POPULARITAS.COM – Dulu, sajian khas Aceh ini jadi salah satu strategi unik raja untuk mempererat persatuan masyarakat. Dimasa kesultanan Aceh dulu, raja sering menggelar kenduri kuah belangong. Acara makan bersama ini cukup istimewa bagi masyarakat lantaran harus memasak hidangan secara bersama-sama dengan penuh rasa sosial.
Kuah Beulangong cukup melekat di lidah dan selera masyarakat Aceh hingga kini. Bedanya, saat ini, kuliner yang paling digandrungi warga dari berbagai lapisan ini, bisa dinikmati di hari biasa. Masyarakat kerap menyantap masakan satu ini meski tidak dalam rangka merayakan hari besar Islam seperti zaman dulu.
Dulu, kari asal Aceh satu ini jadi primadona di hari perayaan tertentu. Namun sekarang, asap dari kuah beulangong saban hari mengepul di berbagai rumah makan khas Aceh yang dapat dengan mudah ditemui oleh masyarakat.
Salah satunya ialah warung makan Cut Mun. spot makan siang favorit dosen hingga mahasiswa dari dua universitas terbesar di Aceh. Yakni Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Dan Universitas Syiah Kuala (USK).

Berdiri sejak 2009 silam, warung makan Cut Mun jadi saksi betapa ramainya peminat kuliner satu ini. bukan hanya masyarakat Aceh, wisatawan, bahkan pejabat dari Jakarta yang berkunjung ke aceh menyinggahi tempat ini untuk merasakan kenikmatan racikan gulai daging kambing khas Aceh ini.
18 hingga 25 Kilo daging kambing diolah menjadi kuah beulangong tiap harinya, oleh Nasri, pemilik Warung Makan Cut Mun. Daging pilihan yang jadi bahan dasar masakan ini juga merupakan hasil perternakan mandiri yang dikelola oleh pemilik warung makan Cut Mun.
“Kuah beulangong bagi orang Aceh itu beda, gak pernah bosen kita makan. Saya setiap hari makan, tapi gak pernah bosan. Begitu khasnya kuah ini,” Ujar Nasri, pemilik warung makan khas Aceh Cut Mun yang berlokasi di Lamgugop, Banda Aceh.
Bagi Nasri, kuah beulangong bukan hanya kuliner yang sarat akan sejarah Aceh. Melainkan juga perjalanan hidup keluarga dan warisan yang penuh kenangan. Sejak kecil, Nasri sudah terbiasa dengan bumbu-bumbu dapur. ia sering membantu ayahnya memasak kuah beulangong untuk dijual di warung makan milik keluarga yang terletak di ulee kareng, Banda Aceh.
Ada satu hal yang membedakan kuah beulangong milik Nasri. hal itu terletak di metode penggilingan bumbu. Ia masih mempertahankan menggiling bumbu menggunakan batu Alih-alih menggunakan teknologi blender. Ia percaya, hal tersebut sangat berpengaruh pada rasa dan tekstur daging.
“Untuk bumbu, kami masih menggunakan batu dalam menggiling. Itu yang membuat kami berbeda,” sebut Nasri saat di wawancarai di warungnya, (25/11/2025).
Tiap hari, asap dari kuah beulangong mengepul di warung Nasri sejak pukul sepuluh pagi. Warna coklat kemerahan terpatri jelas di kuali besar yang terletak di bagian depan rumah makan Cek Mun milik Nasri. Potongan daging dan nangka ikut timbul meletup-letup di dalam sana.
“Kuah ini kami jual per porsi dengan harga tiga puluh ribu rupiah. Selain itu, kami juga menjual berbagai macam makanan khas Aceh lainnya, seperti engkot paya, asam boh limeng, keumamah dan lainnya,” jelas pria berumur 50 tahun ini.
Hampir genap 17 tahun warungnya berdiri, Nasri memiliki pelanggan tetap dari berbagai instansi pemerintah khususnya di Banda Aceh.
“Dulu, kuah beulangong dikenal sebagai peunajoh raja. Sekarang gak mesti raja yang makan. Masyarakat, dosen, rektor, bahkan menteri pun makan di sini,” pungkas Nasri.
Leave a comment