POPULARITAS.COM – Tiga pekan pascabencana di Pidie Jaya, air, lumpur, dan sisa gelondongan kayu masih jadi pemandangan sehari-hari. Rumah-rumah penduduk yang terimbas dari hal itu, sebagian telah dibersihkan secara mandiri. Namun, tak sedikit yang masih membiarkannya.
Begitulah potret disebagian besar kampung-kampung di Pidie Jaya pascabencana banjir bandang menghumbalang negeri berjuluk Japakeh itu.
Pidie Jaya, satu dari daerah di Aceh yang parah terdampak bencana. Curah hujan tak henti sejak 19-25 November 2025, sebabkan sejumlah sungai-sungai di wilayah itu meluap.
Warga Pidie Jaya, Iqbal yang sempat merekam momen air bah saat meluluhlantakkan daerah itu, menceritakan bahwa, dirinya sempat memvideokan saat detik-detik air bah naik di Gampong Daya Usen, Meurah Dua. Saat itu, Selasa 25 November 2025 pukul 22.15 WIB.
“Awal-awal air naik secara perlahan. Namun, tiba-tiba luapan air bah menghancurkan segalanya,” kisah Iqbal kepada popularitas.com, Selasa (16/12/2025).
Saat air naik, Sambung Iqbal lagi, hujan turun sangat deras. Saat itu, gemuruh suara air seolah getarkan bumi. Terlihat di permukaan air, gelondongan kayu ikut terbawa bersama. “Saat itu, naluri saya berkata untuk selamat diri,” ungkapnya.
Hal serupa juga diceritakan oleh Mukhtar (60). Warga Gampong Blang Awe itu menceritakan, saat bencana melanda, ia tak sempat menyelamatkan barang-barang dirumah. Kala itu, selamatkan diri jauh lebih penting. “Malam itu jam 02.00 WIB dinihari, air bah melumat seluruh desa. Saya manjat ke atap rumah selamatkan nyawa,” paparnya.
Dari atap rumahnya, Mukhtar menyaksikan saat-saat air bah, menerjang dan menghancurkan rumah-rumah warga dan sekolah. “Sekolah MIN dan rumah-rumah warga semua hancur,” sebutnya.
Pada hari ke-2, tepatnya tanggal 27 November 2025, hujan deras seolah tak henti. Namun, air yang semula tinggi mulai surut. Sisakan Lumpur-lumpur tebal, gelondongan kayu dan menutupi area jalan dan perkampungan.
Rumah-rumah warga ada yang tertutup lumpur setinggi tiga meter. Bahkan, satu perkampungan nyaris tertimbun gelondongan kayu yang entah darimana asalnya.
“Kami saat itu melihat bagaimana rumah-rumah warga di Seunong roboh amblas ke sungai saat air banjir bandang terjadi,” kata Mukhtar,” Jumat (28/11/2025) satu hari pasca banjir bandang surut.
Berdasarkan data Posko penanggulangan bencana Pidie Jaya, 110 rumah dan lahan warga hilang total terbara arus banjir. 4.079 rumah rusak berat, 2.987 rusak sedang dan 2.873 rusak ringan.
Sepanjang 56 kilometer lebih jalan lingkungan di Pidie Jaya mengalami kerusakan, baik parah maupun ringan. Kerusakan jalan kabupaten juga capai 117 ruas. Kemudian 18,6 kilo jalan usaha tani. Serta 62 km irigasi tersier. 26,6 km jaringan air bersih.
Kerusakan lahan tambak capa 1,757 hektar. 534 lahan perkebunan dan 82 ruas jalan perkebunan. Kini, Senin 15 Desember 2025 atau hampir tiga pekan pasca bencana alam terdahsyat itu, kondisi Pidie Jaya masih terasa seakan banjir bandang baru terjadi kemarin.
Lumpur-lumpur bercampur pasir mulai memadat material bandang itu masing menimbun perkampungan, rumah-rumah warga masih tergenang lumpur yang mulai memadat setinggi 1-3 meter.
Sekitar 476 hektar lahan pertanian di areal kecamatan Meurah Dua, tepatnya di sisi kiri dan kanan jalan provinsi lintas Trienggadeng-Samalanga rusak total setelah lumpur menimbun areal persawahaan sudah sejajar dengan badan jalan.

Beberapa titik akses jalan di gampong-gampong memang mulai dibersihkan. Namun justru mempelihatkan kondisi kengerian yang begitu kontras.
Soalnya, pasca penggerukan dengan ketebalan lumpur yang dikeruk di badan capai 1,5 meter itu jalan terlihat seperti aliran sungai baru. Seperti yang terlihat di seputaran Gampong Mancang, Kecamatan Meurah Dua.
Seorang pria paru baya berbaju kotor dengan tangan kanan menggenggap skrop peralatan seadanya berdiri di depannya rumahnya.
Ia bersama keluarga secara mandiri mencoba membersihkan lumpur yang mulai memadan yang menimbun rumahnya itu. “Hana merdeka lom kamoe. Belum merdeka kami,” kata warga Gampong Mancang, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya, Senin (15/12/2025).
Dari arah depan rumah warga Mancang itu, tepatnya di hamparan gelondongan kayu yang menimbun Daerah Aliran Sungai Krueng Meureudu, terdengar suara alat berat yang sedang membuka kembali DAS yang tertutup itu.
Sungai itu dulunya dalam, kedalamnta sekira 6-7 metere dari daratan. Namun kini telah rata menjadi hamparan lumpur dan gelondongan kayu berkualitas super berukuran besar.
Salah seorang warga yang ditemui di jembatan penghubung Gampong Dayah Usen, Meurah Dua dengan Meureudu, Pidie Jaya, yang enggan menyebut namanya mengaku, kondisi serupa hampir terjadi di semua wilayah di sejumlah kecamatan setempat.
Kata dia, untuk mempercepat proses pemulihan pasca bencana dengan kerusakan terparah itu butuh penanganan ekstra besar.
“Sang meunye daerah tok, pemulihan nyoe muploh-ploh thon han siap nyoe. (Kalau hanya daerah yang tangani, pemulihan pasca bencana puluhan tahun tak akan sepenuhnya selesai,” katanya
Dia berharap Pemerintah Pusat untuk dapat menetapkan bencana banjir bandang di Aceh sebagai bencana nasional. Sehingga proses pemulihan pun kian cepat.
Leave a comment