POPULARITAS.COM –Harga minyak nilam asal Aceh kembali berfluktuasi setelah mitra dagang utama di Prancis mengubah standar operasional pembelian. Kini, pasar Eropa hanya menerima minyak nilam dengan kadar patchouli alcohol (PA) minimal 30 persen, sehingga menekan harga di tingkat petani.
Kepala Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (USK), Syaifullah Muhammad, mengatakan perubahan ini membuat sebagian besar produsen nilam Aceh kesulitan memenuhi standar baru tersebut. Prancis kini banyak menerima minyak dengan kadar alkohol di bawah 30 persen, tapi hanya untuk proses uji, bukan pembelian.
“Jadi kalau tidak sampai 30 persen, mereka tidak beli,” kata Syaifullah, Minggu (5/10/2025).
Syaifullah menjelaskan, sejak 2021 ARC USK menjadi integrator industri nilam Aceh melalui kemitraan dengan PT Yukrin, eksportir yang telah melakukan 37 kali pengiriman ke Prancis, tujuh di antaranya sejak tiga tahun terakhir.
“Lima kali diantaranya bahkan dikirim lewat Garuda Indonesia,” ujarnya.
Namun, sejak Prancis menerapkan SOP baru dalam pengujian minyak nilam dengan sistem penggabungan 200 kilogram minyak sebelum disampling mitra di Aceh harus menyesuaikan diri.
“Ini agak menyulitkan, karena kita butuh fasilitas blending besar di Aceh agar kadar PA bisa disesuaikan sesuai permintaan pasar,” ucapnya.
Saat ini, kata Syaifullah, minyak nilam dengan kadar PA di atas 30 persen masih dihargai lebih dari Rp1 juta per kilogram, sementara yang di bawah 30 persen hanya dibeli di kisaran Rp800–900 ribu, bahkan di Medan turun hingga Rp700 ribu per kilogram.
“Padahal angka Rp800 ribu itu sudah bagus dibanding dulu yang hanya Rp350 ribu, tapi tetap saja ini tantangan besar bagi petani,” ujarnya.
Ia menyebut harga minyak nilam internasional sempat mencapai 100 dolar AS per kilogram untuk kualitas terbaik, namun bagi eksportir yang menerima minyak di bawah standar, diperlukan biaya tambahan untuk proses lanjutan agar memenuhi spesifikasi pasar global.
“Itu sebabnya harga di tingkat petani tidak bisa disamakan, karena eksportir masih menanggung biaya ekstra,” kata lnya.
Meski dihadapkan pada dinamika pasar yang semakin ketat, Syaifullah menyebutkan pihaknya masih berupaya mempertahankan kemitraan dengan pembeli Prancis. “Kita terus bernegosiasi agar harga di atas satu juta rupiah tetap bisa dipertahankan,” pungkasnya.

Leave a comment