HAVANA, POPULARITAS.COM — Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menyatakan negaranya dalam kondisi siap menghadapi segala bentuk ancaman dari Amerika Serikat, termasuk kemungkinan agresi militer. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya tekanan Washington yang dipimpin Presiden Donald Trump.
Penegasan tersebut disampaikan Díaz-Canel dalam rapat umum besar di Havana, Jumat (17/4/2026). Acara itu sekaligus memperingati 65 tahun deklarasi karakter sosialis Kuba oleh Fidel Castro pada 16 April 1961.
Dikutip dari CBS News, Díaz-Canel menyampaikan pernyataan tegas di hadapan massa yang hadir.
“Momen ini sangat menantang dan menyerukan kesiapan menghadapi ancaman serius, termasuk agresi militer. Kami tidak menginginkannya, namun kami siap menghindarinya dan, jika tidak dapat dihindari, mengalahkannya,” ujarnya.
Retorika Trump Picu Eskalasi
Ketegangan antara kedua negara memanas setelah Trump secara terbuka menyebut Kuba sebagai target berikutnya dalam kebijakan luar negeri AS. Ia bahkan beberapa kali menyatakan keinginan untuk “merebut” Kuba dalam berbagai bentuk.
Trump juga mengancam akan menjatuhkan sanksi atau tarif terhadap negara mana pun yang memasok minyak ke Kuba. Langkah ini memperketat blokade ekonomi yang sudah berlangsung sejak era Perang Dingin.
Baca juga: Amerika Serikat diminta akhiri blokade terhadap Kuba
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut memperkeruh suasana dengan menyebut pemerintah Kuba tidak efektif dan represif.
Krisis Energi dan Ekonomi Memburuk
Di dalam negeri, Kuba tengah menghadapi krisis yang disebut sebagai yang terparah dalam beberapa dekade terakhir. Pembatasan pasokan minyak dari mitra utama seperti Venezuela, Meksiko, dan Rusia memicu pemadaman listrik berkepanjangan, kelangkaan bahan bakar, penurunan aktivitas ekonomi, hingga gelombang emigrasi tenaga profesional.
Díaz-Canel menolak tuduhan AS yang menyebut Kuba sebagai negara gagal. Ia menegaskan kondisi tersebut merupakan dampak langsung dari tekanan eksternal.
“Kuba bukan negara gagal. Kuba adalah negara yang terkepung,” tegasnya.
Latar Sejarah dan Kepentingan AS
Konflik Kuba-AS memiliki akar sejarah panjang. Salah satu titik paling krusial adalah Invasi Teluk Babi pada April 1961, ketika sekitar 1.400 eksil Kuba yang dilatih dan didanai CIA gagal menggulingkan pemerintahan Castro. Peristiwa itu hingga kini menjadi simbol perlawanan Kuba terhadap intervensi Amerika.
Upaya normalisasi hubungan sempat dilakukan pada 2015 di bawah Presiden Barack Obama, namun dibatalkan pada masa jabatan pertama Trump.
Berdasarkan dokumen kebijakan luar negeri AS, Washington menargetkan sejumlah kepentingan strategis terhadap Kuba, antara lain: mendorong transisi demokrasi multipartai, memutus dukungan Havana kepada pemerintahan Venezuela, membuka akses pasar di sektor pariwisata dan energi, serta menekan Kuba atas isu hak asasi manusia dan stabilitas kawasan Karibia.
Dialog Terbuka, Prinsip Tak Bisa Diganggu Gugat
Meski ketegangan terus meningkat, sejumlah tokoh Kuba menyatakan kesiapan untuk berdialog. Mariela Castro menyebut masyarakat Kuba terbuka terhadap pembicaraan, termasuk dengan keterlibatan tidak langsung Raúl Castro dalam proses tersebut.
Namun, Pemerintah Kuba menegaskan dialog hanya bisa berlangsung tanpa menyentuh prinsip dasar sistem politik yang dianut. Hingga kini, belum ada kemajuan signifikan dari pembicaraan yang telah dilakukan kedua pihak. (hsn)
Sumber: beritasatu.com

Leave a comment