugikan sebesar Rp44,9 miliar.

Terdakwa Suaidi Yahya hadir ke persidangan menggunakan kursi roda karena sedang sakit. Terdakwa hadir didampingi penasihat hukumnya T Fakhrial Dani, Syamsul Rizal, dan kawan-kawan.

JPU dalam dakwaannya menyatakan terdakwa selaku Wali Kota Lhokseumawe pada periode 2016 hingga 2022 mengalihkan kepemilikan aset negara berupa RS Arun menjadi milik Hariadi dan Junaidi Yahya dalam naungan PT RS Arun Lhokseumawe.

Hariadi yang didakwa dalam kasus yang sama, namun perkara terpisah, diangkat sebagai Direktur RS Arun oleh terdakwa Suaidi Yahya. Sedangkan Junaidi Yahya merupakan adik terdakwa.

JPU menyebutkan PT Rumah Sakit Arun Lhokseumawe bukan anak perusahaan PT Pembangunan Lhokseumawe, atau dengan kata lain PT RS Arun Lhokseumawe bukan badan usaha milik daerah. Padahal, RS Arun Lhokseumawe merupakan aset negara.

Dalam operasionalnya, RS Arun Lhokseumawe tidak menggunakan uang Hariadi dan Junaidi Yahya, tetapi menggunakan uang rumah sakit. Sebab ketika Pemerintah Kota Lhokseumawe mengambil rumah sakit tersebut, fasilitas kesehatan itu memiliki biaya operasional sendiri.

“Semua keuntungan rumah sakit tersebut dinikmati orang pribadi. Padahal rumah sakit tersebut merupakan aset negara. Akibat perbuatan tersebut, negara dirugikan miliaran rupiah,” kata JPU.

JPU menyebutkan berdasarkan audit Inspektorat Kota Lhokseumawe, kerugian negara yang ditimbulkan mencapai Rp44,9 miliar. Kerugian negara tersebut meliputi pembayaran gaji, tunjangan, dan lainnya yang tidak sah untuk Hariadi selaku direktur utama.

Usai mendengar dakwaan JPU, majelis hakim menanyakan apakah mengajukan nota pembelaan atau tidak. Namun, terdakwa melalui penasihat hukum menyatakan tidak mengajukan nota pembelaan.

Sementara itu, T Fakhrial Dani, penasihat hukum terdakwa Suaidi Yahya, memohon kepada majelis hakim mengalihkan status penahanan dari rutan menjadi tahanan rumah karena kondisi terdakwa sakit.

“Kami memohon pengalihan penahanan terdakwa dari rutan ke rumah karena klien kami sedang menjalani perawatan akibat sakit. Saat ini, klien kami masih dalam perawatan di rumah sakit,” kata T Fakhrial Dani.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

Mendagri Prihatin dengan OTT Kepala Daerah, Padahal Sudah Ikut Retret

POPULARITAS.COM – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengaku prihatin dengan fenomena...

NewsSosial dan Budaya

Kolaborasi Pemerintah Aceh, BPMA, dan Medco Tanam 1.000 Mangrove

POPULARITAS.COM – Pemerintah Aceh bersama Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) serta industri...

News

Samsat Banda Aceh : Seluruh Pelayanan Resmi Pajak  Dipastikan Gratis, Jangan Pakai Calo!

POPULARITAS.COM – Kepala Samsat Banda Aceh, Rahmat Syahreza, mengimbau seluruh masyarakat agar...

News

Bongkar Pasang Kepala SKPK Pidie oleh Sarjani

POPULARITAS.COM – Bupati Pidie, Sarjani Abdullah, merombak sejumlah Kepala Satuan Kerja Perangkat...

Exit mobile version