POPULARITAS.COM – Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita tengah viral menjadi perbincangan publik setelah sejumlah agenda nonton bareng (nobar) dilaporkan dibubarkan. Peristiwa tersebut membuat film garapan Dandhy Laksono dan Cypri Jehan itu viral di media sosial dan memicu diskusi luas terkait isu yang diangkat di dalamnya.
Film berdurasi sekitar 95 menit itu mengangkat persoalan pembangunan di Papua Selatan, mulai dari konflik lahan, eksploitasi sumber daya alam, hingga dampak proyek strategis nasional (PSN) terhadap masyarakat adat Papua.
Dalam film tersebut, latar cerita berfokus di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, Papua Selatan. Dokumenter ini menyoroti kehidupan masyarakat adat seperti suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu yang disebut kehilangan ruang hidup akibat ekspansi perkebunan tebu, sawit, serta proyek food estate.
Film ini menggambarkan pembukaan hutan adat untuk proyek bioetanol dan ketahanan pangan berskala besar. Pada sisi lain, masyarakat lokal disebut semakin tersingkir dari tanah leluhur mereka.
Narasi dalam film menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk kolonialisme modern di Papua. Selain konflik lahan, Masyarakat Adat Papua, dokumenter ini juga menyoroti dugaan militerisasi dalam pengamanan proyek investasi di wilayah tersebut.
Salah satu simbol yang ditampilkan adalah pemasangan salib merah oleh masyarakat adat sebagai bentuk penolakan terhadap perusahaan dan penguasaan lahan di wilayah mereka.
Suara Mahasiswa Papua
Mahasiswa Papua yang tergabung dalam Komite Sapu Alam, Fransiska, nilai film tersebut menggambarkan kondisi nyata di Papua saat ini.
“Orang Papua punya rumah, tetapi tidak bisa tinggal di rumahnya sendiri,” ujar Fransiska, dikutip Jumat (15/5/2026).
Ia menyebut Papua menghadapi berbagai persoalan, mulai dari eksploitasi sumber daya alam, ekspansi perkebunan sawit di Sorong, pertambangan nikel di Papua Barat Daya, hingga pembukaan blok eksploitasi baru di sejumlah wilayah.
Fransiska juga menyoroti persoalan regulasi yang dinilai tidak melibatkan masyarakat Papua secara utuh, termasuk dalam sejumlah kesepakatan internasional seperti Rome Agreement (30 September 1962) dan New York Agreement (15 Agustus 1962).
Menurutnya, kolonialisme saat ini berjalan melalui kebijakan yang bersifat legal namun berdampak sistematis.
“Kolonialisme hari ini bekerja secara sistematis, masuk ke dalam struktur pemerintahan, kedalam kebijakan daerah, dan pada akhirnya mendukung keberlanjutan eksploitasi di Papua,” tambahnya.
Dokumenter Resistensi Masyarakat
utradara sekaligus antropolog, Cypri Jehan, menjelaskan Pesta Babi awalnya dirancang sebagai dokumenter tentang resistensi masyarakat melalui pendekatan budaya dan agama.
Namun, selama proses produksi, arah film berubah setelah tim menyaksikan langsung pembabatan hutan, perampasan tanah, serta kehadiran aparat bersenjata di wilayah sipil Papua.
Menurut Cypri, pengalaman tersebut membuat film ini tidak hanya membahas Papua, tetapi juga mencerminkan pola kekuasaan di Indonesia secara lebih luas.
Ia turut menyinggung sejumlah peristiwa sejarah seperti masuknya perusahaan tambang Freeport-McMoRan, Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969, hingga proyek strategis nasional di Papua.
Cypri menyebut film ini terinspirasi dari pidato Soekarno dalam Konferensi Asia Afrika mengenai kolonialisme di Asia dan Afrika.
“Semangat itu menjadi dasar kami membaca Papua,” pungkas Cypri.
Solidaritas dan Kritik Pembangunan
Peneliti Pusaka Bentala Rakyat, Sutami Amin, menyebut kondisi di Papua menunjukkan paradoks sejarah.
“Pada satu sisi ada proyek dekolonial yang besar, tetapi di sisi lain menyembunyikan proyek kolonial,” imbuhnya.
Ia menilai sejak masa kolonial Belanda hingga kini, Papua kerap digambarkan secara stereotip untuk membenarkan intervensi pembangunan. Menurutnya, pola tersebut masih berlanjut melalui pendekatan pembangunan modern yang melibatkan negara, korporasi, dan proyek besar.
Amin juga menyoroti kebijakan swasembada pangan yang diarahkan ke Papua dengan masuknya proyek perkebunan skala besar serta keterlibatan aparat keamanan.
Ia menegaskan persoalan Papua melibatkan jejaring kekuasaan yang luas, termasuk negara, korporasi, dan modal global. Karena itu, ia menilai solidaritas antara masyarakat Indonesia dan Papua penting untuk memperjuangkan kemanusiaan dan martabat masyarakat adat.
Kolaborasi Produksi Film
Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita merupakan hasil kolaborasi Jubi Media, Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia.
Dokumenter ini menjadi sorotan karena mengangkat isu masyarakat adat, eksploitasi lingkungan, serta dampak proyek pembangunan di Papua Selatan. Viralitasnya juga memicu diskusi publik terkait kebebasan berekspresi, pembangunan, dan kondisi sosial masyarakat Papua saat ini.

Leave a comment