Home Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Air Terjun Ceuraceu, Sumber Kehidupan di Balik Rimbun Hutan Abdya
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata AcehFeatureNewsWisata

Air Terjun Ceuraceu, Sumber Kehidupan di Balik Rimbun Hutan Abdya

Share
Air Terjun Ceuracu, Aceh Barat Daya. Poto : Rahmat | Popularitas.com.
Share

POPULARITAS.COM – Bagi para pencinta alam, Aceh Barat Daya (Abdya) adalah ladang eksplorasi tanpa akhir. Dari lembah yang sunyi hingga sungai berair jernih, setiap jengkal Bumoe Breuh Sigupai menawarkan kejutan.

Satu nama kembali mencuri perhatian, yakni Air Terjun Ceuraceu, pesona tersembunyi di hutan lebat Kuala Batee yang menantang untuk ditaklukkan.

Nama Air Terjun Ceuraceu mungkin belum begitu populer di telinga wisatawan diluar Kabupaten Aceh Barat Daya, tapi bagi warga sekitar, pesonanya telah lama menjadi bagian dari hidup dan kebanggaan yang tak ternilai, warga menyebutnya sebagai ‘mutiara hutan’.

Air terjun ini berada di Desa Drien Beurumbang, wilayah yang dahulu merupakan bagian dari Krueng Batee, Kecamatan Kuala Batee.

Letaknya terpencil, tersembunyi di balik perbukitan hijau, namun justru di situlah pesonanya, keindahan yang lahir dari kesunyian.

Perjalanan menuju Air Terjun Ceuraceu dimulai dari pusat Kota Blangpidie, ibu kota Kabupaten Aceh Barat Daya. Jaraknya hanya sekitar enam kilometer, atau sekitar 15 menit perjalanan menggunakan sepeda motor. Namun sesampainya di ujung jalan desa, kendaraan harus ditinggalkan.

Dari titik itu, langkah kaki menjadi satu-satunya cara untuk melanjutkan petualangan.

Biasanya, kendaraan dititipkan di rumah warga atau di kompleks Balai Benih Ikan (BBI) Krueng Batee), sekitar 300 meter dari Jalan Nasional Tapaktuan–Banda Aceh.

Bagi sebagian orang, perjalanan ini terasa menantang, jalur yang menanjak dan berliku seolah menguji semangat untuk sampai ke surga kecil bernama Ceuraceu. Berbeda bagi pencinta alam, perjalanan inilah inti dari petualangan, saat setiap tetes keringat terbayar dengan keheningan hutan, dan gemericik air.

Pastikan bekal, air minum, dan alas kaki yang kuat sudah siap sebelum langkah pertama diayunkan menuju Air Terjun Ceuraceu.

Di sepanjang jalur ini tak akan ditemukan warung atau kios. Hanya rimba yang tenang, semilir angin, dan aroma tanah basah yang menemani setiap langkah.

Setelah meninggalkan jalan utama, jalur menuju Ceuraceu perlahan berubah. Tanah mulai tak rata, dipenuhi bebatuan kecil dan akar pohon yang menjalar di sepanjang lintasan. Sesekali terlihat bekas tapak hewan liar dan jejak para penjelajah yang lebih dulu melintas.

Suara gemericik air mulai terdengar dari kejauhan, lalu tampak sungai kecil berkelok di depan mata. Arusnya cukup deras, namun airnya sebening kristal. Dari permukaannya, terlihat dasar sungai yang bersih, tempat ikan-ikan kecil berenang bebas menyambut setiap pendatang.

Di kiri dan kanan jalur, pepohonan pala dan durian tumbuh lebat, sebagian milik warga setempat.

Perjalanan menuju air terjun ini rata-rata memakan waktu 30 hingga 45 menit, tergantung kecepatan langkah.

Namun, waktu itu sering terasa cepat berlalu. Suhu udara di kawasan ini cukup sejuk, sekitar 14 derajat Celcius, sehingga tubuh tidak cepat letih.

Sesekali, pengunjung bisa berhenti untuk beristirahat di tepi sungai, menikmati kesegaran air, atau berfoto di tengah rimbunnya pepohonan.

Semakin jauh melangkah, suara gemuruh air mulai terdengar. Di beberapa titik, akar-akar pohon menggantung di tebing kecil, membentuk lorong alami.

Ketika papan bertuliskan “Welcome to Ceuraceu” terlihat di depan mata, rasa lega sekaligus takjub langsung menyelimuti.

