Home Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Misteri Tapak Tuan, Jejak Raksasa di Pesisir Aceh Selatan
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeatureNewsWisata

Misteri Tapak Tuan, Jejak Raksasa di Pesisir Aceh Selatan

Share
Legenda Tapak Tuan, kabupaten Aceh selatan, destinasi sejarah yang tak Boleh dilewatkan. Poto : Rahmat | Popularitas.com.
Share

POPULARITAS.COM – Jalan berkelok di sepanjang pesisir barat Aceh selalu menggoda setiap mata yang melintas. Disatu sisi, laut biru Samudra Hindia terbentang luas, berkilau diterpa cahaya matahari. Disisi lain, perbukitan hijau membentang bak tirai alam yang tak pernah tertutup. Angin asin laut berhembus lembut, membawa aroma khas pesisir segar, liar, dan membebaskan.

Perjalanan menuju Tapak Tuan, kota yang dikenal dengan julukan Kota Naga, selalu menyimpan kisah tersendiri bagi siapa pun yang melangkah ke sana.

Dari Kota Banda Aceh maupun Kota Medan, jaraknya memang tak bisa dibilang dekat sekitar 500 kilometer lebih kurang, dengan waktu tempuh tujuh hingga delapan jam perjalanan darat.

Namun sepanjang rute pesisir barat Aceh, rasa penat akan larut oleh keindahan yang tersaji di kiri-kanan jalan. Sesekali, mata disuguhi laut biru berkilau di kejauhan, berpadu dengan wajah-wajah kota kecil yang perlahan tumbuh seiring waktu.

Bagi yang tak ingin menghabiskan waktu lama diperjalanan darat, jalur udara bisa menjadi pilihan praktis.

Pesawat kecil dari Banda Aceh atau Medan akan membawa penumpang mendarat di Bandar Udara Teuku Cut Ali, di Kecamatan Pasie Raja, hanya beberapa kilometer dari pusat Kota Tapak Tuan.

Dalam waktu singkat, pesona Aceh pascakonflik dan Tsunami tampak jelas dari ketinggian.

Bukan hanya karena keindahan alamnya, tapi juga karena legenda yang hidup di antara masyarakatnya, kisah jejak kaki raksasa di tepi laut, yang konon milik sang Naga dalam mitos tua yang diwariskan turun-temurun.

Begitu memasuki Kota Tapak Tuan, udara laut langsung menyapa. Anginnya lembap tapi segar, membawa aroma asin yang khas dari Samudra Hindia.

Di sisi jalan, hamparan bukit hijau berpadu dengan birunya laut, seolah mengantar siapa pun menuju kisah lama yang masih hidup hingga kini legenda tentang seorang pertapa raksasa bernama Syekh Tuan Tapa dan dua naga dari dasar samudra.

Dari pusat kota, perjalanan menuju situs Tapak Tuan hanya memakan waktu sekitar lima belas menit. Jalanan yang menurun perlahan melewati rumah warga dan kebun kelapa, hingga akhirnya laut biru tampak membentang di kejauhan.

Setibanya di Gampong Pasar, Kecamatan Tapak Tuan, suasana berubah tenang. Di antara deretan warung sederhana dan pepohonan rindang, pengunjung harus menuruni jalur berbatu dan jalan setapak menuju tepi laut.

Di sanalah tampak sebuah cerukan besar menyerupai telapak kaki manusia, tapi ukurannya tak masuk akal, panjangnya enam meter, lebarnya dua setengah meter.  Jejak itulah yang memberi nama bagi kota ini Tapak Tuan.

Kini permukaannya sudah dilapisi semen agar tak rusak, tapi bentuk aslinya tetap dipertahankan.

Di sekelilingnya tersedia bangku-bangku kayu menghadap ke laut, tempat wisatawan biasa duduk lama, menikmati pemandangan biru luas sambil mendengar kisah dari warga yang dengan fasih menuturkan legenda Tuan Tapa.

Tak ada tiket masuk di Tapak Tuan. Hanya imbauan untuk menjaga sopan santun di tanah yang diyakini menyimpan legenda tua.

Begitu melangkah ke dalam kawasan, sebuah baliho besar menyambut, seolah mengajak menelusuri legenda jejak kaki raksasa di Gunung Lampu.

Sebagian jalan menuju lokasi telah dicor semen, sementara sisanya harus dilalui di atas jembatan kayu yang mulai rapuh dimakan usia.

Setiap langkah perlu kehati-hatian, sebab angin laut sering berembus kencang dari arah samudra.

