POPULARITAS.COM – Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa (23/6/2026) malam setelah pelaku pasar mencermati kondisi lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz serta perkembangan terbaru pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 45 sen menjadi US$ 77,45 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 34 sen ke level US$ 73,52 per barel.
Pergerakan harga terjadi di tengah ketidakpastian mengenai status Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi rute sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk olahan setiap hari sebelum konflik Iran berlangsung.
Presiden AS Donald Trump mengatakan sebanyak 19 juta barel minyak mengalir melalui Selat Hormuz pada Senin dan menyebut angka tersebut sebagai rekor. Namun, data tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Sebelumnya, Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup pada akhir pekan lalu. Namun, Komando Pusat AS menyebut jalur pelayaran tersebut tetap terbuka sehingga memunculkan kebingungan di pasar energi global.
Sentimen lain yang menekan harga minyak datang dari keputusan pemerintah AS memberikan lisensi sementara selama 60 hari yang mengizinkan produksi, pengiriman, dan penjualan minyak Iran. Kebijakan tersebut juga membuka peluang impor minyak mentah Iran ke AS dengan transaksi menggunakan dolar AS hingga 21 Agustus 2026.
Meski demikian, langkah tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa tambahan pendapatan minyak dapat dimanfaatkan Iran untuk memperkuat kemampuan militernya.
Menanggapi hal itu, Trump menegaskan pendapatan dari ekspor minyak seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Iran.
“Mereka seharusnya tidak melakukan itu, jadi kita lihat saja nanti,” kata Trump di Gedung Putih.
“Mereka seharusnya menggunakan uang itu untuk membeli makanan bagi rakyat mereka, karena saat ini rakyat mereka sangat lapar, dan mereka membelinya secara eksklusif dari kita, seperti jagung dan kedelai,” lanjutnya.
Optimisme pasar juga didorong oleh perkembangan pembicaraan AS-Iran di Swiss. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut negosiasi kedua negara menunjukkan kemajuan yang signifikan menuju penyelesaian yang lebih permanen.
Direktur Pelaksana Strategi Ekuitas AS Citi Research Scott Chronert menilai pergerakan harga minyak mencerminkan meningkatnya keyakinan investor bahwa konflik mulai mendekati akhir.
“Jika Anda hanya mengikuti pola perdagangan harga minyak di sini selama beberapa minggu terakhir, Anda akan melihat pasar memberi tahu Anda bahwa pasar semakin yakin bahwa kita semakin dekat dengan akhir konflik,” ujarnya.
Ia menambahkan tekanan harga energi yang selama ini memicu kekhawatiran inflasi diperkirakan akan berangsur mereda dalam beberapa bulan ke depan apabila proses diplomasi terus menunjukkan kemajuan.
Namun, Oman dan Iran dalam pernyataan bersama kembali menegaskan hak kedaulatan masing-masing negara atas perairan teritorial di Selat Hormuz, yang menunjukkan kawasan tersebut masih menjadi fokus perhatian pasar energi global.

Leave a comment