Home Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Didong Gayo, merawat tradisi lestarikan sejarah
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh

Didong Gayo, merawat tradisi lestarikan sejarah

Share
kesenian Didong. (cyberspace)
Share

POPULARITAS.COM – Masyarakat Gayo di Aceh Tengah, tak bisa dilepaskan dari tradisi Didong. Seni pertunjukan tersebut, telah jadi akar budaya bagi suku disana. Bahkan, jika pertunjukan digelar, ribuan orang berjubel untuk menontonnya.

Ya, didong telah jadi ruh dan tradisi suku Gayo di Aceh Tengah. Kesenian ini dianggap usianya sama seperti umur suku itu sendiri.

Tidak ada sejarah yang pasti untuk menjelaskan asal muasal tradisi didong. Namun, beberapa pendapat mengatakan bahwa, umur seni tradisi itu sama tuanya dengan orang gayo itu sendiri.

Salah satu versi yang diyakini masyarakat Gayo di Aceh Tengah, didong berasal dari seni tari dan sastra, dilengkapi dengan beberapa jenis instrumen tradisional, yang dilakukan oleh Sengeda, anak Raja Linge XIII ketika membangunkan Gajah Putih yang merupakan penjelmaan adiknya dari pembaringannya ketika hendak menuju pusat Kerajaan Aceh di Bandar Aceh. 

Pengikut Sengeda yang mengikuti perjalanan Gajah Putih dari Negeri Linge ke ujung Aceh itu mengalunkan lagu dengan kata “enti dong, enti dong, enti dong” yang artinya jangan berhenti jalan terus. 

Awalnya didong hanya mengandalkan kekuatan tepukan tangan, tanpa alat bantu. Tapi kemudian tepukan bantal yang kini dipakai dalam didong, dimulai oleh Ceh To’et tahun 1964 di Bintang, dalam sebuah didong jalu. Toet, seniman yang cukup popular dan menasional kaya akan lirik didong dan inovatif. Toet-lah yang memulai penggunaan bantal untuk tepukan pada didong.    

Pementasan seni didong di Aceh Tengah. FOTO : Humas Aceh | HO popularitas.com

Seni didong, awalya digelar di bawah-bawah rumah-rumah panggung warga Gayo. Lantas kemudian berkembang diatas pentas dan terus mengalami berbagai perubahan pada seni pertunjukannya.

Kini, didong tidak hanya ditampilkan pada hari-hari besar agama islam, namun juga telah meluas pada kegiatan upacara adat, perkawinan, khitanan, panen raya, mendirikan rumah dan bahkan tradisi menyambut tamu.

Pertunjukan didong secara kolosal biasa dihelat pada acara Desember Kopi Gayo. Di event itu, ribuan orang bisa berhadir saksikan seni pertunjukan didong.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Dedy Yuswadi mengatakan, tradisi didong gayo bagian tak terpisahkan dari masyarakat di daerah itu. Bahkan, budaya itu jadi pemantik majunya sektor kepariwisitaan di kawasan itu.

Didong gayo dan berbagai destinasi wisata gayo adalah satu kesatuan kepariwisataan yang terus dikembangkan pihaknya. Berbagai promosi dan even kebudayaan juga kerap menampilkan seni didong. Hal tersebut dilakukan agar dunia makin mengenal secara luas tradisi masyarakat tersebut, tandasnya.

Disbudpar sendiri, pungkasnya, telah menggelar even yang menampilkan seni tradisi didong lewat even Pride of Gayo. acara tersebut digelar saban tahun sebagai cara untuk merawat dan melestarikan seni didong yang telah jadi bagian dari kehidupan masyarakat disana, pungkasnya.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh

Kadisbudpar Aceh : Warga antusias datang ke Aceh Ramadhan Festival 2026

POPULARITAS.COM – Sejak dibuka pada 1 Maret 2026, kegiatan Aceh Ramadhan Festival...

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh

Aceh Ramadhan Festival digelar 1-7 Maret 2026 di Masjid Raya Baiturrahman, catat jadwalnya

POPULARITAS.COM – Acara tahunan Aceh Ramadhan Festival tahun 2026, kembali digelar oleh...

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh

Kunjungan turis asing ke Aceh naik 33,15 persen

POPULARITAS.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat jumlah kunjungan wisatawan...

Exit mobile version