POPULARITAS.COM – Gemericik air yang beradu dengan bebatuan, semilir angin yang menyapa, serta hijaunya alam yang membentang menghadirkan suasana menenangkan di Krueng Baru. Di sini, waktu seolah berjalan lebih lambat. Pengunjung bisa duduk santai di tepian sungai, menikmati kopi bersama sahabat, atau menghabiskan waktu bersama keluarga di tengah kesejukan alam.
Namun, Krueng Baru bukan sekadar tempat untuk menikmati keindahan sungai. Di balik airnya yang jernih dan bebatuan yang menghiasi aliran sungai, tersimpan cerita tentang tradisi kebersamaan masyarakat Aceh hingga aktivitas ekonomi warga yang mengubah batu koral menjadi sumber penghasilan.
Berada di kawasan perbatasan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dan Kabupaten Aceh Selatan, Krueng Baru menawarkan pengalaman wisata yang sederhana, tetapi berkesan. Tak perlu perjalanan dengan biaya besar untuk menikmati suasana alam. Cukup datang bersama keluarga atau sahabat, membawa bekal dari rumah, lalu mencari tempat nyaman untuk menikmati pemandangan.
Suara arus yang mengalir di antara bebatuan putih dan hitam menjadi musik alami yang menemani waktu bersantai. Di sejumlah sudut, pengunjung terlihat bercengkerama, menikmati makanan bersama, atau sekadar memandangi air yang terus mengalir.
Bagi sebagian orang, perjalanan ke tempat ini mungkin hanya untuk mandi atau melepas penat pada akhir pekan. Namun, bagi mereka yang mau melihat lebih dekat, Krueng Baru menyimpan cerita yang lebih luas daripada sekadar panorama alam.
Batu Koral Sumber Ekonomi
Sebelum tiba di kawasan wisata, ada pemandangan menarik yang menyambut siapa saja yang melintasi jalan nasional di dekat Jembatan Krueng Baru, Gampong Persiapan Kayee Aceh, Kecamatan Lembah Sabil, Abdya.
Di sepanjang pinggir jalan, batu-batu koral berwarna putih dan hitam tampak dijajakan warga. Sebagian tersusun dalam karung-karung, siap dibawa pulang oleh pembeli yang tertarik dengan bentuk dan warnanya.
Pemandangan ini menghadirkan cerita berbeda dari perjalanan wisata pada umumnya. Jika bebatuan di sungai menjadi bagian dari keindahan alam, di pinggir jalan batu-batu tersebut justru menawarkan nilai ekonomi.
Pengunjung yang tertarik bahkan bisa membelinya langsung dari warga setempat. Untuk satu karung berukuran sekitar 10 kilogram, harganya berkisar Rp15 ribu hingga Rp30 ribu, bergantung pada jenis dan kondisinya.
Batu koral putih dan hitam itu biasa dimanfaatkan untuk mempercantik taman, menghias pekarangan rumah, hingga menjadi taburan di atas tanah pemakaman.
Bagi wisatawan, batu-batu tersebut mungkin hanya menjadi oleh-oleh unik dari perjalanan. Namun, bagi sebagian warga, kegiatan mengumpulkan, memilah, dan menjualnya merupakan salah satu cara memperoleh penghasilan.
Ada nilai kehidupan yang bisa dilihat dari pemandangan sederhana itu. Alam tidak hanya menjadi tempat untuk dikunjungi, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Meski demikian, pemanfaatan batu sungai perlu memperhatikan kelestarian lingkungan dan ketentuan yang berlaku agar aktivitas ekonomi tidak mengorbankan keseimbangan ekosistem.
Menikmati Akhir Pekan
Memasuki kawasan Krueng Baru, suasana alam terasa semakin dekat. Aliran sungai membelah lanskap, melewati bebatuan dengan beragam bentuk dan ukuran. Pepohonan serta hamparan hijau di sekitarnya menambah kesan sejuk, menghadirkan ruang untuk sejenak menjauh dari kesibukan sehari-hari.
Menjelang sore, terutama pada akhir pekan dan hari libur, kawasan ini menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk berekreasi.
Pengunjung datang dari berbagai wilayah Abdya dan Aceh Selatan, baik bersama keluarga maupun teman-teman.
Sebagian memilih duduk di tepian sungai sambil menikmati kopi.
Ada pula yang berbincang santai, mengabadikan pemandangan melalui kamera telepon genggam, atau bermain air di bagian yang dinilai aman.
Tidak ada yang benar-benar istimewa dari secangkir kopi yang dinikmati di sini. Namun, ketika ditemani suara aliran sungai, udara terbuka, dan obrolan bersama orang-orang terdekat, hal sederhana itu terasa berbeda.
Bagi kalangan muda, Krueng Baru menjadi tempat berkumpul tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.
Sementara bagi keluarga, kawasan ini menawarkan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama, jauh dari rutinitas yang kerap menyita perhatian.
