Home Internasional Trump Tuduh Iran Bangun Senjata Nuklir, Intelijen AS dan IAEA Bantah
Internasional

Trump Tuduh Iran Bangun Senjata Nuklir, Intelijen AS dan IAEA Bantah

Share
Trump Tuduh Iran Bangun Senjata Nuklir, Intelijen AS dan IAEA Bantah
Gambar ilustrasi (ChatGPT/AI)
Share

POPULARITAS.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menuduh Iran aktif mengembangkan senjata nuklir dan berusaha membangun kembali fasilitasnya setelah serangan udara AS-Israel pada Juni 2025. Tuduhan itu disampaikan Trump dalam pidato State of the Union Februari 2026 serta beberapa pernyataan publik berikutnya.

Namun penilaian intelijen Amerika Serikat dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) justru membantah klaim tersebut. Menurut komunitas intelijen AS, Iran tidak sedang membangun senjata nuklir dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei belum mengotorisasi program senjata yang dihentikan sejak 2003.

Direktur Intelijen Nasional AS Tulsi Gabbard menyatakan secara tegas dalam sidang Senat Maret 2026 bahwa tidak ada upaya Iran untuk membangun kembali kemampuan pengayaan uranium pasca-serangan.

Dikutip dari testimony tertulis DNI Tulsi Gabbard, 18 Maret 2026, mengatakan “Akibat Operasi Midnight Hammer, program pengayaan nuklir Iran telah dihancurkan. Tidak ada upaya sejak saat itu untuk mencoba membangun kembali kemampuan pengayaan mereka. Pintu masuk ke fasilitas bawah tanah yang dibom telah dikubur dan ditutup dengan semen.”

Gabbard juga menegaskan pintu masuk fasilitas bawah tanah telah ditutup dengan semen dan intelijen terus memantau tanda-tanda awal aktivitas baru.

Baca juga: CIA klaim serangan Amerika Serikat berhasil hancurkan fasilitas Nuklir Iran

Sementara itu, IAEA di bawah Direktur Jenderal Rafael Grossi menyatakan hingga Maret 2026 tidak menemukan bukti kredibel adanya program senjata nuklir terstruktur yang sedang berjalan di Iran. Laporan IAEA sebelum serangan Juni 2025 pun menyebut tidak ada indikasi kegiatan senjata yang tidak diumumkan.

Meski demikian, IAEA tetap khawatir dengan stok uranium Iran yang diperkaya hingga 60 persen sebelum serangan. Jumlah itu cukup untuk beberapa bom jika diperkaya lebih lanjut, tetapi tidak ada bukti weaponisasi atau pengembangan hulu ledak.

Serangan Operasi Midnight Hammer Juni 2025 memang merusak fasilitas pengayaan utama Iran. Namun pakar dan laporan intelijen menilai kerusakan itu hanya menunda program selama berbulan-bulan hingga setahun, bukan menghancurkannya total.

Trump juga menyebut Iran sedang mengembangkan rudal jarak jauh yang “segera” bisa mencapai wilayah Amerika Serikat. Penilaian intelijen AS menolak klaim itu dan memperkirakan Iran baru bisa memiliki rudal balistik antarbenua yang layak militer paling cepat tahun 2035.

Hingga pertengahan April 2026, kedua belah pihak masih terlibat dalam ketegangan diplomatik. Intelijen AS dan IAEA terus memantau situasi, sementara Trump bersikeras Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam bentuk apa pun.

Baca juga: Pentagon Klaim Blokade Selat Hormuz Efektif di Hari Pertama, Enam Kapal Pilih Berbalik Diplomasi AS-Iran Masih Buntu

Fakta ini menunjukkan perbedaan pandangan yang jelas antara pernyataan presiden dan kesimpulan resmi intelijen serta pengawas nuklir internasional. (hsn)

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
InternasionalNews

Baru 5 Hari Kerja, Sekretaris Pers Donald Trump Dipecat

POPULARITAS.COM –  Sekretaris pers Gedung Putih Katie Zacharia dipecat, padahal baru lima...

InternasionalNews

Gegara Gunting Hilang, 20 Lebih Penerbangan di Naha Jepang Terganggu

POPULARITAS.COM – Masalah sebuah gunting mendadak hilang mampu mengganggu jadwal penerbangan sekaligus...

Internasional

China perluas Taman hiburan Kota Salju jadi 1,25 juta meter

POPULARITAS.COM – Harbin Ice-Snow World di Harbin, ibu kota Provinsi Heilongjiang, Tiongkok...

Internasional

Gempa 7,5 Magnitudo guncang Panama, status darurat

POPULARITAS.COM – Panama mengumumkan pada Sabtu (10/10) status darurat untuk mengoordinasikan upaya...

Exit mobile version