POPULARITAS.COM – Tebing-tebing kapur kelabu menjulang tinggi, dindingnya berlubang dan berlekuk, sebagian diselimuti lumut dan akar pohon yang menjuntai. Di kakinya, air sebening kaca mengalir di sela bebatuan. Begitu jernihnya, kerikil di dasar sungai terlihat jelas dari permukaan.
Udara di sini terasa lebih sejuk dan lembap. Aroma batu basah dan dedaunan menguar, sementara gemericik air terdengar bersahutan dengan kicau burung dari balik pepohonan.
Inilah Pucok Krueng di Gampong Mon Ikeun, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.
Dalam bahasa Aceh, pucok berarti pucuk atau ujung, sedangkan krueng berarti sungai. Nama itu menggambarkan tempatnya: titik di mana air menyembul dari perut bukit karst, menjadi hulu bagi aliran sungai di bawahnya.
Sisi Lain Lhoknga
Selama ini, Lhoknga lebih dikenal dengan pantai dan ombaknya. Namun, beberapa kilometer dari bibir pantai, kecamatan ini menyimpan wajah lain: bentang karst yang menjulang dan mata air yang menenangkan.
Pucok Krueng berjarak sekitar 17 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh, atau 30 hingga 35 menit perjalanan dengan sepeda motor maupun mobil. Dari jalan utama Banda Aceh–Meulaboh, pengunjung berbelok ke jalan masuk menuju kawasan wisata.
Bagian akhir perjalanan butuh sedikit kesabaran. Namun, begitu tiba, semuanya terbayar. Air jernih, bebatuan alami, dan latar perbukitan karst terbentang di depan mata.
Dari Layar ke Kenyataan
Seperti banyak destinasi tersembunyi lainnya, Pucok Krueng kini dikenal luas lewat media sosial. Foto-foto air bening berlatar tebing kapur beredar dan memancing rasa penasaran.

Tasya (24), wisatawan asal Lhokseumawe, salah satunya. Ia datang bersama teman-temannya dari Banda Aceh, berboncengan sepeda motor. “Ini pertama kali saya ke sini. Kami tahu tempat ini dari media sosial, lalu memutuskan datang bersama teman-teman dari Banda Aceh menggunakan sepeda motor,” kata Tasya.
Rasa penasarannya terjawab. Bahkan, menurutnya, melihat langsung jauh lebih memukau daripada menatap layar ponsel.
“Suasananya tenang, airnya juga jernih. Saya takjub melihatnya secara langsung karena ternyata tempatnya seindah yang terlihat di media sosial,” ujarnya.
Gua, Stalaktit, dan Kelelawar
Pesona Pucok Krueng tak berhenti di permukaan. Bentang karst di kawasan ini menyimpan sejumlah gua yang mengalirkan air ke sungai. Dari mulut gua, stalaktit yang masih aktif terlihat menggantung, meneteskan air sedikit demi sedikit.
Di salah satu gua, koloni kelelawar bersarang. Suara cicitnya kerap terdengar dari kegelapan, berpadu dengan gema tetesan air di dinding batu.
Warga setempat mengingatkan, mandi di Pucok Krueng tak semudah di pantai. “Di sini, untuk mandi tidak semudah di pantai, sungainya berbatu dan dalam,” kata Rasyid,
Karena itu, pengunjung perlu berhati-hati, terutama yang membawa anak-anak atau tidak pandai berenang.
Mata Air yang Masih Bertahan
Di balik keindahannya, Pucok Krueng punya arti penting yang jarang disadari pengunjung.
Saat sejumlah mata air karst di Aceh Besar mulai mengering, termasuk Mata Ie di Darul Imarah yang kering total pertama kali pada 2017, Pucok Krueng justru masih bertahan. Penyelidik bumi dari Dinas ESDM Aceh, Teuku Mukhlis, menyebut Pucok Krueng sebagai satu-satunya karst di Aceh Besar yang debit airnya masih relatif stabil.
Kawasan ini juga dinilai memenuhi kriteria Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK), status perlindungan untuk karst yang punya nilai penting bagi tata air dan ekosistem. Kepala Karst Aceh sekaligus ahli speleologi Universitas Syiah Kuala, Abdillah Imron Nasution, menyebut Pucok Krueng berpotensi kuat ditetapkan sebagai KBAK.
Namun, prosesnya tidak singkat. Laporan inventarisasi karst kawasan ini sebenarnya sudah diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Besar sejak November 2007. Hingga kini, penetapan statusnya masih berproses.
Abdillah mengingatkan betapa rapuhnya bentang alam ini. “Jika bebatuannya rusak, kawasan ini tidak akan berfungsi dan tidak bisa diperbaiki kembali,” ujarnya, seperti dikutip Mongabay.
Menikmati Tanpa Merusak
Pucok Krueng membuktikan bahwa wisata Aceh Besar tak hanya bertumpu pada pantai. Bagi yang ingin perjalanan singkat dari Banda Aceh, kawasan ini menjadi pilihan menarik untuk mengisi waktu bersama keluarga atau teman.
Namun, menikmati keindahannya juga berarti ikut menjaganya. Bawa pulang sampah, jangan mencoret tebing atau menyentuh stalaktit, dan jangan mengganggu koloni kelelawar di dalam gua. Sebab, setiap tetes air yang mengalir di Pucok Krueng adalah hasil kerja alam selama ribuan tahun.
Menjelang sore, cahaya matahari yang miring menyinari dinding-dinding karst, mengubah warnanya dari kelabu menjadi keemasan. Air tetap mengalir, bening dan dingin seperti pagi tadi. Selama tebing-tebing ini terjaga, mata air terakhir yang setia di Aceh Besar itu akan terus mengalir.
Leave a comment