POPULARITAS.COM – Tekanan ekonomi dan inflasi di Amerika Serikat (AS), secara langsung dapat pengaruhi nilai tukar rupiah. Bahkan, sejumlah pengamat menyebutkan bisa mendorong pelemahan hingga berada pada harga Rp17.850 per dolar.
Pada penutupan perdagangan Jumat (11/9/2026), rupiah berada di level Rp 17.611 per dolar AS, melemah 64 poin atau 0,36% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.547 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut pada pekan depan. Menurut dia, rupiah berpeluang bergerak hingga kisaran Rp 17.850 per dolar AS, bahkan berpotensi melewati level tersebut.
“Untuk rupiah kemungkinan mengalami pelemahan mencapai 17.850-an bisa saja lebih dari 17.850-an,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya dikutip dari laman beritasatu.com, Senin (14/9/2026)
Ibrahim mengatakan salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah kondisi perekonomian AS yang masih dibayangi ekspektasi inflasi tahunan sebesar 4,6%.
Menurut dia, tingkat inflasi tersebut dapat memperkuat ekspektasi pasar terhadap langkah Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan kebijakan suku bunga pada pertemuan pekan depan.
Sebagian besar ekonom, lanjut Ibrahim, memperkirakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
“Pertemuan minggu depan sebagian besar 85% para ekonom mengatakan bahwa Bank Sentral AS kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga 25 basis poin. Jadi, yang tadinya 70% sudah berubah menjadi 85%,” katanya.
Selain kebijakan moneter AS, pergerakan indeks dolar AS juga menjadi perhatian. Indeks dolar AS di pasar global diperkirakan bergerak dalam rentang 90,30 hingga 100,20 pada pekan depan.
Penguatan indeks dolar AS turut dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, termasuk konflik antara AS dan Iran yang masih berlangsung. Ketegangan tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah dan berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Leave a comment