POPULARITAS.COM – Takluk dari Malaysia, Indonesia pulang bawa medali perak. Hal itu terjadi pada kejuaraan BWF World Junior Team Championship 2026, Jumat 9 Oktober 2026 di Kairo, Mesir.
Pada pertandingan tersebut, Tim bulu tangkis junior Indonesia, kalah pada babak semifinal dengan dua set langsung, skor 49-55 dan 42-55.
Manajer Tim Indonesia, Eskar Denatara mengatakan, pencapaian tersebut tetap patut disyukuri karena Indonesia datang ke turnamen sebagai tim beregu unggulan ke-10. Meski demikian, ia mengakui timnya ingin melangkah lebih jauh daripada semifinal.“Pertama, kami bersyukur bahwa dengan komposisi yang ada, kami berangkat ke Kairo ini sebagai tim beregu unggulan ke-10, tetapi kita mampu mencapai semifinal. Tentu tidak ada satu pun dari kami yang ingin kalah di babak ini. Kami ingin terus melaju,” kata Eskar Denatara dalam keterangan resmi PBSI, Sabtu (10/10/2026).
Menurutnya, tekanan mental menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penampilan para pemain saat menghadapi Malaysia. Ia menilai sejumlah pemain kesulitan bermain lepas, terutama pada set pertama, sehingga strategi yang telah disiapkan bersama pelatih tidak berjalan optimal.
Pada sektor tunggal putra, Indonesia sempat mengawali pertandingan dengan baik dan unggul cukup jauh. Namun, sektor ganda putri kehilangan banyak poin, sedangkan ganda putra yang berada dalam posisi cukup baik gagal mengamankan kemenangan pada partai terakhir.
“Kemudian menjelang akhir, ganda putra juga sebetulnya berada dalam posisi yang cukup baik. Sayang sekali gagal mengamankan kemenangan di partai terakhir,” ujarnya.
Eskar juga menyoroti atmosfer pertandingan yang dipenuhi suporter. Menurutnya, dukungan penonton dapat menjadi tambahan energi, tetapi juga berpotensi menambah tekanan bagi para pemain.
“Dengan teriakan yang tidak berhenti, itu menjadi beban tersendiri. Namun, sebetulnya anak-anak harus belajar dari hal ini. Ini adalah pembelajaran yang sangat berharga bahwa tekanan itu akan selalu ada,” katanya.
Ia menegaskan para pemain perlu belajar menjaga fokus poin demi poin, menjalankan strategi yang telah disiapkan, dan mengeluarkan kemampuan terbaik ketika menghadapi tekanan di pertandingan.
Meski gagal ke final, Eskar menilai medali perunggu tersebut sesuai dengan target awal yang ditetapkan sebelum keberangkatan. Tim Indonesia kini akan mengalihkan perhatian pada nomor perorangan dengan memperkuat persiapan fisik, mental, taktik, dan strategi.
“Kami akan mempersiapkan lagi kondisi fisik dan mental anak-anak, terutama dari sisi taktik dan strategi, untuk membawa mereka berprestasi di nomor perorangan atau individu,” jelasnya.
Eskar berharap Indonesia dapat meraih medali melalui sejumlah sektor, terutama tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran. Ia juga melihat peluang di tunggal putri setelah penampilan Jolin Angelia dan Mayla dinilai menunjukkan perkembangan yang impresif.
Untuk sektor ganda putri, tim akan berfokus pada kesiapan mental serta pematangan taktik dan strategi. Eskar berharap para pemain dapat tampil lebih lepas dan memberikan kejutan pada nomor perorangan.
Di sektor tunggal putra, Fardhan Rainanda Joe menjadi salah satu pemain yang diharapkan mampu bersaing memperebutkan medali. Joe sebelumnya telah meraih medali perak pada Asian Junior Championships (AJC), sehingga tim berharap ia dapat mempertahankan atau meningkatkan pencapaian tersebut.
Joe mengakui, dirinya kurang cepat beradaptasi ketika lawan mengubah strategi pada set kedua pertandingan melawan Malaysia. Menurutnya, lawan tampil lebih agresif dibandingkan set pertama sehingga ia kesulitan mengontrol permainan.
“Mungkin tadi di gim kedua saya kurang siap mengantisipasi perubahan strategi lawan. Lawan bermain lebih agresif dibandingkan gim pertama. Di gim pertama, dia tidak terlalu agresif, jadi saya bisa mengontrol permainan,” ulasnya.
Ia berharap tim Indonesia dapat tampil lebih kompak dan lebih siap menghadapi turnamen berikutnya. Untuk nomor perorangan, Joe menilai kesiapan mental, pikiran, dan fokus perlu ditingkatkan karena seluruh peserta memiliki ambisi yang sama untuk menjadi juara.
Sementara itu, Jolin Angelia mengatakan penampilannya pada pertandingan tersebut belum sepenuhnya maksimal. Meski ingin membawa Indonesia melaju ke final, ia menerima hasil yang diraih timnya dan tetap mensyukuri medali perunggu.
“Pastinya motivasi saya ingin menang, ingin membawa tim ini mengangkat piala. Namun, inilah hasilnya yang harus kami terima dan syukuri. Itu saja,” bebernya.
Ia menegaskan medali perunggu tetap menjadi pencapaian yang baik bagi tim Indonesia setelah melalui perjuangan di nomor beregu.
“Pastinya, perunggu ini bukan sesuatu yang jelek juga. Ini juga pencapaian yang bagus buat kami. Kami juga sudah berjuang melawan Chinese Taipei, tetapi memang hari ini belum harinya kami saja,” ujarnya.
Indonesia selanjutnya akan berupaya memperbaiki penampilan pada nomor perorangan BWF World Junior Championships 2026. Evaluasi dari kekalahan di semifinal diharapkan menjadi bekal bagi para pemain untuk bersaing memperebutkan medali.


Leave a comment