Home Headline Perang Iran, lonjakan harga minyak dan krisis keuangan global
HeadlineInternasional

Perang Iran, lonjakan harga minyak dan krisis keuangan global

Share
Tentara Iran berpatroli di Selat Hormuz di Iran selatan . FOTO : (Xinhua/Ahmad Halabisaz)
Share

POPULARITAS.COM – Perang di Timur Tengah yang libatkan Iran, Amerika Serikat dan Israel, picu kekhawatiran global, terutama lonjakan harga minyak yang dapat sebabkan krisis keuangan secara global.

Eskalasi keterangan saat ini, terutama di Iran, telah sebabkan pasokan 20 persen minyak dari Selat Hormutz terganggu. Hal itu bisa mengganggu rantai pasok energi di seluruh dunia.

Sejak perang pada 28 Februari 2026, harga minyak dunia terus mengalami kenaikan signifikan. Saat ini, Minyak mentah Brent, sebagai acuan internasional, naik 2,5 persen menjadi 105,61 dolar AS (1 dolar AS = Rp16.934) per barel pada perdagangan awal Asia, sementara patokan AS West Texas Intermediate naik hampir 3 persen menjadi 101,52 dolar AS. Brent telah naik lebih dari 40 persen.

Kenaikan harga ini mencerminkan kekhawatiran bahwa gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz, salah satu jalur transit minyak terpenting di dunia, serta rentetan serangan terhadap infrastruktur energi regional, berpotensi menekan pasokan energi global.

Warga menghadiri unjuk rasa menentang serangan AS-Israel terhadap Iran di luar Balai Kota Los Angeles di California, Amerika Serikat, pada 7 Maret 2026. (Xinhua/Qiu Chen)

Para analis menilai signifikansi dari krisis ini tidak hanya terletak pada volatilitas pasar jangka pendek, tetapi juga pada kemungkinan bahwa guncangan energi yang berkepanjangan dapat mengubah ekspektasi inflasi, prospek suku bunga, serta penetapan harga aset global.

Patrick Minford, profesor ekonomi terapan di Universitas Cardiff, mengatakan kepada Xinhua bahwa dampak ekonomi paling langsung dari krisis ini akan dirasakan melalui harga energi.

“Jika harga minyak tetap tinggi, hal itu akan memicu inflasi dan dapat memengaruhi ekspektasi terkait suku bunga,” katanya.

Guncangan energi ini terjadi di waktu yang sangat krusial. Pekan depan akan menjadi pekan yang sibuk bagi bank-bank sentral utama, dengan Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, Bank of England, dan Bank of Japan dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan. Pertemuan-pertemuan ini akan menjadi kesempatan resmi pertama bagi bank-bank sentral utama untuk menilai implikasi ekonomi dari krisis di Timur Tengah.

Menurut proyeksi Oxford Economics, guncangan energi saat ini dapat mendorong inflasi di Inggris dan zona euro kira-kira dua kali lipat dibandingkan di AS dan Kanada, yang mencerminkan ketergantungan Eropa yang lebih besar pada energi impor.

Di luar dampak makroekonomi, ketidakpastian geopolitik juga dapat memengaruhi bagaimana pasar keuangan menetapkan harga aset.

Hisham Farag, profesor keuangan di Universitas Birmingham, mengatakan risiko geopolitik biasanya muncul di pasar melalui premi risiko yang lebih tinggi.

“Ketika ketidakpastian meningkat, investor menuntut kompensasi yang lebih besar untuk risiko,” kata Farag kepada Xinhua.

Menurut Farag, dampaknya kemungkinan tidak akan merata di seluruh industri. Sektor pertahanan, kedirgantaraan, dan energi mungkin akan mendapat manfaat dari meningkatnya permintaan dan pengeluaran pemerintah, sementara industri yang sangat bergantung pada stabilitas regional, termasuk pariwisata, logistik, dan real estat, dapat menghadapi tantangan yang lebih besar.

Krisis ini juga berpotensi memengaruhi pasar global melalui perilaku investasi dana kekayaan negara di Timur Tengah.

Menurut Farag, dana kekayaan negara Teluk secara kolektif mengelola aset senilai triliunan dolar AS dan memiliki investasi yang luas di seluruh dunia, termasuk sekitar 2 triliun dolar AS yang diinvestasikan di AS saja.

Jika ketegangan geopolitik berlanjut, dana-dana ini mungkin akan mengevaluasi kembali strategi investasi global mereka untuk memperkuat ketahanan portofolio.

Farag juga berpendapat pergeseran alokasi modal global dapat menciptakan peluang bagi beberapa emerging economy utama.

Menurutnya, negara-negara dengan pasar domestik yang besar dan prospek pertumbuhan jangka panjang yang lebih kuat, termasuk China, Brasil, dan beberapa negara kaya sumber daya, berpotensi menarik lebih banyak investasi jangka panjang jika investor global mencari diversifikasi di luar pasar Barat tradisional.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
InternasionalNews

Krisis Demografi Makin Nyata, Jepang Kehilangan 3 Juta Penduduk dalam 5 Tahun

POPULARITAS.COM – Jepang tengah menghadapi krisis demografi yang kian mengkhawatirkan. Dalam lima...

InternasionalNews

Teheran Siapkan Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Selama 3 Hari

POPULARITAS.COM – Pemerintah Kota Teheran mengumumkan rencana penyelenggaraan prosesi pemakaman untuk Ayatollah...

Internasional

Kapal Perang Prancis tahan kapal Rusia, Jubir : Ini pelanggaran internasional

POPULARITAS.COM – Kapal Perang Prancis, Minggu 31 Mei 2026, tahan kapal Tagor...

InternasionalNews

5 Tewas, Akibat Ledakan di Pabrik Perusahaan Ruang Angkasa Korea Selatan

POPULARITAS.COM – Insiden meledaknya pabrik milik perusahaan pertahanan utama Korea Selatan, Hanwha...

Exit mobile version