POPULARITAS.COM – Gelondongan kayu-kayu gunung berkualitas super menumpuk, menimbun dan menutup jalur aliran Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Meureudu, Pidie Jaya, sepanjang 1 kilometer dengan bentang lebih kurang 60 meter .
Sungai yang dulunya dalam dan menjadi pemisah antara Gampong Dayah Usen, Mancang Kecamatan Meurah Dua dengan Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu Pidie Jaya itu, kini, telah rata dengan daratan usai jutaan gelondongan kayu yang dibawa turun dari gunung saat arus gelombang banjir bandang menerkam Pidie Jaya, pada Rabu 26 November 2025.
Seorang pria berbadan tegap berkulit gelap dengan mengenakan sepatu bot berwarna kuning tampak berdiri di atas hamparan gelondangan kayu gunung itu.
A Kadir Jailani Ketua DPRK Pidie Jaya, siang itu, Selasa 9 Desember 2025 mengenakan balutan kemeja dengan celana kain, berpadu sepatu bot kuning dan topi berwarna hitam.
Dahinya mengerut, alisnya meninggi, bibirnya mengatup seakan ia sedang memendam kesedihan saat sepasang matanya memandang wilayah Pidie Jaya telah porak-poranda diterjang bencana alam banjir dan longsor.
Selembar sarung mengantung di atas pundak sisi kiri pria yang karip disapa Pang Kade itu saat ia memantau proses normalisasi sementara sungai yang tertimbun kayu gunung agar air tidak mengalir lagi ke gampong-gampong untuk memberikan kenyamanan kepada masyarakat.
Sejumlah alat berat jenis excavator atau beco terlihat sibuk mengangkat material banjir bandang itu untuk membuka alur aliran sungai yang sudah tertutup itu.
Sisi kiri dan kanan sungai yang merupakan wilayah pemukiman penduduk, lumpur berpasir telah menimbuh rumah-rumah masyarakat dengan ketinggian sekira 1-3 meter.
Tatapanya kosong saat melihat sungai yang dulunya dalam itu, kini telah menjadi hamparan daratan gelondongan kayu gunung. Permukiman dan rumah-rumah warga yang tergenang lumpur bercampur pasir dengan ketinggian 1-3 meter.
Dampak dari tertutupnya DAS ini, kini sungai tersebut telah membuka sejumlah aliran anak sungai baru menuju perumahan warga.
Alur sungai baru itu terbuka ke Gampong Meunasah Lhok Kecamatan Meureudu dan Desa Blang Cut serta Dayah Kruet Kecamatan Meurah Dua.
Sesekali, cairan bening keluar dari sudut kedua bola mata dan membasahi pipi mantan Panglima GAM wilayah Meureudu itu.
“Kayu-kayu yang menutup sungai ini kalau tidak segera diangkat, maka saat hujan tiba, air sungai akan kembali membanjiri pemukiman penduduk dan merendam rumah-rumah warga. Maka rasa trauma masyarakat pun akan sangat sulit hilang,” kata A Kadir Jailani.
Gerak langkahnya tidak pernah diam, pria dengan panggilan Pang Kade ini, saban waktu berjalan setapak demi setapak untuk memastikan proses normalisasi sementara sungai pembatas Meunasah Lhok dan Dayan Usen itu bisa kembali terbuka untuk memperlancar jalur aliran sungai.

Bagi Pang Kade, di tengah-tengah kondisi darurat pascabencana, memberi rasa aman dan menghilangkan rasa trauma masyarakat merupakan hal terpenting yang harus dilakukan dan juga memastikan ketersediaan logistik yang cukup bagi korban untuk pemenuhan kebutuhan dasar manusia.
Selaku ketua DPRK Pidie Jaya, Pang Kade sudah pernah menyampaikan perihal pembersihan sungai untuk memperlancar jalur aliran sungai yang tertutup itu agar air sungai tidak lagi mengalir ke pemukiman penduduk dalam rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setempat.
Kata A Kadir, jika kondisi sungai tersebut tak kunjung dilakukan normalisasi sementara, maka masyarakat masih dibayang-bayang ketakutan, baik kehilangan nyawa, harta benda dan rumah-rumah, dan masyarakat tidak pernah aman dari ancaman air sungai yang kini sudah membelah perkampungan warga itu.
“Saat hujan deras pekan lalu, air sungai kembali memasuki gampong-gampong melalui alur anak sungai baru yang terbantuk pasca bencana akibat sungai telah tertimbun gelondangan kayu,” kata A Kadir Jailani.
Sesekali ia duduk sambil memegang sebatang rokok sigaret usai lelah menyisir sungai yang sudah menjadi hamparan gelondangan kayu saat memantau proses normalisasi sungai itu.
Ia pun menarik dalam-dalam rokok yang sedang ia hisap, kemudian dilepas-lepas pelan-pelan sekedar untuk menyamankan pikiran yang sedih akibat kondisi masyarakat Pidie Jaya yang sedang bergelut dengan lumpur bercampur pasir dan kayu pascabencana banjir bandang.
Pasca bencana alam terdahsyat meluluhlantak Pidie Jaya, Ketua DPRK setempat itu saban hari itu hilir mudik menyusuri gampong-pergampong untuk memantau langsung dan memberi semangat untuk warga yang menjadi korban banjir.
Ia tak pernah datang sendiri, saban memantau, Pang Kade selalu membawa serta sejumlah kerabatnya untuk dapat membantu masyarakat. Baik menyalurkan bantuan pangan maupun kebutuhan korban banjir lainnya.
Saluran aliran air sungai mulai terbentuk setelah beberapa hari dilakukan pengangkatan kayu. Namun itu belumlah tuntas, soalnya proses normalisasi sementara sungai keburu terhenti sementara, akibat adanya penolakan oleh sebagian kecil warga.
Namun, dia memastikan akan mencari solusi terbaik agar proses pembersihan tumpukan kayu dan lumpur di badan DAS krueng itu dapat diterima semua masyarakat, sehingga warga yang bermukim di sepanjang DAS krueng Meureudu merasa aman.
Iswadi salah seorang warga Gampong Mancang, Kecamatan Meurah Dua mengatakan, dalam beberapa hari terakhir A Kadir Jailani selalu datang untuk melakukan pembersihan hamparan gelondangan kayu yang menimbun sungai akibat bencana itu.
Saat proses pembersihan itu menggunakan sejumlah alat berat. Pang Kade selalu datang bersama Robet nama panggilan Abdullah.
“Pang Kade yang jak sabe yak pugleh kayee di Krueng. Get nyan na dibantu le Robet. Pang Kade ( A Kadir Jailani) dalam beberapa hari ini yang selalu datang untuk membersihkan tumpukan kayu di sungai itu. Ada si Robet (Abdullah) juga yang membantu,” kata Iswadi kepada popularitas.com, Rabu (10/12/2025)
Leave a comment