Home Headline Tulis Surat Cinta untuk Mualem, 52 Emak-emak ini Minta Alam Gampong Mereka Diselamatkan
HeadlineNewsPolitik

Tulis Surat Cinta untuk Mualem, 52 Emak-emak ini Minta Alam Gampong Mereka Diselamatkan

Share
Seorang anggota FPPLH Aceh menunjukkan surat cinta untuk Mualem, berisikan agar gubernur Aceh memprioritaskan pembenahan lingkungan demi ksejeahteraan masyarakat Aceh. Poto : DYZ | Popularitas.com
Share

POPULARITAS.COM – Forum Perempuan Paralegal Lingkungan Hidup (FPPLH) Aceh mendesak Pemerintah Aceh untuk meredefinisi kebijakan tambang rakyat agar tidak dijadikan dalih pembenaran eksploitasi. Mereka meminta kebijakan yang dikeluarkan benar-benar berpihak pada keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan.

Hal ini tercantum dalam 52 lembar surat cinta bertulis tangan yang dituliskan serentak oleh para emak yang berasal dari 15 kabupaten/kota di Aceh yang tergabung dalam FPPLH Aceh.

Koordinator FPPLH Aceh, Iramaya menyebutkan saat ini kondisi alam Aceh sedang berada dalam keadaan genting. Hutan-hutan dibabat, sungai-sungai tercemar, rawa-rawa mengering, dan tambang-tambang dibiarkan merusak ruang hidup masyarakat.

“ Kondisi ini, yang paling merasakan dampaknya adalah perempuan. Sebab, ketika alam rusak, kehidupan mereka ikut terampas, kami akan segera mengantar surat ini kepada Mualem,” katanya.

Para perempuan dari 15 kabupaten/kota di Aceh, menunjukkan Surat bertulis tangan yang akan diserahkan kepada Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, Kamis (23/10/2025). Poto : DYZ | popularitas.com.

Desakan lain juga disampaikan FPPLH dalam petisi yang ditandatangani bersama oleh perempuan paralegal lingkungan hidup. Tuntutan tersebut adalah, mendesak Pemerintah Aceh untuk memastikan ruang dan wilayah kelola perempuan di sekitar kawasan hutan, bukan malah mengobral izin perusahaan dengan mengatasnamakan ekonomi rakyat.

Meminta Pemerintah Aceh untuk membuka akses keterbukaan informasi dan menjamin ruang kritis yang bebas bagi perempuan di Aceh, bukan menghadirkan program yang membungkam daya kritis masyarakat.

Mengakomodir Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) provinsi secara utuh dan mengikat. Sebab KEL merupakan nadi kehidupan Aceh yang tidak boleh dikorbankan untuk kepentingan korporasi.

Mendesak percepatan pembentukan Peraturan Gubernur tentang Penetapan Konflik Satwa sebagai Kejadian Luar Biasa, sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah dalam mitigasi dan penyelesaian interaksi negatif manusia dan satwa liar di Aceh.

Menuntut komitmen Pemerintah Aceh untuk membangun ekonomi berbasis potensi lokal, seperti ekowisata dan produk kerajinan di tingkat gampong, serta memastikan masyarakat memperoleh akses dan manfaat ekonomi tanpa merusak lingkungan.

Menuntut penegakan hukum yang tegas terhadap perusahaan dan mafia tambang yang merusak  lingkungan, serta menindak pejabat yang lalai mengawasi. Pemerintah harus bertanggung jawab dalam memulihkan ekosistem melalui reboisasi, reklamasi, dan perlindungan kawasan rawa dan mangrove.

Menuntut pelibatan aktif perempuan dalam setiap proses pengawasan maupun pengambilan keputusan terkait lingkungan. Memastikan perlindungan penuh terhadap perempuan pembela lingkungan dari segala bentuk ancaman, intimidasi, dan kriminalisasi.

Memastikan seluruh kebijakan pemeintah memenuhi prinsip akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat (APKM) bagi kelompok perempuan secara adil dan berimbang, serta memastikan implementasi kebijakan tersebut berpihak pada masyarakat hingga ke tingkat desa.

“ Kami tidak menolak pembangunan. Namun kami menolak pembangunan yang mengabaikan keadilan, mengorbankan lingkungan, dan mempersempit ruang hidup rakyat. Kami menolak kebijakan yang hanya berpihak pada modal, sementara masyarakat kecil dipinggirkan. Kami menolak Aceh dijadikan ladang eksploitasi atas nama kemajuan,” tegas Iramaya.

Ira Maya mengatakan penyelamatan Aceh tidak bisa hanya menunggu inisiatif dari pemerintah. Masyarakat, terutama perempuan, Pemerintah Aceh diminta segera mengambil langkah nyata, bukan sekadar janji atau seremonial.

“Kami tidak akan diam. Kami tidak akan berhenti bersuara. Karena bagi kami, menjaga alam berarti menjaga kehidupan,” sebut Iramaya.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
EkonomiNews

Misi Dagang Aceh-Jatim Catat Transaksi Rp1,079 Triliun

POPULARITAS.COM  – Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah (Dek Fadh) menyambut baik pelaksanaan misi...

InternasionalNews

Eksekusi Mati Pezina di Tanah Suci, Hubungan Saudi dan Bangladesh Memanas

POPULARITAS.COM –  Hubungan bilateral Bangladesh dan Kerajaan Arab Saudi tengah diuji. Baru-baru...

News

Satgas PRR Aceh Paparkan Progres Pemulihan Pascabencana di Berbagai Sektor Strategis

POPULARITAS.COM –  Pemerintah menegaskan akan terus mengoptimalkan upaya percepatan pemulihan Aceh pascabencana...

News

3 Hal yang Disampaikan Sekjen PBB Saat Bertemu Prabowo

POPULARITAS.COM – Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)...

Exit mobile version