POPULARITAS.COM – Keterangan di wilayah perbatasan antara Thailand dan Kamboja terus bergejolak. Aksi saling serang antara kedua kubu masih terjadi ditengah upaya global menghentikan pertempuran dua negara tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka, telah meminta kedua negara untuk berhenti berperang. Namun, fakta di lapangan, artileri dan aksi saling tembak antara personel militer terus berlangsung.
Akibatnya, banyak korban jatuh dari kedua belah pihak, baik militer maupun masyarakat sipil. Pemerintah Thailand melaporkan, 8 personel militer dan 22 warga sipil di negara tewas. Sementara, 140 lainnya terluka.
Sementara itu, dari pihak Kamboja dilaporkan 13 orang meninggal dunia. Bentrokan ini juga memaksa puluhan ribu warga sipil dari kedua sisi perbatasan mengungsi demi keselamatan.
Saling Tuding dan Eskalasi Artileri
Kementerian Pertahanan Kamboja melalui juru bicaranya, Maly Socheata menuduh pasukan Thailand telah melintasi perbatasan dan menembakkan peluru artileri serta roket ke wilayah Kamboja. Pernyataan ini dikutip dari laporan Khmer Times.
Sementara itu, militer Thailand melalui Juru Bicara Richa Suksuvanon menyebutkan bahwa pasukan Kamboja justru yang terlebih dahulu melancarkan tembakan artileri, menyebabkan kerusakan pada berbagai infrastruktur sipil di wilayah Thailand.
Ia menyatakan, Thailand hanya akan menghentikan serangan jika Kamboja bersedia bernegosiasi.
Upaya Mediasi oleh Trump Belum Berhasil
Presiden Donald Trump, yang ikut memediasi konflik, telah melakukan percakapan langsung dengan Perdana Menteri Thailand dan Kamboja pada Sabtu (26/7/2025).
Ia menyebut kedua pihak telah sepakat memulai perundingan gencatan senjata. Namun, hingga saat ini baku tembak masih terus berlangsung.
Jenazah Tentara Diserahkan secara Humanis
Dalam perkembangan lain, otoritas Thailand menyerahkan 12 jenazah tentara Kamboja yang tewas dalam bentrokan kepada otoritas Kamboja.
Penyerahan dilakukan secara resmi pada Minggu (27/7/2025) di pos perbatasan permanen Chong Sa-ngam, Distrik Phu Sing, Provinsi Si Sa Ket.
Militer Thailand menyatakan pemulangan dilakukan atas dasar prinsip kemanusiaan, sebagai bentuk penghormatan kepada semua prajurit yang gugur, tanpa memandang kewarganegaraan.
Pemerintah Kamboja belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait pemulangan jenazah tersebut.
Latar Belakang Konflik Perbatasan
Thailand dan Kamboja telah lama bersengketa soal batas wilayah di sekitar Provinsi Preah Vihear (Kamboja) dan Provinsi Ubon Ratchathani (Thailand). Ketegangan terbaru dipicu insiden pada 28 Mei 2025, ketika seorang tentara Kamboja dilaporkan tewas dalam kontak senjata.
Sejak itu, konflik berkembang menjadi bentrokan artileri skala besar yang memakan korban sipil dan militer serta menimbulkan dampak kemanusiaan yang luas.
Meningkatnya eskalasi ini menjadi ujian serius bagi ASEAN dan PBB untuk segera turun tangan dalam proses mediasi dan de-eskalasi konflik. Hingga kini, belum ada tanda-tanda meredanya ketegangan di perbatasan Thailand-Kamboja.

Leave a comment