POPULARITAS.COM – Kesehatan mental anak tidak terbentuk begitu saja. Selain dipengaruhi oleh lingkungan sekolah dan pergaulan, rumah menjadi tempat pertama yang berperan dalam membentuk ketahanan mental anak.
Psikolog klinis Meiri Dias Tuti, M.Psi., Psikolog mengatakan keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak.
Karena itu, orangtua memiliki peran besar dalam menciptakan suasana yang mendukung tumbuh kembang emosional anak.
Menurut Meiri, anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik.
Rumah yang harmonis menjadi fondasi kesehatan mental anak
Meiri menjelaskan, membangun ketahanan mental anak perlu dimulai dari lingkungan keluarga yang sehat dan kondusif.
Orangtua tidak hanya bertugas memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga memberikan rasa aman secara emosional.
“Kalau ingin anak memiliki kesehatan mental yang baik, orangtua perlu menciptakan hubungan keluarga yang harmonis dan menghadirkan lingkungan rumah yang aman serta nyaman,” ujar Meiri dikutip dari Antara, Kamis (16/7/2026).
Suasana rumah yang penuh dukungan membantu anak merasa diterima, dihargai, dan lebih percaya diri saat menghadapi berbagai tantangan di luar rumah.
Selain lingkungan yang positif, Meiri menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan gizi anak. Asupan makanan bergizi tidak hanya mendukung pertumbuhan fisik, tetapi juga berperan dalam perkembangan otak dan kesehatan mental anak.
Nutrisi yang baik membantu fungsi otak bekerja secara optimal sehingga anak lebih mampu mengelola emosi, berkonsentrasi, dan belajar.
Karena itu, menjaga pola makan sehat menjadi salah satu investasi penting bagi perkembangan anak secara menyeluruh.
Menurut Meiri, keluarga juga menjadi tempat utama bagi anak untuk belajar adab, nilai moral, dan kebiasaan sehari-hari.
Meski anak bersekolah, orangtua tetap memegang tanggung jawab utama dalam proses pendidikan karakter.
Sekolah, kata dia, merupakan mitra yang membantu menjalankan sebagian proses pendidikan, bukan mengambil alih sepenuhnya peran keluarga.
Karena itu, orang tua sebaiknya memilih sekolah yang sejalan dengan nilai dan visi keluarga, terutama yang turut menanamkan karakter, etika, serta nilai moral selain kemampuan akademik.
Di rumah, pendidikan karakter dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana, seperti membangun komunikasi yang baik, mengajarkan disiplin, menunjukkan rasa saling menghargai, serta memenuhi kebutuhan kasih sayang anak.
Membangun ketahanan mental anak juga membutuhkan kerja sama antara keluarga dan sekolah.
Meiri mengatakan guru memiliki kesempatan untuk mengamati perilaku anak selama berada di lingkungan sekolah. Dari hasil pengamatan tersebut, guru dapat menyampaikan kepada orangtua apabila terdapat perubahan perilaku atau kesulitan yang dialami anak.
Kolaborasi antara orangtua dan sekolah memungkinkan anak memperoleh dukungan yang tepat apabila menghadapi tantangan dalam proses belajar maupun bersosialisasi.
Meiri mengingatkan orangtua untuk tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga profesional apabila anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan mental.
Beberapa kondisi yang perlu diwaspadai antara lain anak menolak pergi ke sekolah (mogok sekolah), mengalami ketakutan atau kecemasan yang berlebihan, kesulitan berinteraksi dengan orang lain, hingga tidak mampu beradaptasi di lingkungan baru.
Menurut Meiri, pemeriksaan atau skrining sejak dini dapat membantu mengetahui apakah anak mengalami gangguan tertentu sekaligus memberikan arahan mengenai langkah penanganan yang tepat.
Dengan begitu, anak dapat memperoleh dukungan yang dibutuhkan agar mampu membangun ketahanan mental dan berkembang secara optimal.
Membangun kesehatan mental anak memang tidak bisa dilakukan secara instan. Lingkungan keluarga yang hangat, komunikasi yang terbuka, pemenuhan kebutuhan gizi, serta kerja sama dengan sekolah menjadi fondasi penting agar anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh secara emosional.


Leave a comment