Home News ITB: Banjir Sumatera Dipicu Hujan Ekstrem 1.000 Tahunan
News

ITB: Banjir Sumatera Dipicu Hujan Ekstrem 1.000 Tahunan

Share
Sebagian wilayah Aceh akan dilanda hujan lebat
Ilustrasi hujan lebat disertai angin kencang sebabkan pohon tumbang (ANTARA)
Share

POPULARITAS.COM – Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah Sumatera pada akhir 2025 disebut bukan peristiwa biasa. Kajian forensik berbasis sains yang dilakukan Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Center for Analysis and Applying Geospatial Information (Cenago) menyimpulkan bencana tersebut dipicu oleh hujan dengan intensitas sangat ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar.

Curah hujan pada akhir November 2025 tercatat mencapai 150–300 mm per hari (kategori ekstrem) hingga di atas 300 mm per hari (sangat ekstrem). Berdasarkan model probabilitas, kejadian ini masuk kategori R700 hingga R1000- atau siklus kejadian 700-1.000 tahunan.

Angka tersebut jauh melampaui standar mitigasi banjir nasional yang umumnya dirancang hingga R50 (kejadian 50 tahunan).

Kajian Cenago mencakup analisis presipitasi, karakteristik hidrologi tiga daerah aliran sungai (DAS Badiri, Garoga, dan Batang Toru), perubahan tutupan lahan, hingga simulasi hidrologi-hidrolika.

“Jika secara kuantitatif kontribusi perubahan tutupan lahan yang dituduhkan relatif kecil, maka penetapan pertanggungjawaban mutlak (strict liability) terhadap pihak tertentu perlu ditinjau kembali demi objektivitas,” kata Heri dalam keterangannya, Minggu (22/2/2026).

Kajian ini tidak hanya mengandalkan citra satelit resolusi tinggi, tetapi juga memadukan data presipitasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat.

Selain itu, analisis mencakup digital elevation model (DEM), pendefinisian DAS dan sub-DAS, hingga parameter hidrologi-hidrolika standar.

Akademisi ITB Ahmad Imam Sadisun menambahkan secara geomorfologi, sejumlah longsor terjadi pada zona Toba Tuff dengan kemiringan sangat curam di hulu DAS Garoga.

“Secara prinsip aliran, air tidak mungkin mengalir dari elevasi lebih rendah ke wilayah lebih tinggi, sehingga lokasi tambang tertentu yang berbeda sub-DAS dinilai tidak berkontribusi langsung terhadap banjir di Desa Garoga,” kata Ahmad Imam.

 

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
News

BPK RI beri WTP ke-11 untuk Pemkab Pidie

POPULARITAS.COM – Pemkab Pidie raih opini wajar tanpa pengecualian (WTP) atas  laporan...

News

Terima WTP dari BPK RI, Bupati Abdya : Bukti tata kelola keuangan transparan

POPULARITAS.COM – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) kembali menorehkan prestasi membanggakan...

InternasionalNews

Demo Guru di Meksiko Jelang Piala Dunia: Urusan Kami Lebih Penting dari Sepak Bola

POPULARITAS.COM – Jelang dimulainya Piala Dunia 2026, situasi di ibu kota Meksiko...

News

BMKG: Aceh Masih Berpotensi Dilanda Hujan Lebat hingga Angin Kencang

POPULARITAS.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I...

Exit mobile version