Home News Kisah Sim Wong Hoo, Bocah Kampung yang Jadi Miliarder Teknologi Singapura
NewsTeknologi

Kisah Sim Wong Hoo, Bocah Kampung yang Jadi Miliarder Teknologi Singapura

Share
Sim Wong Hoo Pendiri Creative Technology lewat produk Sound Blaster. Foto : HO | popularitas.com
Share

POPULARITAS.COM – Sim Wong Hoo seorang anak yang tumbuh dari keluarga sederhana di sebuah kampung di Singapura hingga menjadi salah satu pelopor teknologi paling berpengaruh di negara tersebut.

Pendiri Creative Technology itu kemudian dikenal dunia lewat produk Sound Blaster dan sempat menantang dominasi Apple di industri musik digital.

Kisah hidup Sim kembali menjadi sorotan setelah terbit buku biografi berjudul Sim Wong Hoo: The Light We Remember. Buku tersebut mengungkap perjalanan Sim dari anak yang membuat sendiri mainan karena keterbatasan ekonomi hingga membangun perusahaan teknologi yang mampu bersaing di pasar global.

Sim meninggal dunia pada 4 Januari 2023 dalam usia 67 tahun. Dia dikenal sebagai salah satu pelopor teknologi Singapura setelah membawa Creative Technology menjadi perusahaan elektronik konsumen yang dikenal secara global.

Produk yang paling melekat dengan namanya adalah Sound Blaster yang diluncurkan pada 1989. Kartu suara tersebut mengubah kemampuan audio komputer pribadi (PC) yang saat itu masih terbatas sehingga dapat menghasilkan musik, efek suara, dan suara manusia.

Sound Blaster kemudian menjadi standar de facto untuk audio PC ketika industri komputer berkembang pesat.

James Chan, mengatakan pengaruh Sim tetap terasa meskipun masa kejayaan Creative telah berlalu.

“Produk dan bisnisnya yang mencetak rekor dunia pada masa kejayaannya tetap tercatat dalam sejarah teknologi dan terus menginspirasi generasi pengusaha berikutnya di negara kami,” kata Chan kepada Channel News Asia pada 2023.

Managing Director perusahaan modal ventura teknologi Trive, Christopher Quek, juga menilai Sim merupakan salah satu pelopor industri perusahaan rintisan teknologi Singapura.

“Dia adalah pelopor industri perusahaan rintisan teknologi. Sejumlah warga Singapura yang sukses di industri teknologi mengakui dirinya sebagai inspirasi,” ujar Quek.

Dari Bocah Kampung Menjadi Miliarder

Sim lahir di Singapura pada 1955 dan tumbuh sebagai satu dari 12 bersaudara di Yeshanwei, sebuah desa di kawasan Bukit Panjang.

Keluarga Sim hidup dalam keterbatasan ekonomi. Berdasarkan biografinya yang dikutip The Straits Times, beberapa anak dalam keluarga tersebut terkadang harus berbagi tempat tidur yang dibuat dari papan kayu yang diletakkan di atas batu bata.

Setelah ayahnya meninggal ketika Sim masih kecil, ibunya harus menghidupi keluarga besar tersebut dengan bertani dan menjual hasil pertanian.

Di luar sekolah, Sim membantu mencabuti rumput, memotong rumput untuk kelinci, menyiapkan kelapa, hingga menjual telur.

Keterbatasan ekonomi mendorong Sim untuk berkreasi. Dalam bukunya yang terbit pada 1999, Chaotic Thoughts From the Old Millennium, dia menggambarkan dirinya sebagai anak yang “aneh” karena membuat sendiri mainan dan permainan papan yang tidak mampu dibelinya.

Sim Wong Hoo

Ketertarikannya terhadap musik bermula ketika salah satu kakaknya memberikan harmonika saat dia berusia sekitar 11 tahun. Minat tersebut kemudian memengaruhi perjalanan kariernya di bidang teknik.

Sim bergabung dengan kelompok harmonika saat menempuh pendidikan teknik listrik dan elektronika di Ngee Ann Technical College, yang kini bernama Ngee Ann Polytechnic.

“Lingkungan desa memberikan lahan subur bagi kreativitas, dan Klub Harmonika (Ngee Ann) menanam benih pertama Creative dalam diri saya,” tulis Sim.

