POPULARITAS.COM – Anggota DPR RI asal Aceh, Muslim Ayub, menyebut krisis infrastruktur di Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Tenggara, membuat dua kabupaten itu nyaris terisolasi dari dunia luar.
“Akses jalan utama lumpuh, komunikasi terputus, dan listrik mati total hampir 27 hari. Hingga malam ini belum pulih,” kata Muslim Ayub kepada Popularitas.com, Rabu (24/12/2025) malam.
Banjir bandang menerjang Desa Uyem Beriring dan Desa Kampung Pasir, Kecamatan Tripe Jaya, Kabupaten Gayo Lues. Dampaknya disebut sangat parah dan meluas.
“Ratusan rumah warga hancur, bahkan banyak yang rata dengan tanah,” ungkapnya.
Muslim Ayub yang turun langsung ke lokasi menyebut kondisi di lapangan sangat memprihatinkan. Jalur penghubung Gayo Lues–Kutacane Aceh Tenggara kini nyaris tak bisa dilalui secara normal.
“Biasanya dari Gayo ke Kutacane hanya dua jam. Sekarang bisa hampir delapan jam. Ini menunjukkan betapa parahnya kerusakan jalan,” ujarnya.
Kerusakan terparah terjadi di jalur menuju Kecamatan Tripe Jaya. Jalan yang sebelumnya ditempuh sekitar 30 menit, kini membutuhkan waktu lebih dari empat jam.
“Dari beberapa kabupaten yang saya kunjungi dan salurkan bantuan, ini salah satu titik paling parah dan saya sempat meneteskan air mata. Bahkan, saya sempat emosi dan memaksa rekan-rekan agar bisa menembus ke lokasi, demi melihat langsung kondisi masyarakat,” katanya.
Selain akses jalan, krisis listrik menjadi persoalan paling mendesak. Aliran listrik disejumlah wilayah Gayo Lues dan Aceh Tenggara padam total hampir satu bulan, melumpuhkan seluruh aktivitas warga.
“Tidak ada listrik, tidak ada lampu, komunikasi terputus, tadi selain memberikan sembako dan beberapa bantuan lainnya, saya juga memberikan satu unit genset, karena memang tidak ada penerangan dan gelap gulita di sana. Untuk itu, saya minta BUMN dan PLN segera turun tangan memperbaiki dan menghidupkan kembali listrik di Gayo Lues dan Aceh Tenggara,” tegas politisi Partai NasDem itu.
Data sementara dilapangan mencatat sedikitnya 500 rumah hancur dan sekitar 635 jiwa kehilangan tempat tinggal. Para korban kini bertahan dalam kondisi darurat tanpa hunian yang layak.
Melihat kondisi tersebut, Muslim Ayub mendesak pemerintah pusat, BNPB, serta kementerian terkait untuk segera membangun hunian darurat bagi korban banjir bandang.
“Mereka sudah tidak punya rumah. Negara harus hadir. Bangun barak yang layak, ada mushala, ada dapur umum. Kalau harus relokasi, lakukan segera. Apalagi ini akan segera memasuki bulan Ramadan,” ujarnya.
Ia menegaskan, penanganan bencana tidak boleh berlarut-larut karena kondisi warga sangat rentan.
“Ini bencana besar. Saya minta BNPB dan seluruh pihak terkait segera turun tangan. Jangan biarkan masyarakat bertahan sendiri dalam kondisi seperti ini,” pungkasnya.

Leave a comment