POPULARITAS.COM – Harga minyak dunia merosot tajam pada penutupan perdagangan Jumat, 18 April 2026, setelah Iran mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz bagi kapal-kapal komersial selama masa gencatan senjata berlangsung.
Minyak mentah Brent tercatat turun 9,01 Dolar AS atau 9,07 persen ke level 90,38 Dolar AS per barel. Dalam sesi perdagangan, harga sempat menyentuh titik terendah di 83,85 Dolar AS. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) — patokan minyak Amerika Serikat — jatuh lebih dalam, yakni 10,48 Dolar AS atau 11,45 persen, menjadi 83,85 Dolar AS per barel dengan titik nadir di 80,56 Dolar AS.
Penurunan ini mencerminkan meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global yang sebelumnya membayangi kawasan Teluk.
Dikutip dari Reuters, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyatakan bahwa seluruh kapal komersial diizinkan melintas di Selat Hormuz selama periode gencatan senjata, meski tetap diwajibkan berkoordinasi dengan Korps Garda Revolusi Iran. Data pelacakan kapal menunjukkan sekitar 20 kapal mulai bergerak keluar dari Teluk, sinyal bahwa aktivitas pelayaran perlahan pulih.
Di jalur diplomasi, perkembangan positif turut menekan harga minyak lebih jauh. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut kedua negara “sangat dekat” untuk mencapai kesepakatan. AS juga dikabarkan berencana mengambil uranium yang telah diperkaya dari Iran sebagai bagian dari proses negosiasi. Di sisi lain, Iran disebut menawarkan komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun.
Namun, situasi di lapangan belum sepenuhnya kondusif. Seorang pejabat AS menegaskan bahwa blokade militer terhadap Iran masih tetap berlaku dengan melibatkan lebih dari 10.000 personel. Para analis memperingatkan, risiko gangguan di Selat Hormuz belum sepenuhnya hilang — terutama jika negosiasi nuklir dan pencabutan sanksi menemui jalan buntu.
Dari sisi pasokan regional, pasar Eropa diperkirakan masih menghadapi kondisi ketat dalam waktu dekat. Pengiriman minyak dari kawasan Teluk ke Rotterdam membutuhkan waktu sekitar tiga minggu, sehingga dampak normalisasi jalur pelayaran belum akan langsung terasa.
Sentimen positif pasar juga ditopang oleh faktor lain. Gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel turut meredam ketegangan geopolitik di kawasan. Selain itu, laporan Baker Hughes mengungkapkan jumlah rig minyak dan gas aktif di AS kembali berkurang untuk minggu kedua berturut-turut, menambah tekanan pada harga dari sisi permintaan. (hsn)
Sumber: rmol.id

Leave a comment