POPULARITAS.COM – Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dan Hari Guru Nasional (HGN) sering disamakan masyarakat, padahal keduanya memiliki makna, sejarah, serta tujuan berbeda. Hardiknas diperingati setiap 2 Mei, sementara HGN jatuh pada 25 November. Perbedaan peringatan perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional ini penting dipahami untuk menghargai kontribusi pendidikan nasional.
Hardiknas lahir dari perjuangan Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional sekaligus pahlawan nasional. Tanggal 2 Mei dipilih karena bertepatan dengan hari kelahirannya pada 1889. Peringatan ini menjadi momentum refleksi sistem pendidikan Indonesia.
Ki Hajar Dewantara, aslinya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, berasal dari keluarga Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta. Ia menempuh pendidikan di ELS (Sekolah Dasar Belanda) dan STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) di Batavia. Sebagai aktivis muda, ia aktif menulis kritik terhadap kebijakan pendidikan kolonial Belanda yang terbatas pada keturunan Eropa dan kalangan kaya.
Akibat tulisannya, Soewardi diasingkan ke Belanda mulai 1913 hingga dipulangkan pada 6 September 1919. Kembali ke tanah air, ia mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta dan berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara. Filosofi pendidikannya yang ikonik adalah “Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani”, artinya memberi teladan di depan, bimbingan di tengah, serta dorongan di belakang.
Baca Juga: Peringati Hardiknas, USK Banda Aceh gelar diskusi pendidikan seni hadirkan Prof Khairul Munadi
Dikutip dari rmol.id, Hardiknas ditetapkan untuk mengenang kiprah Ki Hajar Dewantara sebagai pelopor pendidikan nasional.
Sebaliknya, Hari Guru Nasional berfokus pada penghargaan terhadap dedikasi para guru. Peringatan ini terkait lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 25 November 1945. Laman resmi PGRI mencatat, sejak 1912 guru pribumi telah membentuk Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang mencakup guru bantu, guru desa, kepala sekolah, hingga pemilik sekolah.
Organisasi ini memunculkan cabang-cabang seperti Persatuan Guru Bantu (PGB), Perserikatan Guru Desa (PGD), Persatuan Guru Ambachtschool (PGAS), Perserikatan Normaalschool (PNS), dan Hogere Kweekschool Bond (HKSB). Ada pula kelompok berbasis agama atau kebangsaan, termasuk Christelijke Onderwijs Vereneging (COV), Katolieke onderwijsbond (KOB), Vereneging Van Muloleerkrachten (VVM), serta Nederlands Indische Onderwijs Genootchap (NIOG) yang terbuka untuk semua guru.
Pada 1932, 32 organisasi guru bersatu dan mengubah PGHB menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Langkah ini mengejutkan Belanda karena kata “Indonesia” mencerminkan semangat nasionalisme. Saat pendudukan Jepang, PGI dilarang beraktivitas.
Pasca-kemerdekaan 17 Agustus 1945, Kongres Guru Indonesia di Surakarta melahirkan PGRI pada hari terakhir kongres tersebut. Dikutip dari buku Sejarah Singkat Persatuan Guru Republik Indonesia (2020) yang dirujuk rmol.id, perubahan nama ke PGI pada 1932 menjadi tonggak persatuan guru bumiputera.
Kedua peringatan ini saling melengkapi. Hardiknas menginspirasi visi pendidikan merdeka, sementara HGN menghormati peran guru sebagai pilar utama. Pemahaman perbedaan Hardiknas dan Hari Guru Nasional ini mendorong apresiasi lebih dalam terhadap warisan pendidikan Indonesia.
(Sumber: rmol.id )

Leave a comment