Home Ekonomi Satu minggu, investor asing jual saham BCA, BMRI, dan BRI senilai Rp4,01 triliun
EkonomiHeadline

Satu minggu, investor asing jual saham BCA, BMRI, dan BRI senilai Rp4,01 triliun

Share
ilustrasi gambar, Karyawan berjalan di dekat  layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/6/2022). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.
Share

POPULARITAS.COM – Triliunan dana asing yang terpakir di sejumlah bank nasional, kurun waktu satu minggu terakhir memilih hengkang. Tercatat, sebanyak Rp4,01 triliun investasi negara luar keluar dari tiga perbankan, yakni, BCA, BRI, dan Mandiri.

Gejolak kaburnya dana asing itu, tak lepas dari gejolak pasar imbas dari sentimen MSCI atau Morgan Stanley Capital Internasional.

Tekanan tersebut muncul setelah MSCI mengusulkan penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Usulan itu memicu kekhawatiran di pasar dan memperburuk tekanan terhadap sejumlah saham unggulan.

Mengacu pada data Stockbit Sekuritas yang diakses Minggu (18/10/2026), saham BCA mencatatkan arus jual bersih asing terbesar di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni Rp 1,85 triliun. Posisi berikutnya ditempati BRI dengan Rp 1,1 triliun dan Bank Mandiri sebesar Rp 1,06 triliun.

Besarnya tekanan terhadap saham BCA juga terlihat pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Pada hari ketika indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam di tengah sentimen MSCI, BBCA ditutup merosot 14,8% ke level Rp 5.175 per saham.

Koreksi saham BCA tidak hanya terjadi dalam satu hari. Dalam sepekan, harganya turun 14,4%, sedangkan dalam sebulan terakhir melemah 19,1%. Sejak awal 2026, saham bank yang dikendalikan Robert Budi Hartono tersebut telah kehilangan 35,9% nilainya.

Di tengah tekanan harga itu, KB Valbury Sekuritas sebelumnya tetap merekomendasikan beli (buy) saham BBCA. Sekuritas tersebut menetapkan target harga Rp 9.480 per saham, dengan asumsi valuasi price to book value (P/B) sebesar 3,8 kali berdasarkan proyeksi 2026.

KB Valbury menilai harga saham saat ini berpotensi mengalami penilaian ulang (re-rating) apabila katalis positif terhadap kinerja BCA mulai terealisasi.

Dari sisi operasional, peluang penguatan kinerja dapat berasal dari pertumbuhan kredit dan imbal hasil kredit yang melampaui perkiraan. Kedua faktor tersebut berpotensi meningkatkan net interest margin (NIM), yakni margin bunga bersih yang diperoleh bank.

Potensi perbaikan juga dapat didukung oleh biaya kredit (cost of credit) yang lebih rendah dari estimasi. Hal ini dimungkinkan apabila kebutuhan pembentukan pencadangan lebih awal tetap terkendali dan kualitas aset menunjukkan perbaikan.

Meski demikian, prospek saham BCA tetap menghadapi sejumlah tantangan. KB Valbury memperingatkan pertumbuhan kredit dan penyesuaian imbal hasil kredit yang berada di bawah perkiraan dapat membebani kinerja perseroan.

Selain itu, kenaikan biaya pendanaan dan biaya kredit yang melampaui estimasi serta penurunan NIM yang lebih besar dari proyeksi berpotensi menjadi tekanan tambahan. Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga masuk dalam daftar risiko yang dapat memengaruhi prospek BCA.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
EkonomiNews

Realisasi Anggaran Tambahan TKD Aceh 2026 Capai Rp 621,96 Miliar

POPULARITAS.COM — Angka penyerapan dana Tambahan Transfer ke Daerah (TKD) Aceh Tahun...

Ekonomi

OJK siapkan regulasi stabelcoin 2027

POPULARITAS.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan pengaturan stablecoin di Indonesia...

Ekonomi

ILO beri penghargaan kepada Bank Aceh atas dukungannya perkuat UMKM

POPULARITAS.COM – Bank Aceh menerima apresiasi dari International Labour Organization (ILO) atas...

EkonomiNews

Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, BPJPH Siapkan Aturan Khusus bagi UMK

POPULARITAS.COM – Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) memastikan implementasi Wajib Halal...

Exit mobile version