Di sepanjang jalur, tonggak jembatan dan dinding batu telah diberi garis penunjuk arah, seolah menjadi pemandu sunyi yang menuntun wisatawan menuju tapak legendaris itu, saksi bisu dari kisah raksasa yang hidup dalam ingatan masyarakat Tapak Tuan.

Tapak Tuan bukan sekadar tempat wisata, ia adalah cerita yang tetap hidup di antara ombak dan doa. Konon, Tuan Tapa adalah seorang pertapa sakti bertubuh raksasa yang hidup menyepi di Gunung Lampu.

Ia menghabiskan seluruh hidupnya untuk beribadah dan berdzikir, jauh dari hiruk pikuk dunia. Hingga suatu hari, dua naga dari Samudra Hindia menculik putri raja dari Kerajaan Asralanoka. Pertempuran besar pun terjadi di langit dan laut, dan ketika Tuan Tapa melompat untuk menolong sang putri, jejak kakinya menancap di bebatuan karang ini.

Tongkat kayunya pun konon berubah menjadi batu, sementara kopiah yang terlepas saat bertempur kini menjadi batu besar di tengah laut.

Beberapa kilometer dari situs utama ini, ada pula sisa-sisa “jejak pertarungan” lainnya.  Di Desa Batu Itam, karang berbentuk hati disebut sebagai tempat naga jantan tumbang.  Di Batu Merah, warga menunjukkan formasi batu yang dipercaya sebagai sisik naga yang terserak.

Sementara di Pantai Batu Berlayar, sekitar dua puluh kilometer dari Gunung Lampu, batu karang menjulang menyerupai layar kapal dipercaya sebagai sisa kapal raja dan permaisuri Kerajaan Asralanoka yang hancur saat pertempuran.

Perjalanan bisa berlanjut ke Kampung Padang, tempat makam Syekh Tuan Tapa berada. Panjangnya mencapai dua puluh lima meter, dengan lebar delapan meter sebuah ukuran yang tak lazim untuk manusia biasa.

Di belakang makam berdiri Masjid Tua Tapak Tuan, yang hingga kini tetap menjadi pusat kegiatan religi masyarakat sekitar.

Saat Tsunami dahsyat menggulung Aceh pada 2004 silam, wilayah Tapak Tuan termasuk lokasi Tuan Tapa, nyaris tak tersentuh, tak terkecuali rumah penduduk yang terpaut hanya ratusan meter dari bibir pantai masih utuh dan tak tersentuh ganasnya air laut.

Laut yang dulu menggulung kota-kota lain seakan berhenti di perbatasan ini.

Hingga kini, masyarakat masih menyebutnya sebagai karomah sang wali, pertanda berkah yang tersisa dari kisah tua yang menjejak di bumi.

Tapak Tuan bukan sekadar destinasi, ia adalah legenda yang masih bernapas, kisah tentang iman, keajaiban, dan keindahan yang berpadu dalam satu garis pantai yang dijaga oleh waktu.

Setiap akhir pekan, Tapak Tuan kembali hidup. Kota pala di tepi Samudra Hindia itu, disinggahi para pelancong dari Aceh Barat, Nagan Raya, hingga Abdya yang rindu akan semilir angin laut dan ketenangan pesisir.

Di balik keindahan alamnya, Tapak Tuan menyimpan kisah mistis yang menanti untuk terus dijaga dan diceritakan.

Semoga perhatian pemerintah pengembangan kawasan ini, tak pernah surut, agar pesona dan nilai religi kota ini semakin bersinar di mata dunia, dan menjadi potensi wisata religi dan alamnya yang menarik bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

Prabowo Ungkap Alasan Beratnya Copot Dadan Hindayana

POPULARITAS.COM – Presiden Prabowo Subianto mengaku berat saat mengambil keputusan mencopot Dadan...

News

4 Fakta Kasus Dugaan Korupsi BGN yang Menjerat Dadan Hindayana Cs

POPULARITAS.COM – Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkap dugaan penyimpangan besar dalam tata kelola...

EkonomiNews

Mualem Panggil Kepala BPMA Bahas Blok Andaman dan Pipa Gas

POPULARITAS.COM – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem memanggil Kepala Badan Pengelola Migas Aceh...

News

Marzuki Ali Basyah luncurkan buku ‘Polda Aceh Meutuah’

POPULARITAS.COM – Irjen Pol Marzuki Ali Basyah, rabu (3/6/2026), resmi luncurkan bukunya....

Exit mobile version