POPULARITAS.COM – Buku Biografi Firli Bahuri berjudul ‘Anak Dusun Menjaring Impian’, resmi diluncurkan oleh mantan ketua KPK itu, Sabtu 13 Desember 2025 di Sentul, Bogor.
Buku setebal 500 halaman itu, diluncurkan bertepatan dengan momen 30 tahun perayaan pernikah Firli Bahuri dan istrinya. Beberapa teman dekat mantan kapolda Sumsel itu ikut hadir, diantaranya, Ketua Umum JMSI Teguh Santo. Acara dikemas sederhana dan menarik.
Buku Biografi Firli Bahuri itu, disusun oleh Arief Gunawan. Menceritakan awal-awal masa Firli menjadi prajurit Bhayangkara. Meski gagal empat kali tes Akabri, mantan Ketua KPK RI itu gak kenal menyerah.
Cuplikan-cuplikan cerita itu, mengalir lugas lewa buku tersebut. Firli yang ditulis Arief Gunawan, seorang anak kampung. Insan Bhayangkara berpangkat terakhir bintang tiga itu, lahir di Dusun Lontar, kawasan terpencil di Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan.
Demi mengubah nasibnya dan keluarga, Firli muda mencoba peruntungan dengan merantau ke Kota Pelembang. Usai menamatkan pendidikan menengahnya, ia mencoba masuk Akabari, empat kali gagal dan proses itu gak membuatnya menyerah.
Di buku itu, juga diceritakan tentang awal-awal Firli menjadi prajurit Polri usai lulus pendidikan Bintara. Polres Cibabat di Jawa Barat, awal karirnya sebagai anggota kepolisian RI.

Ketua Umum JMSI Teguh Santosa, ikut memberikan goresan lewat kata pengantarnya. Dosen Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah itu, menuliskan tentang hubungannya dengan Firli. Baginya, mantan Ketua KPK Iru sosok polisi yang miliki integritas tinggi.
Yang membuat Firlli jadi tokoh hebat, bukan tentang jabatan yang pernah Ia emban. Tapi, jalan panjang dan berliku yang jadi proses pembentukan karakter mantan perwira tinggi Polri itu. “Dibuku ini, kita bisa baca, seperti apa Firli, seorang anak kampung terpencil, melalui badai, hingga mencapai puncak sebagai salah satu tokoh penting penanggungjawab salah satu institusi negara,” katanya.
Dia menambahkan bahwa biografi Firli Bahuri tidak menuntut pembenaran, melainkan sekadar mengundang pembaca melihat Firli Bahuri melalui sisi yang mungkin terlalu jarang mau dilihat oleh masyarakat.
“Dan barangkali di sinilah nilai sebuah biografi: ia memberi ruang bagi kita untuk memahami manusia bukan dari gosip dan gegap-gempita politik, tetapi dari kisah-kisah yang membentuknya jauh sebelum ia dikenal publik,” sambung Teguh.
Teguh juga mengaitkan fenomena Firli Bahuri dengan era disrupsi dan post truth di mana opini publik lebih dipengaruhi oleh sisi emosi, keyakinan individu, dan narasi subjektif daripada fakta objektif dan bukti yang dapat diverifikasi, kisah-kisah pembentuk jati dan karakter seperti ini bisa jadi hilang atau bahkan dihilangkan. Padahal sesungguhnya kebenaran akan muncul dengan cara dan jalannya sendiri, dan kebenaran tidak akan mendua.
Teguh mengatakan, di dalam “Anak Dusun Menjaring Impian” tidak ada bagian yang menjawab berbagai tuduhan terhadap Firli. Namun, sambungnya, ketika berkomunikasi dengan Firli sebelum menuliskan kata pengantar, Firli mengatakan, akan menjawab tuduhan-tuduhan itu dalam buku terpisah.
“Sequel itu akan mengungkap kebenaran selama dirinya memimpin KPK. Juga akan menjawab tuduhan-tuduhan yang dialamatkan pihak-pihak yang tidak senang dengan kiprahnya di lembaga anti rasuah,” demikian Teguh.
Leave a comment