Home News Ernita ungkap peran perempuan dalam sistem adat Aceh melalui bukunya
News

Ernita ungkap peran perempuan dalam sistem adat Aceh melalui bukunya

Share
Ernita ungkap peran perempuan dalam sistem adat Aceh melalui bukunya
Ernita Dewi ungkap peran perempuan dalam sistem adat Aceh melalui bukunya
Share

POPULARITAS.COM  – Buku karangan Dekan FISIP UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Ernita Dewi yang berjudul ‘Peran Perempuan Dalam Sistem Adat Aceh’ dibedah di gedung Fakultas FISIP setempat, Jumat (19/8/2022).

Acara bedah buku yang dimoderatori Afrijal ini menghadirkan pembedah utama Dr. Nasriah, Kepala Pusat Studi Gender dan Anak UIN Ar-Raniry. Bedah buku tersebut juga dihadiri sejumlah dosen, advokat, mahasiswa pascasarjana dan FISIP, wartawan, dan lain sebagainya.

Ernita Dewi selaku penulis, dalam pengantar awalnya menyampaikan buku tersebut ditulis berdasarkan pengamatannya di mana kiprah kaum perempuan di Aceh saat ini masih kurang dilibatkan dalam sistem adat, padahal banyak kasus-kasus yang ditangani secara adat melibatkan langsung kalangan perempuan.

Dis ng itu, juga untuk dapat gambaran apa sebenarnya yang melatarbelakangi kaum perempuan di Aceh masih rendah keterlibatannya dalam sistem adat Aceh. Hari ini, kata Ernita, peran perempuan di Aceh dalam pemerintahan tingkat kabupaten dan provinsi juga masih rendah, khususnya keterwakilan perempuan di DPRK dan DPRA.

“Hal ini kiranya menjadi perhatian bersama sehingga kaum perempuan bisa terlibat aktif dalam berbagai tingkatan di pemerintahan. Perempuan jangan hanya diposisikan sebagai pihak yang hanya mengurusi rumah tangga tapi juga harus terlibat langsung dalam pengambilan kebijakan,” ucapnya.

Secara historis, lanjut Ernita Dewi, Aceh juga telah memberikan tempat yang sangat signifikan terhadap peran perempuan di ranah publik, meskipun kemudian partisipasi perempuan di ranah publik, termasuk adat, semakin berkurang.

Khusus dalam sistem adat Aceh, meskipun di regulasi yang mengharuskan adanya keterwakilan dua orang perempuan dalam kepengurusan Tuha Peut Gampong, realitasnya masih banyak gampong yang belum mengakomodir regulasi ini.

Dalam buku ‘Peran Perempuan Dalam Sistem Adat Aceh’ ditemukan fakta di lapangan masih banyak aparatur gampong yang belum menyepakati keterlibatan perempuan dalam sistem adat, antara lain faktor kodrat perempuan yang mestinya menjadi ibu rumah tangga, keraguan terhadap kemampuan perempuan yang dianggap tidak mampu menyelesaikan persoalan gampong.

“Dan anggapan bahwa perempuan terlalu banyak bicara, tidak dapat memegang rahasia. Sikap ini dinilai dapat memberikan dampak kurang baik dalam menyelesaikan masalah secara adat di tingkat gampong,” sebutnya.

Ernita Dewi juga menyebutkan bahwa kesuksesan perempuan untuk dapat menempati posisi strategis di desa baik sebagai keuchik ataupun tuha peut mesti didukung oleh tiga hal penting; yaitu tingkat pendidikan, kemampuan dalam bidang ekonomi, dan pengaruh ketokohan perempuan tersebut baik dari keluarga atau dari suaminya.

“Ketigs faktor ini sangat menentukan bagi seorang perempuan mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Jika perempuan memiliki modal ini, maka sistem adat akan memberikan tempat untuk mereka, dan kehadiran mereka dapat memberi pengaruh, terutama perjuangan mereka membela hak-hak perempuan,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ernita Dewi mengakui buku yang ditulisnya ini masih menyimpan banyak kekurangan. Karenanya ia mengharapkan saran dan masukan.

“Sangat penting dibedah sehingga kesalahan, kekurangan dan kekeliruan dapat terdeteksi,” pungkas Ernita.

Nasriah selaku pembedah utama menyampaikan buku ‘Peran Perempuan Dalam Sistem Adat Aceh’ yang ditulis Ernita Dewi sangat bagus dihadirkan ke publik sehingga ada gambaran bagaimana sesungguhnya peran dan keterlibatan perempuan di Aceh khususnya di desa-desa dalam pengambilan sebuah kebijakan serta dalam penyelesaian sengketa di tengah-tengah masyarakat itu sendiri.

Nasriah mengemukakan, berdasarkan telaahnya, ada beberapa kekurangan yang menurutnya mesti ditinjau kembali untuk penyempurnaan buku tersebut.

“Kekurangan dan kekeliruan ini wajar karena satu dan sebab lainnya, dan hampir semua buku yang ditulis oleh pengarangnya terdapat kekurangan pada tahap awalnya. Makanya perlu dibedah, sehingga terdeteksi kekurangan-kekurangan tersebut yang selanjutnya diperbaiki sebelum diluncurkan ke publik,” ujarnya.

Menyikapi penyampaian yang disampaikan pembedah utama ini, Ernita mengatakan akan meninjau kembali untuk perbaikan.

“Setelah perbaikan, rencananya buku ini akan kita luncurkan pada Oktober mendatang,” ujar Ernita di akhir acara bedah buku tersebut.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

BPK RI beri WTP ke-11 untuk Pemkab Pidie

POPULARITAS.COM – Pemkab Pidie raih opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas  laporan...

News

Terima WTP dari BPK RI, Bupati Abdya : Bukti tata kelola keuangan transparan

POPULARITAS.COM – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) kembali menorehkan prestasi membanggakan...

InternasionalNews

Demo Guru di Meksiko Jelang Piala Dunia: Urusan Kami Lebih Penting dari Sepak Bola

POPULARITAS.COM – Jelang dimulainya Piala Dunia 2026, situasi di ibu kota Meksiko...

News

BMKG: Aceh Masih Berpotensi Dilanda Hujan Lebat hingga Angin Kencang

POPULARITAS.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I...

Exit mobile version