Home Ekonomi Corona, BI Pastikan Likuiditas Bank Nasional Masih Cukup
EkonomiNews

Corona, BI Pastikan Likuiditas Bank Nasional Masih Cukup

Share
Cadangan devisi RI tembus Rp2.477 triliun
Bank Indonesia. (Foto: Reuters)
Share

JAKARTA (popularitas.com) – Bank Indonesia (BI) mengklaim likuiditas perbankan nasional masih cukup deras di tengah pandemi virus corona atau Covid-19. Hal ini tercermin dari aliran term repo dari BI ke bank yang baru mencapai Rp43,9 triliun per 4 Juni 2020.

Sebelumnya, bank sentral nasional mengeluarkan instrumen term repo untuk menjamin pemenuhan kebutuhan likuiditas bank. Mekanismenya, BI akan meminjamkan likuiditas kepada bank dengan jaminan Surat Berharga Negara (SBN) yang mereka miliki.

Berdasarkan data BI, jumlah term repo yang masuk mencapai Rp160 triliun pada Januari-April 2020. Lalu, bertambah lagi sekitar Rp60 triliun pada Mei 2020.

Namun, jumlah term repo itu kini tinggal Rp43,9 triliun dari Rp220 triliun yang sempat masuk ke BI. Artinya, bank sudah menebus kembali SBN mereka.

Hal ini menandakan bank memiliki kecukupan likuiditas untuk operasional di tengah pandemi corona. “Kenapa repo masih minim? Lah berarti kondisi likuiditas masih berlebih, jadi ngapain repo ke BI? Karena memang likuiditas bank berlebih, kami sudah quantitative easing juga,” ungkap Perry dalam konferensi pers virtual, Jumat, 5 Juni 2020.

Padahal sebelumnya, Perry mengestimasi bila kebutuhan likuiditas bank ‘seret’, maka SBN milik bank yang dapat direpokan ke BI bisa mencapai Rp594 triliun. BI pun sudah menyiapkan likuiditas sebesar itu untuk memenuhi kebutuhan bank.

“Jadi dari Rp594 triliun itu dikurangi saja Rp43,9 triliun, kurang lebih (Rp550,1 triliun) segitu yang belum direpokan,” katanya.

Di sisi lain, Perry turut menjawab pihak yang ragu bahwa likuiditas bank tidak cukup banyak karena dampak dukungan dari aliran dana bank tidak cukup besar di sektor riil. Menurutnya, hal ini sejatinya bisa saja terjadi bukan karena likuiditas bank tidak cukup, namun upaya yang dilakukan belum cukup cepat memberi dampak.

Upaya ini bisa saja berasal dari sektor lain, misal fiskal dan restrukturisasi kredit. Misalnya, bila likuiditas bank mencukupi, seharusnya aliran kredit tumbuh tinggi di masyarakat. Namun pada kenyataannya, pertumbuhan kredit bank hanya sekitar 5,73 persen pada April 2020.

“Kok likuiditas tinggi tapi tidak ngalir ke sektor riil? Ya itulah kenapa butuh stimulus fiskal karena BI tidak bisa langsung ke riil. Lalu makanya dipercepat lah restrukturisasi kredit oleh OJK, ini semua untuk memberi dampak ke sektor riil,” jelasnya.

Sebagai gambaran, stimulus fiskal yang diberikan pemerintah ke sektor riil adalah kebijakan pemotongan pajak bagi perusahaan hingga bantuan sosial bagi masyarakat. Sementara dari sisi industri bank dilakukan dengan kebijakan restrukturisasi kredit dan pinjaman likuiditas.

Sumber: CNN

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

BPK RI beri WTP ke-11 untuk Pemkab Pidie

POPULARITAS.COM – Pemkab Pidie raih opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas  laporan...

News

Terima WTP dari BPK RI, Bupati Abdya : Bukti tata kelola keuangan transparan

POPULARITAS.COM – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) kembali menorehkan prestasi membanggakan...

InternasionalNews

Demo Guru di Meksiko Jelang Piala Dunia: Urusan Kami Lebih Penting dari Sepak Bola

POPULARITAS.COM – Jelang dimulainya Piala Dunia 2026, situasi di ibu kota Meksiko...

News

BMKG: Aceh Masih Berpotensi Dilanda Hujan Lebat hingga Angin Kencang

POPULARITAS.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I...

Exit mobile version