Setelah lulus pada 1975, Sim mendirikan Creative Technology bersama teman masa kecil sekaligus teman sekolahnya, Ng Kai Wa, pada 1981.

Perusahaan tersebut awalnya merupakan toko kecil yang menyediakan jasa perbaikan komputer. Selama beberapa tahun, Sim berusaha mendapatkan pijakan di pasar PC yang saat itu sedang berkembang.

Dia mengembangkan komputer Cubic 99 dan Cubic CT. Namun, kedua produk tersebut belum mampu menjadi terobosan yang diharapkannya.

Peruntungan Sim berubah setelah memusatkan perhatian pada teknologi audio. Pada 1987, timnya mengembangkan Creative Music System yang menjadi pendahulu Sound Blaster.

Setelah yakin dengan potensi produk tersebut, Sim pindah ke Amerika Serikat (AS) pada tahun berikutnya. Dia bertekad tidak kembali sebelum berhasil menjual 20.000 unit dan target tersebut akhirnya tercapai.

Creative kemudian memperkenalkan Sound Blaster dalam konvensi komputer Comdex di Las Vegas pada 1989. Produk tersebut memberikan kemampuan audio yang jauh lebih baik kepada PC dan menjadi populer, terutama di kalangan pemain gim.

Menurut The Wall Street Journal, stan Creative saat itu begitu ramai hingga penyanyi Michael Jackson yang datang tanpa pemberitahuan ikut melihat produk tersebut dan berada di sana selama hampir 30 menit. “Sound Blaster menggemparkan dunia,” tulis Sim kemudian.

Pada akhir 1990, Sound Blaster menjadi produk tambahan PC dengan penjualan tertinggi di dunia. Pendapatan Creative melonjak dari US$ 5,4 juta pada 1989 menjadi US$ 658 juta pada 1994.

Pada 1992, Creative menjadi perusahaan Singapura pertama yang melantai di Nasdaq. Dua tahun kemudian, perusahaan tersebut juga tercatat di bursa Singapura dan pendapatannya melampaui US$ 1,2 miliar pada 1995.

Pada 2000, Sim yang saat itu berusia 45 tahun menjadi miliarder termuda di Singapura.

Creative akhirnya kehilangan sebagian besar dominasinya setelah teknologi audio mulai terintegrasi ke dalam papan induk komputer dan telepon pintar mengubah industri elektronik konsumen.

Meski demikian, Sim terus mengembangkan teknologi audio. Salah satu proyek besar terakhirnya adalah Super X-Fi, teknologi audio komputasional yang dirancang untuk menciptakan kembali pengalaman mendengarkan suara dari sejumlah pengeras suara melalui headphone.

Sim menyebut teknologi tersebut sebagai “hadiah untuk umat manusia”, menurut The Business Times.

Creative menyatakan teknologi tersebut dikembangkan selama sekitar 20 tahun dengan biaya penelitian dan pengembangan lebih dari US$ 100 juta. Produk yang menggunakan teknologi tersebut memenangkan 15 penghargaan dalam Consumer Electronics Show 2019.

Sim tetap terlibat erat dalam Creative hingga meninggal dunia. Perusahaan mengatakan Sim menghabiskan malam terakhirnya dalam diskusi panjang dengan tim teknik dan dijadwalkan bertemu tim penjualan daring pada hari berikutnya.

Mantan Menteri Luar Negeri Singapura George Yeo mengenang Sim sebagai sosok yang selalu memiliki gagasan baru.

 

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

Picu Protes Negara Tetangga, Asap Karhutla Didesak Menjadi Status Bencana Nasional

POPULARITAS.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan memicu kabut...

News

Komunitas Bandara SIM Kirim Bantuan untuk Korban Gempa NTT

POPULARITAS.COM – Komunitas Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda Blang Bintang Aceh Besar...

News

Kodam Iskandar Muda Hadirkan Museum di Banda Aceh

POPULARITAS.COM – Panglima Kodam Iskandar Muda (Pangdam IM) Mayor Jenderal TNI Joko...

News

Bubur Ayam Indonesia Jadi Bubur Terbaik di Dunia, Kalahkan Polenta Khas Italia

POPULARITAS.COM – Situs Taste Atlas memperbarui daftar peringkat bubur dengan penilaian terbaik...

Exit mobile version