Home Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Namo Sampuren, Grand Canyon Ala Amerika di Subulussalam
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeature

Namo Sampuren, Grand Canyon Ala Amerika di Subulussalam

Share
Namo Sampuren, wisata mirip-mirip Grand Canyon, di Subulussalam. FOTO : Rahmat
Share

POPULARITAS.COM – Tidak semua keindahan alam berteriak dari pinggir jalan. Beberapa, justru bersembunyi di lembah sunyi, menunggu untuk ditemukan oleh mereka yang mau melangkah sedikit lebih jauh.

Begitulah Namo Sampuren Penuntungan, pemandian alami di Kampung Penuntungan, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam, sebuah destinasi yang mungkin sederhana di peta, tetapi luar biasa ketika dilihat dari dekat.

Di kota terujung Provinsi Aceh yang berdiri di kaki Gunung Leuser, hamparan hutan, aliran sungai, dan deretan air terjun bukan sekadar pemandangan rutin, melainkan denyut kehidupan. 

Bahkan begitu khasnya, Subulussalam dikenal dengan sebutan ‘Kota 1001 Air Terjun’. Namun dari sekian banyak pesona airnya, Namo Sampuren telah mencuri perhatian sebagai salah satu yang paling ramai dicari, terutama pada akhir pekan.

Seiring waktu, kabar tentang kejernihan airnya, bentuk bebatuannya yang unik, serta suasana lembahnya yang tenang mulai menyebar, hingga akhirnya Namo Sampuren menjadi salah satu destinasi paling ramai dikunjungi di Bumi Syekh Hamzah Fansuri, terutama ketika akhir pekan tiba.

Perjalanan menuju lokasi tak panjang, hanya sekitar 10 hingga 15 menit dari pusat Kota Subulussalam melalui jalan kabupaten yang beraspal halus.

Perlahan, suara kendaraan hilang digantikan oleh gemuruh air sungai dan desir angin yang menuruni kaki Gunung Leuser. Setibanya di pintu masuk, suasana kampung yang sederhana berubah menjadi lanskap alam yang menenangkan.

Menikmati keindahan Namo Sampuren di Subulussalam. FOTO : Rahmat

Sungai dengan air sejernih kaca mengalir lembut di antara batu-batu besar, sementara tebing-tebing alam menjulang tinggi mengapit aliran air, menciptakan lorong hijau yang sering disebut mirip “grand canyon mini”.

Lekukan bebatuan yang tampak seperti pahatan alam ribuan tahun memantulkan cahaya matahari dengan indah, membuat pengunjung kerap berhenti lama hanya untuk menangkap momen terbaik melalui kamera mereka.

Di sepanjang aliran sungai, aktivitas wisata berlangsung dengan caranya sendiri yang khas. Debit air yang tidak terlalu deras membuat tempat ini sangat aman untuk berendam dan berenang, sehingga banyak pengunjung yang datang bersama keluarga. Anak-anak mengapung menggunakan ban dalam, sementara orang dewasa menikmati aliran air perlahan dari hulu hingga hilir. 

Sesekali terdengar teriakan seru ketika para remaja melompat dari bebatuan tinggi ke kolam alami di bawahnya. Di area tertentu, airnya cukup dalam sehingga atraksi sederhana ini menjadi aktivitas favorit tanpa membahayakan. 

 

 

Bagi yang ingin merasakan petualangan ringan, perahu karet dan kano milik warga bisa disewa untuk menyusuri sungai hingga ke air terjun yang berada sekitar 80 meter di atas hulu, memberikan sensasi berlayar di antara dinding batu yang sempit dan eksotis.

Tak hanya aktivitas airnya yang menarik, suasana piknik di tepian sungai menjadi daya tarik lain yang membuat pengunjung betah berjam-jam.

 Di bawah rindangnya pepohonan, pengunjung menggelar tikar, memasak ikan atau ayam bakar, atau sekadar menyeruput kopi panas sambil mendengar gemericik air yang tiada henti. UMKM lokal turut menghidupkan suasana dengan menjual aneka makanan dan minuman sederhana, membuat kawasan ini semakin terasa ramah bagi siapa pun yang datang. 

Pembangunan fasilitas oleh Pemerintah Kota Subulussalam pada 2022 juga membantu menambah kenyamanan; ada bangunan singgah, tempat duduk, hingga area parkir yang kini lebih tertata.

