POPULARITAS.COM – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyatakan baru sekitar 25% sekolah di Indonesia yang telah mengajarkan koding dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai mata pelajaran pilihan.
“Dalam data kami, baru ada 25% sekolah yang mengajarkan koding dan AI,” kata Abdul Mu’ti saat memaparkan kebijakan peningkatan mutu pendidikan dasar dan menengah dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (2/10/2026) malam.
Abdul Mu’ti menjelaskan, Kemendikdasmen membuka kesempatan pembelajaran koding dan AI mulai kelas 5 sekolah dasar (SD) hingga sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA). Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperluas pengenalan teknologi digital dan kecerdasan buatan kepada murid sejak pendidikan dasar.
Namun, pelaksanaan pembelajaran koding dan AI membutuhkan kesiapan guru. Salah satunya melalui pelatihan agar tenaga pendidik mampu mengajarkan materi sesuai dengan jenjang pendidikan.
Menurut Abdul Mu’ti, peningkatan kualitas guru menjadi salah satu faktor penting dalam menjalankan berbagai kebijakan prioritas Kemendikdasmen. Karena itu, Kemendikdasmen membutuhkan dukungan perguruan tinggi untuk memperkuat kompetensi tenaga pendidik melalui berbagai program pelatihan.
“Kami ingin mendapatkan dukungan dari Bapak, Ibu sekalian, pimpinan perguruan tinggi agar guru kami lebih berkualitas. Oleh karena itu, berbagai pelatihan tentu harus banyak kita laksanakan,” ujarnya di hadapan rektor dan dosen dari berbagai universitas di Indonesia.
Selain koding dan AI, Kemendikdasmen juga memprioritaskan pengembangan STEM, yakni sains, teknologi, teknik, dan matematika. Kebijakan tersebut ditujukan untuk meningkatkan minat murid terhadap bidang-bidang yang dibutuhkan dalam pengembangan sumber daya manusia berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Abdul Mu’ti mengatakan pemerintah mengembangkan pendekatan STEM 5M, yaitu mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful. Pendekatan tersebut diharapkan membuat pembelajaran sains dan matematika lebih mudah dipahami sehingga tidak dianggap sebagai bidang yang menakutkan oleh murid.
Kemendikdasmen juga menjalankan kebijakan pembelajaran mendalam (deep learning) serta penguatan pendidikan karakter melalui bimbingan konseling. Selain itu, Bahasa Inggris direncanakan menjadi mata pelajaran wajib mulai kelas 3 SD pada tahun ajaran 2027/2028.
Abdul Mu’ti menekankan, peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilakukan secara terpisah antara pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Menurut dia, ketiga jenjang pendidikan tersebut perlu membangun ekosistem yang saling memperkuat, termasuk melalui peningkatan kualitas guru dan pembelajaran di kelas.


Leave a comment