POPULARITAS.COM – Angin lembut dari pesisir utara Aceh Timur berhembus membawa kesejukan. Di tengah hamparan sawah yang menghijau, berdiri megah sebuah bangunan berwarna hijau-putih dengan kubah bersinar di bawah matahari.
Itulah Masjid Ba’alawi, permata religi yang terletak di Gampong Pucok Alue Dua, Kecamatan Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur.
Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol spiritual dan sejarah panjang penyebaran Islam di Tanah Rencong.
Masjid ini didirikan oleh Habib Muhammad bin Ahmad Al Attas, seorang ulama karismatik Aceh pada Minggu, 17 Januari 2021. Namun, pada saat itu belum 24 jam Habib Muhammad bin Ahmad Al Attas meresmikan masjid ini beliau meninggal dunia.
“Masjid Ba’alawi adalah cita-cita terakhir saya, selepas itu saya pulang,” ucap Habib Muhammad bin Ahmad Al Attas kala itu.
Makam Habib kini berada disisi utara Masjid Ba’alawi di bawah kubah hijau yang tenang, menjadi tempat ziarah bagi banyak jamaah dari Aceh hingga luar negeri.

Bagi masyarakat Aceh, Masjid Ba’alawi bukan hanya simbol keagamaan, tapi juga warisan spiritual yang hidup. Setiap Jumat, jamaah dari berbagai gampong datang untuk beribadah, berzikir, dan mendengarkan khutbah yang selalu menyejukkan hati.
Keindahan Masjid Ba’alawi terletak pada kesederhanaan yang memukau. Berdiri di tengah bentang alam pedesaan, masjid ini memancarkan ketenangan bagi siapa pun yang datang.
Dominasi warna hijau dan putih pada dindingnya mencerminkan kesucian dan kedamaian, sementara kubah berwarna hijau tua menjadi penanda kemegahan spiritual di kawasan itu.
“Masya Allah, saya baru pertama kali ke Masjid Ba’alawi,” kata Badriah salah satu pengujung, Sabtu (1/11/2025).
Begitu melangkah masuk, pengunjung akan disambut dengan aroma kayu dan udara sejuk dari sawah di sekitar. Kaligrafi ayat-ayat suci menghiasi bagian dalam masjid, menghadirkan suasana khusyuk yang jarang ditemukan di tempat lain. Suara burung dan desir angin berpadu menjadi irama dzikir alam yang menenangkan.
Bagi wisatawan religi, Masjid Ba’alawi menawarkan pengalaman berbeda. Bukan keramaian yang ditawarkan, melainkan kedamaian. Banyak yang datang hanya untuk duduk bersila di terasnya, membaca Al-Qur’an, atau sekadar merenung menikmati suara angin yang melewati dedaunan kelapa di sekitarnya.
Di waktu-waktu tertentu, terutama saat Maulid Nabi atau bulan Ramadan, suasana masjid menjadi lebih semarak. Jamaah dari berbagai daerah berdatangan untuk bersilaturahmi dan mengikuti zikir bersama. Aroma nasi kenduri dan hidangan khas Aceh Timur turut mewarnai kehangatan spiritual itu.
Dari pusat Kabupaten Aceh Timur perjalanan menuju Masjid Ba’alawi memakan waktu sekitar satu jam. Jalan menuju lokasi cukup baik, melewati perkampungan dan sawah yang menyejukkan mata.
Saat menjelang sore, pemandangan matahari terbenam di balik kubah masjid menjadi momen yang tak boleh dilewatkan oleh penggemar fotografi.
Bagi yang ingin berziarah, disarankan mengenakan pakaian sopan dan menjaga kesunyian, sebab di kompleks masjid juga terdapat makam ulama besar yang sangat dihormati.
Masjid Ba’alawi bukan hanya destinasi religi, tetapi juga ruang refleksi tentang hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Di tempat ini, keheningan menjadi guru, dan udara sejuk menjadi pengingat bahwa ketenangan sejati lahir dari hati yang berserah.
Leave a comment