Perjalanan menuju lokasi hanya memakan waktu 10–15 menit dari pusat Kota Subulussalam. Jalan kabupaten beraspal membawa pengunjung menyusuri perkampungan hijau, sesekali disambut udara sejuk yang turun perlahan dari pegunungan. Dari kejauhan, desir air terdengar samar, menandakan bahwa alam mulai membuka pintu gerbangnya.

Setibanya di pintu masuk, hiruk-pikuk kota seketika menghilang. Digantikan suara gemericik air sungai, kicau burung, dan sesekali suara tawa anak-anak yang tak sabar menceburkan diri. Namo Sampuren menyambut dengan kesederhanaan yang menenangkan, seperti rumah lama yang membuat Anda merasa nyaman sejak pertama datang.

Namo Sampuren bukan sekadar sungai biasa. Di sinilah Anda bisa melihat lekukan batu besar yang membentuk dinding alami, menjulang tinggi di kanan-kiri aliran sungai, menciptakan lorong alam yang menyerupai “grand canyon mini”.

Batu-batu raksasa itu tampak seperti pahatan alam yang dibuat dengan kesabaran ribuan tahun. Ada yang berbentuk melengkung seperti gerbang, ada yang tampak seperti pilar yang memegang langit. Di atasnya, pepohonan hijau tumbuh lebat, membuat rasa teduh tak pernah absen.

Saat matahari mulai condong, cahaya yang masuk di antara celah bebatuan menciptakan semburat emas yang memantul di permukaan air. Banyak pengunjung berhenti lama di sini, berkali-kali menekan tombol kamera karena takut melewatkan momen yang terlalu indah.

Debit air yang relatif tenang membuat lokasi ini ramah untuk pengunjung segala usia. Orang-orang biasanya memilih berenang, santai, berendam di kolam alami, mengapung menggunakan ban dalam, atau mengikuti arus sungai perlahan dari hulu ke hilir.

Kini, setiap akhir pekan, Namo Sampuren dipenuhi wisatawan lokal maupun dari luar kota.

Ada yang datang untuk sekadar membasuh penat, ada yang ingin menikmati alam, ada pula yang datang demi menangkap gambar terbaik dari tebing-tebing batu yang unik.

Namun siapa pun yang datang, pada akhirnya akan merasakan hal yang sama, ketenangan dan kesegaran yang sulit ditemui di tempat lain. 

Di tengah derasnya perubahan dan kehidupan yang terus berlari, Namo Sampuren hadir sebagai jeda alami yang mengingatkan bahwa Subulussalam masih menyimpan ruang-ruang hening yang begitu berharga.

Tempat ini bukan sekadar aliran sungai yang membelah tebing, tetapi sebuah ruang hidup yang selama bertahun-tahun dijaga oleh masyarakat yang tumbuh bersama alamnya.

Untuk merasakan pesonanya, cobalah datang ketika embun masih menggantung atau saat cahaya senja mulai melembut. Datanglah bersama teman perjalanan, atau justru sendiri ketika hati butuh tempat untuk berlabuh sebentar. 

Karena, siapa pun yang tiba di sini biasanya pulang dengan cerita baru, cerita tentang ketenangan yang tak dikejar, tetapi ditemukan begitu saja.

Pada akhirnya, perjalanan selalu punya cara sendiri untuk menyentuh kita.  Kadang bukan pemandangan megah yang kita cari, melainkan perasaan yang muncul ketika berdiri di sebuah tempat yang seolah mengerti diam kita. 

Dan di lekuk-lekuk tebing Namo Sampuren, banyak orang merasakan hal itu, melepaskan napas panjang, merasakan damai yang sederhana, dan berharap waktu melambat agar mereka bisa tinggal sedikit lebih lama.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
FeatureHeadline

Lebaran iduladha di Rumah Singgah BFLF

POPULARITAS.COM – Momen merayakan lebaran iduladha bersama keluarga, tentu impian dan keinginan...

FeatureHeadline

Sisi lain Abang Samalanga : Antara politisi dan pecinta kucing

POPULARITAS.COM – Tak banyak yang tahu, selain politisi dan dipercaya sebagai pemimpin...

FeatureHeadline

BPMA bawa kearifan Aceh ke panggung energi nasional

POPULARITAS.COM – Dibalik sorotan lampu LED dan arsitektur modern di Indonesia Petroleum...

Feature

Ramzi Adriman, dosen muda yang dipercaya Mirza Tabrani jabat Wakil Rektor USK Banda Aceh

POPULARITAS.COM – Ramzi Adriman, satu dari empat dosen muda, yang resmi dilantik...

Exit mobile version