POPULARITAS.COM _ Bulan suci Ramadan membawa berkah tersendiri bagi pelaku usaha kecil di Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh. Tak hanya pedagang takjil dadakan yang meraup untung, perajin telur asin di Desa Suak Nibong, Kecamatan Tangan-tangan, juga merasakan lonjakan permintaan yang signifikan.
Bertambahnya permintaan ini karena meningkatnya konsumsi masyarakat saat sahur dan berbuka membuat berbagai komoditas pangan laris manis di pasaran. Salah satunya telur asin produksi warga desa pesisir tersebut yang kini diburu sebagai lauk praktis dan tahan lama.
Sejak awal Ramadan, aktivitas produksi di sentra pengolahan telur asin Suak Nibong lebih sibuk dari biasanya. Para perajin harus bekerja ekstra untuk memenuhi permintaan pasar yang melonjak tajam.
ashuri (44), salah seorang pengrajin telur asin setempat, mengaku bersyukur atas peningkatan pesanan saat Ramadan tahun ini. Dalam sembilan hari pertama Ramadan saja, ia bersama timnya telah memproduksi 50.000 butir telur asin, jumlah yang biasanya dicapai dalam sebulan penuh.
“Kalau bulan biasa kami produksi sekitar 50.000 butir per bulan. Sekarang baru sembilan hari puasa sudah mencapai angka itu,” ujar Jashuri saat ditemui Beritasatu.com, Jumat (27/2/2026).
Ia memprediksi, hingga akhir Ramadan, total produksi bisa menembus 150.000 hingga 200.000 butir, tergantung ketersediaan bahan baku. Namun lonjakan permintaan tersebut juga menghadirkan tantangan tersendiri.
Menurut Jashuri, pasokan telur bebek dari peternak kerap tidak stabil, terutama saat Ramadan dan peringatan Maulid Nabi. Kondisi ini membuat pengrajin kewalahan memenuhi permintaan pasar yang datang dari berbagai kabupaten di Aceh.
“Kalau bahan baku tidak ada, pasti produksi menurun. Sementara permintaan terus meningkat,” tambahnya.
Untuk harga jual, telur asin dipasarkan dengan variasi harga. Di tingkat pengecer dijual Rp 3.000 per butir, sedangkan pembelian dalam jumlah besar bisa mendapatkan harga Rp 2.700 per butir. Permintaan dari pasar tradisional hingga pedagang eceran disebut meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan hari biasa.
“Harganya masih sama seperti sebelum Ramadan, tidak ada peningkatan,” lanjut Jashuri.
Meski mengalami kendala keterbatasan bahan baku, Jashuri tetap menjaga kualitas produksi. Telur asin buatannya, yang dikerjakan bersama sejumlah ibu-ibu dan lanjut usia di desa tersebut, masih menggunakan metode tradisional berbahan abu dapur.
Telur bebek yang telah dipilih dan dibersihkan dilumuri campuran abu hasil pembakaran gabah dan garam, diberi sedikit air serta cuka hingga membentuk pasta. Campuran ini berfungsi menutup pori-pori cangkang sekaligus membantu proses penetrasi garam ke dalam telur.
Setelah dilumuri merata, telur disimpan dalam wadah tertutup selama 10-14 hari, tergantung tingkat keasinan yang diinginkan.
“Kalau mau rasa lebih asin dan kuning telur lebih berminyak, biasanya disimpan sampai dua minggu. Tergantung permintaan,” jelasnya.
Metode tradisional tersebut menghasilkan cita rasa khas dengan tekstur lebih padat. Cara ini telah dilakukan secara turun-temurun dan menjadi ciri khas telur asin Suak Nibong.
Sementara itu, Kepala Desa Suak Nibong Adami Usman, mengapresiasi semangat para perajin di wilayahnya. Ia menilai usaha rumahan telur asin memiliki potensi besar dalam mendongkrak perekonomian masyarakat, terutama saat Ramadan.
“Kami sangat mendukung usaha ini karena mampu meningkatkan pendapatan warga. Momentum Ramadan menjadi peluang besar yang harus dimanfaatkan,” ujar Adami.
Ia berharap ada dukungan lanjutan, baik berupa bantuan modal maupun kemudahan akses bahan baku, agar kapasitas produksi dapat terus ditingkatkan.

Leave a comment