Keindahannya pun tidak harus dinikmati dengan banyak aktivitas. Duduk di tepian, memandangi air, dan mendengarkan suara alam sudah cukup menjadi cara sederhana untuk menikmati perjalanan.
Meuramin, Tradisi Kebersamaan di Tepi Sungai
Salah satu hal yang membuat suasana Krueng Baru terasa akrab adalah tradisi meuramin, yakni menikmati makanan bersama di alam terbuka.
Pengunjung dapat membawa bekal dari rumah, menggelar tikar di tempat yang aman dan diperbolehkan, kemudian menikmati hidangan bersama keluarga atau sahabat.
Makanannya boleh sederhana, tetapi kebersamaan yang tercipta sering kali menjadi bagian paling berkesan dari perjalanan. Percakapan mengalir, tawa terdengar, dan cerita-cerita kecil menjadi pengikat kebersamaan.
Bagi sebagian keluarga, meuramin menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan di tengah kesibukan. Bagi kelompok sahabat, kegiatan ini menjadi alasan untuk berkumpul dan menciptakan kenangan bersama.
Di Krueng Baru, wisata tidak selalu tentang wahana atau fasilitas yang mewah. Ada kesenangan tersendiri ketika seseorang bisa menikmati alam, menyantap makanan bersama, dan pulang dengan perasaan lebih segar.
Meski demikian, pengunjung tetap perlu memperhatikan keselamatan. Hindari mendirikan tenda di tepian rendah atau terlalu dekat dengan aliran sungai. Perubahan cuaca di kawasan hulu dapat meningkatkan debit air secara tiba-tiba. Anak-anak juga harus selalu berada dalam pengawasan orang dewasa.
Air Jernih yang Tetap Harus Dijaga
Daya tarik Krueng Baru tidak terlepas dari air sungai dan bentang alamnya yang memikat. Akan tetapi, kejernihan air tidak selalu berarti seluruh bagian sungai aman untuk berenang.
Pengunjung perlu memilih lokasi bermain air yang aman, menghindari bagian yang dalam atau berarus kuat, serta segera menjauh dari sungai ketika hujan turun atau arus mulai meningkat.
Kebersihan juga menjadi tanggung jawab bersama. Sampah makanan, bungkus minuman, dan barang bawaan lainnya harus dikumpulkan dan dibawa kembali atau dibuang pada tempat yang tersedia.
Sebab, keindahan sungai yang dinikmati hari ini tidak akan bertahan jika lingkungan dibiarkan tercemar. Menjaga Krueng Baru berarti memastikan pengunjung berikutnya tetap bisa menikmati suasana yang sama.
Hal serupa berlaku bagi pemanfaatan batu koral. Potensi ekonomi masyarakat patut diperhatikan, tetapi pengambilannya harus tetap mengikuti ketentuan yang berlaku dan memperhitungkan dampak terhadap ekosistem sungai.
Krueng Baru dan Potensi Wisata Perbatasan
Posisi Krueng Baru yang berada di antara Abdya dan Aceh Selatan memberikan peluang bagi pengembangan wisata lokal. Keindahan alam, tradisi meuramin, serta aktivitas ekonomi masyarakat menjadi bagian dari daya tarik yang saling melengkapi.

Penataan kawasan, penyediaan tempat sampah, informasi keselamatan, dan area istirahat yang memadai dapat membuat pengalaman pengunjung semakin nyaman.
Masyarakat setempat juga berpeluang mengembangkan usaha pendukung, seperti menjual makanan dan minuman, dengan tetap menjaga kebersihan lingkungan. Sementara itu, pemanfaatan batu koral dapat menjadi bagian dari cerita ekonomi lokal selama dilakukan secara bertanggung jawab.
Jika dikelola dengan baik, Krueng Baru bukan hanya menjadi tempat singgah untuk menghabiskan akhir pekan, tetapi juga destinasi yang memberi manfaat bagi masyarakat dan daerah.
Ketika sore mulai beranjak dan waktu kunjungan berakhir, pengunjung mungkin pulang membawa foto, cerita, atau kenangan sederhana. Ada yang mengingat segarnya air sungai, ada yang mengenang keseruan meuramin, dan ada pula yang tertarik membawa pulang batu koral putih sebagai penghias taman di rumah.
Di balik semua itu, Krueng Baru menyimpan cerita tentang alam dan manusia yang hidup berdampingan. Sungai ini menawarkan kesejukan bagi pengunjung, ruang kebersamaan bagi keluarga, serta peluang penghidupan bagi sebagian masyarakat.
Krueng Baru bukan sekadar sungai di perbatasan Abdya dan Aceh Selatan. Ia adalah ruang tempat keindahan alam, tradisi, dan ekonomi masyarakat bertemu dalam kesederhanaan.
Di antara gemericik air dan bebatuan yang terus dialiri arus, Krueng Baru menyampaikan satu pesan. Ya, alam bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dijaga agar pesonanya tetap hidup dan manfaatnya dapat dirasakan hingga generasi mendatang.
Leave a comment