POPULARITAS.COM – Puluhan warga terdampak banjir di Desa Terutung Seprai, Kecamatan Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, masih menghadapi keterbatasan tempat berlindung meski air mulai surut. Sebagian keluarga memilih mengungsi di tenda yang bocor, sementara lainnya tidur di teras rumah penduduk untuk menghindari hujan dan udara dingin.
Hujan yang terus mengguyur wilayah tersebut membuat kondisi pengungsian semakin sulit. Pada Minggu (11/10/2026) malam, sejumlah pengungsi dilaporkan tidak dapat beristirahat dengan nyaman karena air hujan masuk melalui atap tenda.
Kondisi itu turut dialami Salihin bersama keluarganya. Mereka terpaksa membentangkan alas seadanya dan menggunakan kelambu lama untuk beristirahat sekaligus menghindari gigitan nyamuk.
“Kami tidak bisa tidur di tenda pengungsian. Kondisi atap yang bocor membuat kami kedinginan sehingga untuk perlindungan harus menumpang di teras rumah penduduk,” ungkap Salihin.
Bagi Salihin dan keluarga, tempat berlindung yang layak menjadi kebutuhan mendesak selama masa pengungsian. Tenda yang seharusnya memberikan perlindungan dari hujan justru tidak mampu menahan air, sehingga mereka harus mencari tempat lain untuk beristirahat.
Selain menghadapi keterbatasan tempat tinggal sementara, warga juga kehilangan harta benda akibat banjir. Sebanyak 10 keluarga yang mengungsi dilaporkan mengalami kesulitan setelah barang-barang milik mereka terendam dan terseret arus.
“Tidak ada barang yang terselamatkan, baju serta beras semua terendam dan terseret air,” kata Salihin.
Kehilangan pakaian dan persediaan makanan membuat kebutuhan dasar para pengungsi semakin mendesak. Warga membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama belum dapat kembali menjalani aktivitas secara normal.
Di tengah keterbatasan tersebut, makanan seadanya menjadi penopang sementara bagi keluarga yang mengungsi. Bungkusan nasi dan lauk sederhana terlihat tersedia untuk membantu memenuhi kebutuhan makan para korban banjir.
Warga terdampak berharap pemerintah dan para dermawan dapat memberikan bantuan berupa pakaian, bahan pangan, serta kebutuhan dasar lainnya. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban keluarga yang kehilangan barang-barang akibat banjir.
“Kami berharap ada bantuan sandang dan pangan dari dermawan serta pemerintah agar dapat membantu sedikit beban korban,” tuturnya.
Meski air mulai surut, kondisi para pengungsi menunjukkan bahwa kebutuhan penanganan bencana tidak berhenti ketika genangan berkurang. Tempat berlindung yang aman, makanan, pakaian, dan perlengkapan dasar tetap diperlukan selama warga belum dapat kembali ke rumah atau memulihkan harta benda mereka.
Kondisi tenda pengungsian yang bocor juga menjadi perhatian agar warga dapat beristirahat dengan lebih aman dan nyaman, terutama ketika hujan masih mengguyur wilayah Aceh Tenggara.
Kejadian serupa juga dilaporkan di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh. Hujan berintensitas tinggi dalam durasi panjang sejak Jumat (9/10/2026) memicu banjir dan tanah longsor di tiga kecamatan, yakni Ketambe, Lawe Bulan, dan Babussalam. Wilayah terdampak meliputi Desa Kati Maju, Desa Pulonas Baru, dan Desa Pulo Latong.
Kejadian tersebut turut berdampak pada infrastruktur. Ruas jalan Kutacane–Blangkejeren tertutup material longsor sehingga menghambat akses transportasi. Selain itu, satu unit tanggul dilaporkan jebol dan bangunan pengambilan air untuk Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Lawe Harum milik PDAM Tirta Agara dilaporkan hanyut.
Untuk menangani dampak tersebut, BPBD Kabupaten Aceh Tenggara berkoordinasi dengan instansi terkait dan melakukan asesmen guna mengidentifikasi kondisi lapangan serta kebutuhan penanganan. BPBD juga mengerahkan satu unit ekskavator untuk membersihkan material longsor yang menutup badan jalan.

Sementara itu, banjir dan tanah longsor jyga terjadi di Kabupaten Gayo Lues sejak Jumat (9/10/2026). Hujan berintensitas tinggi memicu kejadian yang berdampak pada dua kecamatan, yakni Blangkejeren dan Dabun Gelang. Berdasarkan laporan sementara, satu kepala keluarga terdampak, sedangkan pendataan kerusakan dan dampak lainnya masih berlangsung.
Di Kecamatan Blangkejeren, banjir dan tanah longsor berdampak pada Desa Kala Pinang dan Desa Leme. Sementara itu, di Kecamatan Dabun Gelang, dampak kejadian dilaporkan terjadi di Desa Kendawi.
Dari sisi kerusakan, satu unit rumah dan satu unit jembatan dilaporkan terdampak. Adapun dampak terhadap lahan persawahan dan tiga akses jalan masih dalam pendataan. Selain itu, Jalan Nasional lintas Blangkejeren–Takengon ditutup total akibat tertutup material longsor. Kondisi ini menyebabkan pemulihan akses jalan menjadi salah satu kebutuhan penanganan di wilayah tersebut.
BPBD Kabupaten Gayo Lues berkoordinasi dengan instansi terkait dan melakukan asesmen untuk mengidentifikasi dampak serta kebutuhan penanganan. Tim gabungan yang terdiri atas BPBD, PUPR/HK, dan instansi terkait juga mengerahkan satu unit alat berat jenis ekskavator merek Komatsu untuk mendukung penanganan material banjir dan tanah longsor.
Berdasarkan kondisi terakhir pada Sabtu (10/10), air dilaporkan telah surut. Namun, pembersihan sisa material banjir dan longsor masih berlangsung dengan melibatkan instansi terkait dan masyarakat. BPBD Kabupaten Gayo Lues terus memantau perkembangan situasi dan bersiaga selama 24 jam untuk mengantisipasi kemungkinan dampak lanjutan.
Leave a comment