Air Terjun Ceuraceu terdiri dari beberapa tingkat. Setiap tingkat memiliki karakter berbeda, ada yang mengalir lembut seperti tirai air, ada pula yang jatuh deras dan membentuk kolam alami di bawahnya.

Kolam ini menjadi tempat favorit para pengunjung untuk berendam dan melepas lelah. Airnya dingin seperti es, berasal langsung dari mata air pegunungan.

Keindahan Air Terjun Ceuraceu bukan hanya pada aliran airnya, tapi juga pada suasana sekitarnya yang masih sangat alami.

Tak ada bangunan permanen, kios, atau tempat parkir besar. Semua masih dibiarkan seperti apa adanya. Hanya ada beberapa spot alami yang biasa digunakan pengunjung untuk duduk, bersantai, atau menikmati bekal yang mereka bawa.

Di sekitar air terjun, tumbuh beragam vegetasi hutan seperti bambu, pakis, dan beberapa pohon besar yang memiliki akar gantung.

Udara yang dihirup segar tanpa polusi, membuat siapa pun betah berlama-lama. Namun, pengunjung perlu berhati-hati dengan tumbuhan jelatang yang tumbuh di beberapa titik, daunnya bisa menyebabkan gatal jika tersentuh kulit.

Bagi warga setempat, kawasan ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan bagian dari kehidupan mereka sehari-hari.

Di masa lalu, jalur ini bahkan pernah menjadi lintasan para mantan kombatan GAM dan TNI saat masa konflik di Aceh.

Kini, Ceuraceu tak lagi sunyi seperti dulu. Setiap hari, terutama di akhir pekan, selalu ada saja banyak pengunjung, terutama anak muda yang datang, ada yang hanya singgah hingga sore, ada pula yang memilih bermalam dengan mendirikan tenda di tepi aliran sungai.

Suasana kian hidup, namun tetap tertib. Menariknya, setiap pengunjung yang tiba seolah tak percaya bahwa kawasan ini tak berpenghuni. Tak ada sampah berserakan, tak ada sisa plastik di antara bebatuan.

Semuanya tertata bersih, seakan ada tangan-tangan tak terlihat yang setiap hari merawatnya demi menjaga keasrian alam Ceuraceu.

Saat sore tiba, pancaran sinar matahari yang menembus dedaunan menciptakan pantulan cahaya di permukaan air.

Banyak pengunjung yang enggan cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Ada yang duduk di atas batu besar, ada yang masih berendam, atau sekadar menikmati udara dingin sambil memotret pemandangan.

Air Terjun Ceuraceu memang belum memiliki fasilitas modern seperti destinasi wisata lain. Namun, justru disitulah daya tariknya. Ia menawarkan keaslian, ketenangan, dan pengalaman menyatu dengan alam.

Tak heran, banyak yang menyebut Ceuraceu sebagai ‘surga tersembunyi’ di jantung hutan Bumoe Breuh Sigupai, pesona alami yang tetap lestari di tengah tenangnya alam Abdya.

Jika dikelola dengan baik, dilengkapi pandu jalur yang aman, area istirahat, papan petunjuk, Air Terjun Ceuraceu berpotensi menjadi ikon wisata baru di Aceh Barat Daya.

Mungkin suatu hari nanti, Air Terjun Ceuraceu tak lagi hanya menjadi cerita dari para penjelajah muda, tetapi menjadi tempat di mana keluarga berkumpul, anak-anak bermain di tepian air, orang tua duduk di bawah rindang pepohonan, dari hutan Abdya.

Kini tinggal keseriusan pemerintah, dan pihak terkait untuk menjadikannya bukan sekadar pesona tersembunyi, melainkan kebanggaan dan sumber penghidupan bagi masyarakat Abdya.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

4 Fakta Kasus Dugaan Korupsi BGN yang Menjerat Dadan Hindayana Cs

POPULARITAS.COM – Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkap dugaan penyimpangan besar dalam tata kelola...

EkonomiNews

Mualem Panggil Kepala BPMA Bahas Blok Andaman dan Pipa Gas

POPULARITAS.COM – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem memanggil Kepala Badan Pengelola Migas Aceh...

News

Marzuki Ali Basyah luncurkan buku ‘Polda Aceh Meutuah’

POPULARITAS.COM – Irjen Pol Marzuki Ali Basyah, rabu (3/6/2026), resmi luncurkan bukunya....

News

Gerindra Pidie Jaya : Pergantian pimpinan BGN perkuat program MBG

POPULARITAS.COM – Politikus partai Gerindra di Pidie Jaya, Fakhrurrazi mendukung penuh kebijakan...

Exit mobile version