POPULARITAS.COM – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa Matahari akan tepat berada di atas Kabah pada Juli 2026.
Peristiwa tersebut akan terjadi pada hari ini Rabu (15/7/2026) hingga Jumat (17/7/2026). Saat fenomena berlangsung, benda yang berdiri tegak dan terkena sinar Matahari akan menghasilkan bayangan yang mengarah tepat ke arah kiblat.
Berdasarkan unggahan dalam akun media sosial Instagramnya, Selasa (14/7/2026), kondisi ini dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memeriksa dan mengoreksi arah kiblat secara mandiri.
Apa itu fenomena Matahari di atas Kabah?
BMKG menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi ketika Matahari berada di titik zenit Kabah yang berada pada koordinat 21,422 derajat Lintang Utara. Pada saat itu, bayangan benda yang berdiri tegak akan mengarah tepat ke arah kiblat sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengecek sekaligus mengkalibrasi arah kiblat secara sederhana dan akurat. Fenomena ini terjadi dua kali setiap tahun, yakni pada akhir Mei dan pertengahan Juli.
Namun, pakar astronomi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa secara astronomi Matahari sebenarnya berada tepat di atas Kota Mekkah, bukan persis di atas bangunan Kabah.
Menurut Thomas, hal itu terjadi karena kemiringan sumbu rotasi Bumi yang menyebabkan posisi semu Matahari bergerak ke utara hingga sekitar 22 Juni, kemudian kembali bergerak ke selatan hingga sekitar 22 Desember.
“Saat bergerak ke utara, posisi Matahari bersesuaian dengan lintang Mekkah pada 27-28 Mei dan 15-17 Juli sehingga pada siang hari Matahari tampak tepat di atas Mekkah,” ujarnya.
Thomas menegaskan, fenomena tersebut bukan berarti arah kiblat berubah. Namun, fenomena ini membuka kesempatan untuk menyempurnakan atau memeriksa kembali arah kiblat yang sebelumnya mungkin hanya ditentukan berdasarkan perkiraan atau kompas yang kurang akurat.
Jadwal pengukuran arah kiblat
Menurut BMKG, waktu pengamatan dibedakan berdasarkan wilayah. Untuk Indonesia bagian barat dan tengah, fenomena dapat dimanfaatkan pada: 27-29 Mei pukul 16.18 WIB 15-17 Juli pukul 16.27 WIB.
Sementara itu, untuk Indonesia bagian timur dan sebagian Indonesia tengah bagian timur, penentuan arah kiblat dilakukan saat Matahari berada di titik antipoda kabah (titik yang berlawanan dengan Kabah), yaitu: 14 Januari pukul 06.30 WIT, 29 November pukul 06.09 WIT.
Thomas menambahkan, rentang waktu sekitar lima menit sebelum hingga lima menit setelah waktu puncak masih cukup akurat untuk melakukan pengukuran.
Untuk melakukan kalibrasi arah kiblat, masyarakat cukup menyiapkan tongkat atau benda lurus yang dapat berdiri tegak, jam dengan waktu yang akurat, dan Kompas atau GPS sebagai alat bantu verifikasi (opsional).
Begini cara mengkalibrasi arah kiblat
Sesuaikan waktu pengamatan dengan waktu resmi BMKG. Siapkan tongkat, tiang, kusen pintu, kusen jendela, atau benda lain yang berdiri tegak lurus terhadap permukaan tanah. Lakukan pengamatan sekitar lima menit sebelum hingga lima menit setelah waktu puncak. Amati arah bayangan yang terbentuk.
Menurut Thomas, untuk wilayah yang mengalami siang bersamaan dengan Mekkah, termasuk Indonesia bagian barat, arah kiblat ditentukan dari ujung bayangan menuju pangkal tongkat.
Sementara itu, untuk wilayah yang menggunakan fenomena antipoda Kabah, arah kiblat ditentukan dari pangkal tongkat menuju ujung bayangan.
Setelah arah kiblat diperoleh, masyarakat dapat memberi tanda pada garis bayangan, misalnya menggunakan sajadah, lalu menjadikannya acuan untuk meluruskan saf salat.
Agar hasil pengukuran lebih akurat, BMKG mengimbau pengamatan dilakukan saat cuaca cerah, di permukaan yang datar, tidak terhalang bayangan benda lain, serta menggunakan waktu yang telah disesuaikan dengan jam atom BMKG.

Semenara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Azhari mengajak masyarakat memanfaatkan momentum tersebut untuk mengecek kembali arah kiblat di rumah, balai, meunasah, masjid, maupun tempat umum lainnya.
“Rashdul Kiblat merupakan metode yang sangat tepat dan sederhana untuk mengkalibrasi kembali arah kiblat. Pengukurannya pun mudah, cukup menggunakan sebuah tiang atau benda yang berdiri tegak lurus dan terkena sinar Matahari pada waktu terjadinya Rashdul Kiblat,” ujar Azhari, Rabu (15/7 2026).
Menurut Azhari, dalam ilmu falak terdapat beberapa metode untuk menentukan dan meluruskan arah kiblat, di antaranya menggunakan kompas, theodolit, maupun memanfaatkan fenomena Matahari yang melintas tepat di atas Ka’bah atau yang dikenal sebagai Istiwa A’zam (Rashdul Kiblat).
Bagi masyarakat yang ingin memverifikasi arah kiblat secara mandiri, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, benda yang dijadikan patokan harus benar-benar berdiri tegak lurus, atau dapat menggunakan bantuan lot (bandul).
Kedua, permukaan tempat berdirinya benda harus datar dan rata. Ketiga, waktu pengukuran harus disesuaikan dengan waktu resmi yang dirilis oleh BMKG.
Apabila ketiga syarat tersebut dipenuhi, arah bayangan benda pada saat Rashdul Kiblat akan menunjukkan arah Ka’bah.
Leave a comment