Home Ekonomi Harga Jengkol di Aceh Anjlok hingga Rp 2.500 Per Kg
EkonomiNews

Harga Jengkol di Aceh Anjlok hingga Rp 2.500 Per Kg

Share
Share

POPULARITAS.COM – Harga komoditas jengkol di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh, anjlok tajam. Di tingkat petani, harga jual ke agen atau tengkulak saat ini hanya berkisar Rp 2.500 per kilogram, jauh di bawah harga normal pada musim panen sebelumnya.

Andika, petani jengkol asal Kecamatan Blangpidie, mengatakan penurunan harga terjadi akibat melemahnya permintaan pasar. Kondisi tersebut memaksa petani menjual hasil panen dengan harga murah agar tidak mengalami kerugian lebih besar.

“Benar, panen kali ini harga jengkol turun, bahkan hari ini saja agen hanya mau menampung sekitar Rp 2.500 per kilogram,” kata dia, Jumat (30/1/2026).

Menurut Andika, petani tidak memiliki banyak pilihan karena jengkol merupakan komoditas yang mudah rusak jika tidak segera dipasarkan. Sebelumnya, harga jengkol di Abdya sempat bertahan pada harga Rp 3.000 per kg.

“Daripada busuk dan membuat rugi, para petani mau tidak mau terpaksa harus menjual walaupun dengan harga murah,” jelasnya.

Ia menambahkan, penurunan harga juga dipicu oleh panen raya yang berlangsung serentak di berbagai daerah di Aceh. Namun, kondisi tahun ini dinilai jauh lebih buruk dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau tahun lalu tidak seperti ini turunnya walaupun memasuki panen raya. Bahkan kalau tahun sebelumnya paling murah harga jengkol turun hanya berkisar diharga Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per kilogram, akan tetapi tahun ini memang sangat drastis turun harga jengkol,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya, Hendri Yadi menjelaskan, selain karena faktor panen raya, turunnya harga jengkol juga dipengaruhi oleh bencana alam yang melanda sejumlah wilayah utama pemasok dan konsumen.

“Selama ini kan tiga provinsi ini paling banyak peminat jengkol. Jadi, kalau kita lihat faktor utama harga jengkol turun drastis dikarenakan tiga provinsi ini sedang dilanda bencana banjir dan longsor,” kata dia.

Ia menyebutkan, Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh selama ini menjadi pasar utama jengkol. Gangguan distribusi serta menurunnya aktivitas ekonomi akibat bencana menyebabkan serapan pasar melemah.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Hendri Yadi mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mengembangkan produk olahan berbahan dasar jengkol guna meningkatkan nilai tambah dan daya simpan.

“Selama ini kita hanya menjual jengkol mentah saja, sehingga kalau nantinya jengkol bisa diolah menjadi sebuah produk oleh pelaku UMKM tentu hasilnya makin meningkat dan petani juga untung karena hasil panen bisa ditampung oleh para pelaku UMKM,” kata dia.

Jengkol atau jering (Archidendron pauciflorum) yang dikembangkan di Kabupaten Abdya memiliki varietas jengkol paling enak dan telah bersertifikat unggul nasional sejak Februari 2021 dari Kementan.

 

 

 

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
InternasionalNews

Demo Guru di Meksiko Jelang Piala Dunia: Urusan Kami Lebih Penting dari Sepak Bola

POPULARITAS.COM – Jelang dimulainya Piala Dunia 2026, situasi di ibu kota Meksiko...

News

BMKG: Aceh Masih Berpotensi Dilanda Hujan Lebat hingga Angin Kencang

POPULARITAS.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I...

InternasionalNews

Kebakaran Hotel Tewaskan 21 Orang di India, Mayoritas Warga Asing

POPULARITAS.COM – Kebakaran hebat melanda sebuah hotel di New Delhi pada Rabu...

News

Dolar AS Menguat, Harga Obat Naik hingga 10 Persen

POPULARITAS.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan hingga...

Exit mobile version