Home Kesehatan Cangkang Telur Retak, Masih Amankah Dikonsumsi?
KesehatanNews

Cangkang Telur Retak, Masih Amankah Dikonsumsi?

Share
Cangkang Telur Retak, Masih Amankah Dikonsumsi?. Poto : HO
Share

POPULARITAS.COM – Banyak orang tak memeriksa dengan detail kondisi cangkang saat membeli telur dalam jumlah cukup banyak.

Akibatnya, mereka mendapatkan beberapa telur sudah retak sesampainya di rumah. Cangkang telur retak bisa disebabkan karena kesalahan dalam proses penyimpanan, atau akibat benturan saat proses membawanya pulang.

Lantas, apakah telur yang cangkangnya sudah retak masih aman dimakan?

Sejumlah pakar keamanan pangan memberikan pandangan yang sedikit berbeda mengenai hal ini, mulai dari rekomendasi ketat untuk langsung membuangnya hingga opsi untuk memasaknya secara instan dengan syarat tertentu.

Pakar keamanan pangan asal Washington, Bill Marler, memberikan jawaban yang tegas mengenai kondisi ini. Menurutnya, tindakan terbaik yang harus dilakukan adalah menghindari konsumsi telur tersebut.

“Jawaban singkatnya adalah tidak. Telur yang retak harus dibuang,” kata Bill Marler, dilansir dari FoxNews . Marler menjelaskan bahwa cangkang telur berfungsi sebagai pelindung alami. Ketika pelindung tersebut rusak, bakteri berbahaya dari luar dapat dengan mudah menyusup ke dalam komponen telur. “Telur yang retak memungkinkan bakteri Salmonella masuk dan berkembang biak di dalam telur. Risikonya sangat signifikan.

Telur yang retak memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk teruji positif mengandung Salmonella dibandingkan dengan telur yang cangkangnya utuh, bahkan jika cangkang yang utuh tersebut kotor oleh kotoran hewan,” lanjut Marler.

Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), telur merupakan salah satu sumber utama infeksi bakteri Salmonella. CDC memperkirakan ada sekitar 1,35 juta kasus infeksi Salmonella yang terjadi setiap tahunnya. Karena risiko tinggi inilah, Marler menambahkan bahwa CDC merekomendasikan masyarakat untuk membuang telur yang retak atau kotor secara keseluruhan.

Gejala infeksi Salmonella sendiri meliputi demam, diare, dan kram perut. Meski umumnya bisa sembuh dengan sendirinya, infeksi ini dapat memicu komplikasi serius pada kelompok rentan, seperti orang dengan gangguan sistem imun, anak-anak, wanita hamil, dan lansia.

Di sisi lain, Donald Schaffner, seorang profesor ilmu pangan di Rutgers University, New Jersey, menjelaskan bahwa tingkat bahaya telur retak sebenarnya sangat tergantung pada ukuran kerusakan dan seberapa lama kondisi itu terjadi.

“Jika retakannya kecil dan baru saja terjadi, kemungkinan terjadinya pembusukan akibat bakteri akan kecil. Jika retakannya lebih besar atau sudah terjadi dalam waktu yang lama, kemungkinan bakteri telah masuk ke dalam telur dan mulai merusak akan jauh lebih besar,” ujar Schaffner.

Schaffner menyebutkan bahwa memasak telur hingga benar-benar matang sebenarnya dapat menghilangkan risiko bakteri Salmonella.

Mengolah telur yang baru saja retak menjadi hidangan yang matang sempurna adalah salah satu opsi yang bisa diambil. Bahkan, Schaffner mengaku terkadang memasak telur retak tersebut hingga matang di rumahnya untuk dijadikan makanan anjing peliharaannya. Meski demikian, Schaffner tetap memberikan catatan kecil mengenai potensi risiko lain yang mungkin terjadi akibat kontaminasi luar.

“Ada kemungkinan kecil bahwa bakteri patogen lain, selain Salmonella, dapat masuk ke dalam telur dan mulai tumbuh. Beberapa dari bakteri ini menghasilkan toksin (racun) yang tahan panas yang tidak akan hancur melalui proses memasak, tetapi menurut saya ini adalah kemungkinan yang sangat kecil terjadi,” jelas Schaffner.

Menariknya, bakteri Salmonella tidak hanya menempel dari luar cangkang setelah telur dikeluarkan.

Darin Detweiler, pakar kebijakan keamanan pangan sekaligus profesor di Northeastern University College of Professional Studies, mengungkapkan bahwa kontaminasi bisa terjadi sejak telur berada di dalam tubuh ayam.

“Salmonella terkadang dapat menginfeksi saluran reproduksi ayam petelur. Ketika hal itu terjadi, bakteri dapat mengendap di dalam telur sebelum cangkangnya terbentuk. Akibatnya, telur dengan cangkang yang bersih dan utuh pun berpotensi mengandung Salmonella,” ungkap Detweiler.

Untuk menjaga kesehatan keluarga dari ancaman keracunan makanan, Profesor Schaffner mengingatkan kembali empat praktik dasar keamanan pangan yang wajib diterapkan di rumah, yaitu: Clean (Bersihkan tangan dan permukaan) Separate (Pisahkan bahan makanan mentah dan matang) Cook (Masak hingga matang sempurna) Chill (Dinginkan atau simpan dalam kulkas dengan benar).

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

Pengusaha Muda Pimpin PKB di Pidie Jaya

POPULARITAS.COM – Pengusaha muda Pidie Jaya, Muhammad Ridha dipercayakan memimpin Partai Kebangkitan...

News

Diterpa Isu Terlibat  Dugaan Korupsi MBG, Dek Gam: Untuk Apa Saya Urus Dapur

POPULARITAS.COM –Anggota Komisi III DPR RI, Nazaruddin Dek Gam, membantah keterlibatannya dalam kasus...

News

Mualem dan SKK Migas Sepakat Revisi PoD Blok Andaman

POPULARITAS.COM – Gubenur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem) dan Kepala SKK Migas, Djoko...

News

Antisipasi Karhutla Aceh, BNPB Tabur Satu Ton Garam untuk Modifikasi Cuaca

POPULARITAS.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga saat ini terus melakukan...

Exit mobile version