POPULARITAS.COM – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bersama PT Pema Global Energi (PGE) resmi memulai pengeboran sumur eksplorasi Rayeu D-1 di Desa Alue Serdang, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara. Tajak sumur (spud in) dilakukan pada Sabtu (31/10/2026) pukul 18.00 WIB.
Dari sumur ini, PGE menargetkan produksi awal sebesar 300 barel kondensat per hari (BCPD) dan gas 11,4 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Jika berhasil, temuan ini diharapkan memperkuat keberlanjutan produksi migas di Wilayah Kerja (WK) Blok B, Aceh.
Pengeboran Rayeu D-1 dilakukan secara berarah (directional drilling) menggunakan rig BMA-16 berkapasitas 1.500 HP milik PT Bina Mitra Artha (BMA). Sumur ditargetkan mencapai kedalaman akhir 6.953 kaki terukur (feetMD) atau 6.894 kaki kedalaman vertikal sebenarnya (TVD).
Pengeboran ini bertujuan mengonfirmasi hasil survei seismik 3D sebelumnya sekaligus membuktikan potensi hidrokarbon di prospek Rayeu D. Target utamanya berada pada reservoir batupasir Formasi Lower Seurula, yakni lapisan LS-1 dan LS-2.
Butuh 74 Hari, Anggaran 17,5 Juta Dolar AS
Berdasarkan Authorization for Expenditure (AFE) yang telah disetujui, kegiatan ini menelan anggaran sebesar 17,5 juta dolar AS.
Pengeboran diperkirakan memakan waktu 50 hari operasi rig, dengan total durasi hingga penyelesaian sumur mencapai 74 hari. Rangkaian itu mencakup pengeboran, komplesi, pembersihan sumur (clean-up well), hingga pengujian sumur (well testing).
Kepala BPMA, Mawardi Nur, menyebut dimulainya pengeboran ini sebagai langkah penting untuk mendorong eksplorasi migas di Aceh.
“Pengeboran Rayeu D-1 merupakan bagian dari upaya kita untuk terus membuka peluang penemuan cadangan migas baru di Aceh. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan hasil yang positif sehingga mampu menambah potensi cadangan minyak dan gas bumi, sekaligus memperkuat keberlanjutan operasi hulu migas di Wilayah Kerja Blok B,” ujar Mawardi.
Keselamatan Jadi Ukuran Keberhasilan
Mawardi juga meminta seluruh pihak bersinergi agar pengeboran berjalan sesuai target, tanpa mengabaikan keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan.
“Setiap kegiatan eksplorasi memiliki tantangan dan risiko tersendiri. Karena itu, kami meminta seluruh pihak memastikan standar keselamatan kerja diterapkan secara konsisten, operasi berjalan efektif, serta setiap tahapan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku. Keberhasilan pengeboran ini tidak hanya diukur dari pencapaian target teknis, tetapi juga dari pelaksanaan operasi yang aman dan bertanggung jawab,” tegasnya.
BPMA memastikan akan terus mengawasi dan mengendalikan kegiatan hulu migas di Aceh, termasuk memastikan program kerja dan komitmen investasi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) berjalan sesuai kontrak.
Jika berhasil, pengeboran Rayeu D-1 diharapkan tak hanya menambah cadangan dan produksi migas, tetapi juga mendongkrak penerimaan daerah, menggerakkan ekonomi masyarakat, dan mendukung ketahanan energi nasional.


Leave a comment