Home Internasional Dampak Gempa Sumatera 2004, Singapura Tenggelam secara Perlahan
InternasionalNews

Dampak Gempa Sumatera 2004, Singapura Tenggelam secara Perlahan

Share
Dampak Gempa Sumatera 2004, Singapura Tenggelam secara Perlahan. Foto : HO | popularias.com
Share

POPULARITAS.COM – Gempa dahsyat magnitude 9,2 di lepas pantai Sumatera pada 2004 telah menyebabkan daratan di Singapura tenggelam secara bertahap dalam beberapa tahun berikutnya, demikian temuan para ilmuwan.

Meskipun pergeseran tersebut hanya beberapa milimeter per tahun, pengukuran tersebut diperlukan untuk mempelajari kenaikan permukaan laut dan mengembangkan rencana adaptasi terhadap perubahan iklim.

Dikutip dari Straits Times, Senin (13/7/2026), penelitian yang dipimpin oleh Universitas Teknologi Nanyang (NTU) mengungkapkan, gempa besar di Sumatera juga telah menyebabkan penurunan permukaan tanah di Malaysia dan Thailand.

Para ahli geologi menemukan, tanah terus bergeser bahkan di tempat-tempat yang berjarak lebih dari 600 km dari lokasi gempa.

Tanpa memperhitungkan bagaimana tanah tenggelam dan naik, risiko banjir pesisir di daerah dataran rendah dapat diremehkan.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Communications Earth & Environment ini diumumkan pada Jumat (10/7/2026). “Ketika gempa bumi dahsyat terjadi, gempa tersebut tidak hanya mengguncang tanah selama beberapa menit,” kata Grace Ng, penulis utama studi tersebut. “Gempa tersebut memicu penyesuaian lambat jauh di dalam Bumi yang dapat berlanjut selama bertahun-tahun,” sambungnya.

Dipicu pergeseran lapisan mantel Bumi

Para peneliti mengaitkan pergerakan ini dengan lapisan mantel lemah di bawah kerak bumi di daerah yang dikenal sebagai busur belakang Sumatera. Lapisan ini membentang di belakang gunung berapi Sumatera tempat Singapura, Malaysia, dan Thailand berada.

Untuk memahami aktivitas bawah tanah ini, tim menganalisis data pergerakan tanah hingga dua dekade dari stasiun Sistem Navigasi Satelit Global di Singapura, Malaysia, dan Thailand.  Kemudian, mereka membandingkan rekaman ini dengan model komputer dari lapisan-lapisan Bumi.

Para ahli menemukan, pergerakan yang diamati hanya dapat dijelaskan jika mantel atas di bawah busur belakang cukup lemah untuk mengalir perlahan seiring waktu.  Saat material bawah tanah ini bergeser, kerak Bumi tenggelam di kota-kota di busur belakang Sumatera.

“Melakukan studi semacam itu sebelum tahun 2004 akan sulit,” kata Ng, seorang peneliti di Earth Observatory of Singapore milik NTU.

“Karena banyak stasiun penentuan posisi satelit kontinu yang dibutuhkan untuk mengukur deformasi jangka panjang baru dipasang setelah bencana tahun 2004,” tambahnya.

Perkuat hasil studi sebelumnya

Sebuah studi sebelumnya pada 2025 yang meneliti penyebab pergerakan tanah vertikal menemukan, tiga gempa terkuat di Bumi yang terjadi di Sumatera menyebabkan Singapura tenggelam dengan kecepatan hingga 2,2 milimeter per tahun antara Desember 2004 dan April 2012.

Kecuali pada periode pergerakan tektonik ini, pulau utama secara umum stabil dengan penurunan yang mendekati nol. Kini, setelah para peneliti lebih memahami viskositas mantel di bawah wilayah tersebut, mereka sedang memodelkan seberapa besar pergerakan tanah yang diamati disebabkan oleh efek jangka panjang dari gempa bumi besar.

