POPULARITAS.COM – Keterbatasan pekerjaan bagi lulusan baru di Korea Selatan (Korsel) mendorong semakin banyak anak muda mencari peluang kerja di Jepang.
Kondisi pasar tenaga kerja yang berbeda di kedua negara membuka peluang baru bagi perpindahan talenta muda, khususnya di bidang teknologi, ritel, dan pengembangan gim.
Pasar tenaga kerja Korsel menghadapi persoalan struktural karena ketersediaan pekerjaan tingkat pemula yang dianggap menarik masih terbatas. Perusahaan-perusahaan besar cenderung mengutamakan kandidat berpengalaman, sementara pekerja yang lebih tua juga bertahan lebih lama di dunia kerja.
Situasi tersebut membuat persaingan bagi lulusan muda semakin ketat. Pada Juni 2026, tingkat pengangguran kaum muda Korsel tercatat 7,0%.
Jepang justru menghadapi persoalan berbeda. Penuaan populasi dan menyusutnya jumlah angkatan kerja membuat perusahaan di negara tersebut kesulitan memenuhi kebutuhan tenaga kerja.
Tingkat pengangguran Jepang secara keseluruhan tercatat 2,5% pada Juni 2026. Di tengah keterbatasan tenaga kerja, sejumlah perusahaan masih mempertahankan sistem perekrutan lulusan baru dalam jumlah besar dan menyediakan pelatihan terstruktur bagi pekerja yang baru memulai karier.
Perbedaan tersebut membuat Jepang semakin menarik bagi lulusan muda Korsel.
Human Resources Development Service of Korea mencatat 2.257 anak muda Korsel mendapatkan pekerjaan di Jepang melalui program yang didukung pemerintah pada 2025. Jumlah tersebut meningkat 47% dibandingkan 2024 dan menjadikan Jepang sebagai tujuan utama pekerja muda Korsel yang mencari pekerjaan di luar negeri.
Sebaliknya, jumlah pekerja muda Korsel yang memperoleh pekerjaan di Amerika Serikat (AS) melalui program serupa justru turun 29%.
Saat ini, lebih dari 80.000 warga Korsel bekerja di Jepang. Menurut Korea Labor Institute, sebagian besar menempati posisi profesional di sektor ritel, teknologi informasi (TI), dan pengembangan gim.

Perusahaan Jepang Buru Talenta Korea
Meningkatnya kebutuhan tenaga kerja di Jepang turut melahirkan perusahaan yang membantu mempertemukan pencari kerja Korsel dengan perusahaan Jepang.
Pengusaha Jepang Moe Kasugai mendirikan KOREC pada 2019 setelah melihat banyak lulusan Universitas Yonsei di Seoul kesulitan mendapatkan pekerjaan meski memiliki kualifikasi akademik dan kemampuan bahasa yang baik.
“Saya terkejut mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan karena mereka sangat pintar. Banyak yang bisa berbicara bahasa Jepang, jadi saya berpikir mungkin lebih baik bagi mereka pergi ke Jepang,” kata Kasugai, dikutip Reuters.
Kebutuhan terhadap layanan semacam itu terus meningkat. Perusahaan Korsel Wanted Lab bersama perusahaan Jepang LAPRAS yang bergerak di bidang penempatan talenta teknologi meluncurkan layanan pada tahun ini untuk menghubungkan tenaga kerja Korsel dengan perusahaan Jepang.
Layanan tersebut melanjutkan tren yang sebelumnya telah dilakukan sejumlah perusahaan, termasuk Mynavi.
Sedikitnya tiga bursa kerja yang berfokus pada perusahaan Jepang juga digelar di Seoul sepanjang 2026. Sejumlah perusahaan yang berpartisipasi antara lain Canon Imaging Systems dan kelompok perusahaan otomasi industri Azbil.
Menariknya, perpindahan tenaga kerja tersebut terjadi ketika rata-rata tingkat upah di Korsel sedikit lebih tinggi dibandingkan Jepang. Artinya, keputusan lulusan muda Korsel untuk mencari pekerjaan di Jepang tidak semata-mata berkaitan dengan besaran gaji.
Kesempatan memperoleh pengalaman kerja dan pelatihan menjadi salah satu daya tarik utama.
Di sisi lain, semakin banyaknya pekerja Korea yang direkrut perusahaan Jepang juga membawa tantangan baru, terutama dalam mempertahankan karyawan.
Kasugai mengatakan pekerja Korea cenderung lebih terbuka untuk berpindah perusahaan demi mendapatkan perkembangan karier dan gaji yang lebih tinggi. Pola tersebut berbeda dengan budaya kerja tradisional Jepang yang selama ini identik dengan hubungan kerja jangka panjang.
“Ini jelas menjadi hambatan bagi perusahaan Jepang,” kata Kasugai.
Namun, perubahan juga mulai terjadi di pasar tenaga kerja Jepang. Semakin banyak pekerja muda Jepang yang kini memilih berpindah perusahaan untuk mendapatkan peluang yang lebih baik.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya ketimpangan kebutuhan tenaga kerja di kedua negara. Korsel menghadapi persaingan ketat untuk pekerjaan tingkat pemula di tengah tingginya jumlah lulusan berkualifikasi. Sebaliknya, Jepang membutuhkan tambahan tenaga kerja akibat perubahan demografi.
Bagi perusahaan Jepang, kondisi tersebut membuka akses terhadap sumber talenta baru. Sementara bagi anak muda Korsel, Jepang menjadi alternatif untuk memperoleh pengalaman kerja dan memulai karier ketika peluang di dalam negeri semakin terbatas.
Leave a comment