POPULARITAS.COM – Kapal tanker raksasa bermuatan bahan bakar LPG, alami serangan mematikan di Selat Hormuz. Pasukan AL IRGC Iran, lakukan serangan yang berakibat terjadinya ledakan besar pada Jumat 9 Oktober 2026.
Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan di media berita resmi IRGC, Sepah News, AL IRGC mengatakan bahwa setelah serangan itu, kapal yang diidentifikasi sebagai NV Sunshine terbakar di ruang mesin dan sistem propulsinya.
AL IRGC menegaskan bahwa militer Amerika Serikat (AS) bertanggung jawab langsung atas insiden semacam itu dan meningkatnya ketegangan dalam transportasi maritim di kawasan tersebut seraya menambahkan bahwa militer AS menyebabkan insiden semacam itu melalui intervensinya, manipulasi terhadap perusahaan pelayaran dan asuransi, serta pembayaran suap dalam jumlah besar.
AL IRGC memperingatkan bahwa perusahaan yang membiarkan diri mereka ditipu oleh AS akan dikenai sanksi, “dan tindakan hukuman yang diperlukan akan diberlakukan terhadap semua kapal milik perusahaan-perusahaan yang melanggar.
AL IRGC juga menekankan bahwa mulai sekarang, tindakan terhadap kapal-kapal yang melanggar tidak akan terbatas pada Selat Hormuz, dan setiap kapal yang melintasi jalur yang tidak diizinkan akan “dikejar dan pasti dihukum” di mana pun di kawasan tersebut.
Menurut pernyataan itu, pasukan AL IRGC memegang kendali penuh atas Selat Hormuz, akan mencegah kehadiran pasukan militer “agresif” di kawasan tersebut, dan akan mengambil tindakan tegas terhadap upaya “musuh” untuk mengganggu pengelolaan selat itu.
Secara terpisah, Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Kamis (8/10) menegaskan bahwa negaranya tidak akan meninggalkan meja perundingan meskipun AS telah dua kali menyerangnya di tengah perundingan sebelumnya antara kedua belah pihak, menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh kantornya.
Dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Turkmenbashi, Turkmenistan, Pezeshkian mengatakan, “Kami sedang berunding. Namun, setiap kali kami terlibat dalam dialog dengan AS, mereka kembali menyerang. Namun demikian, kami tidak akan meninggalkan meja perundingan dan dialog.”
Pezeshkian menambahkan bahwa Iran telah mengajukan sejumlah proposal, yang kemudian ditanggapi oleh AS dengan mengajukan proposal-proposal baru, seraya menyatakan, “Kami telah melakukan revisi terhadap proposal-proposal tersebut, dan setelah difinalisasi, rencananya adalah duduk bersama dan menyelesaikannya melalui para mediator yang ada.”
Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan kota-kota lain di Iran. Iran merespons dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta sejumlah pangkalan dan aset AS di kawasan tersebut, dan memperketat kendalinya atas Selat Hormuz.
Gencatan senjata berhasil dicapai antara pihak-pihak yang bertikai pada 8 April. Pada 18 Juni, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman (MoU) mengenai penghentian perang di semua front.
Berdasarkan MoU tersebut, kedua negara dijadwalkan mengadakan perundingan dalam waktu 60 hari, yang berakhir pada 17 Agustus, untuk mencapai kesepakatan akhir. Namun, kedua belah pihak gagal mencapai kemajuan yang memadai karena ketegangan terus meningkat.


Leave a comment