Profesor AXA-Nanyang di bidang Ilmu Bumi dan Lingkungan sekaligus penulis senior makalah tersebut, Emma Hill mencatat, sebagian besar proyeksi kenaikan permukaan laut saat ini terutama berfokus pada faktor iklim seperti pencairan es dan pemanasan laut. “Studi baru kami menunjukkan bahwa penurunan daratan pasca gempa merupakan faktor penting dalam perubahan permukaan laut relatif regional,” ujarnya.

“Menggabungkan pergerakan geologis yang dalam ini ke dalam model kami akan membantu kami meningkatkan perencanaan pesisir untuk kota-kota dataran rendah,” lanjutnya.

Rekomendasi untuk kebijakan pesisir pantai Dengan penurunan kumulatif Singapura berada pada skala sentimeter, Ng mengatakan masih ada waktu bagi para pembuat kebijakan untuk bertindak.

“Selalu lebih baik untuk memasukkan model-model ini ke dalam rencana adaptasi lebih awal daripada menanggung biaya dengan melakukan perbaikan (infrastruktur) di kemudian hari,” jelas dia.

Sejauh ini, ia mencatat bahwa penggabungan perubahan ketinggian daratan akibat tektonik ke dalam penilaian permukaan laut lokal masih dalam tahap awal.

Selandia Baru dan Amerika Serikat termasuk di antara negara-negara yang mulai memperhitungkan efek ini. Menanggapi pertanyaan media, Layanan Meteorologi Singapura (MSS) di bawah Badan Lingkungan Nasional yang membantu mendanai penelitian tersebut, mengatakan bahwa potensi pengaruh gerakan tanah vertikal akibat gempa terhadap permukaan laut lokal masih merupakan bidang penelitian yang sedang berkembang.

Oleh karena itu, temuan-temuan ini tidak dipertimbangkan dalam proyeksi kenaikan permukaan laut terbaru Singapura, yang diterbitkan pada Januari 2024.

“Pusat Penelitian Iklim Singapura terus bekerja sama dengan komunitas peneliti untuk meningkatkan pemahaman ilmiah tentang faktor-faktor yang dapat memengaruhi perubahan permukaan laut lokal,” kata seorang juru bicara MSS.

Ng berharap studi ini akan mengubah cara pandang masyarakat Singapura terhadap dampak jangka panjang gempa bumi di wilayah tersebut.

“Di masa lalu, banyak orang berpikir bahwa Singapura terlalu jauh dari Sumatera sehingga tidak akan terpengaruh oleh gempa bumi di sana ,” ungkapnya.

“Namun, yang ingin kami sampaikan adalah meskipun kita berada sangat jauh, kita memiliki lapisan mantel lemah yang perlahan menyesuaikan diri di bawah kita setelah gempa bumi di Sumatera. Itulah mengapa kita masih bisa mengalami dampaknya,” pungkasnya.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
EdukasiNews

Hadiri MPLS di dua Sekolah Di Aceh Besar, Kadisdik Aceh Dorong Kreatifitas dan Sinergi Sekolah dan Rumah

POPULARITAS.COM –  Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMK Pembangunan Pertanian (SMKPP) Negeri...

EdukasiNews

Prof Mirza Lantik 12 Dekan, Fakultas Diminta Jadi Motor Kemajuan USK

POPULARITAS.COM – Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Mirza Tabrani, melantik 12 Dekan...

News

Tim Gabungan Kodam Iskandar Muda Musnahkan 50 Hektare Ladang Ganja di Kawasan Hutan Lindung Nagan Raya

POPULARITAS.COM – Tim gabungan Kodam Iskandar Muda melakukan operasi pemusnahan ladang ganja...

EdukasiNews

Kakanwil Kemenag Aceh Tinjau Matamuda di MTsN 1

POPULARITAS.COM – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Azhari, meninjau pelaksanaan...

Exit mobile version