POPULARITAS.COM – Kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini kini mampu mengerjakan berbagai tugas, mulai dari menulis kode hingga menghasilkan teks.
Namun, menurut ilmuwan AI Yann LeCun, teknologi tersebut masih belum benar-benar memiliki pemahaman mendalam mengenai dunia nyata. “Kita bahkan belum memiliki robot yang memahami dunia fisik sebaik seekor tikus,” ujar LeCun, dilansir dari laman BBC pada Kamis (2/7/2026).
LeCun merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh di bidang AI. Setelah sekitar satu dekade menjabat sebagai Kepala Ilmuwan AI di Meta, induk Facebook, ia meninggalkan perusahaan itu pada 2025 dan mendirikan Advanced Machine Intelligence Labs (AMI Labs).
Menurut LeCun, sistem AI generatif yang ada saat ini memang berguna untuk berbagai kebutuhan. Namun, teknologi tersebut belum mampu menangani persoalan yang kompleks di dunia nyata, misalnya mengendalikan robot yang harus melakukan pekerjaan rumah tangga.
“Teknologi ini bukan jalan menuju kecerdasan setingkat manusia, bahkan setingkat hewan sekalipun. Sistem tersebut tidak mampu menangani data dunia nyata karena memang tidak dirancang untuk itu,” kata LeCun.
LeCun mengakui bahwa Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT sangat andal dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu, misalnya membuat program komputer, menyelesaikan persoalan matematika, atau menghasilkan teks.
Namun, menurutnya, kemampuan itu hanya berlaku untuk persoalan yang memiliki pola jelas dan dapat diprediksi.
“LLM pada dasarnya hanya mengumpulkan pengetahuan. Mereka dapat mengulang kembali apa yang telah dipelajari, tetapi bukan berarti mereka benar-benar cerdas. Mereka tidak memiliki pemahaman mendasar,” ujarnya.
Menurut LeCun, dunia nyata jauh lebih rumit daripada sekadar pola tertentu saja. Satu tindakan dapat menghasilkan begitu banyak kemungkinan sehingga dibutuhkan AI yang mampu memahami situasi, bukan sekadar mengenali pola dari data yang pernah dipelajari.
LeCun mengatakan AMI Labs akan memanfaatkan sisa tahun ini untuk menyempurnakan model AI yang dikembangkannya. Tahun depan, teknologi tersebut ditargetkan mulai digunakan di sektor industri. Jika berhasil, sistem itu diharapkan dapat berkembang menjadi kecerdasan umum yang mampu diterapkan di berbagai bidang hanya dengan sedikit pelatihan tambahan.
AI tak akan gantikan peran manusia
Sementara dilansir dari Observer pada Senin (6/7/2026), LeCun meyakini bahwa kehadiran AI tidak akan menghilangkan peran manusia.
Menurutnya, manusia tetap dibutuhkan untuk menentukan pertanyaan apa yang harus diajukan, apa yang harus dibangun, dan apa yang harus diciptakan.
Ia menilai AI akan berfungsi sebagai asisten yang membantu manusia. “Hubungan manusia dengan AI di masa depan, bahkan jika AI menjadi lebih pintar dari kita, akan seperti hubungan seorang pemimpin perusahaan atau pemimpin politik dengan para staf ahlinya, yang banyak di antaranya mungkin lebih cerdas daripada pemimpinnya,” ujar LeCun.


Leave a comment