Home News Kenaikan Cukai Resmi Berlaku, Rokok Berbahan Baku Impor Lebih Mahal
News

Kenaikan Cukai Resmi Berlaku, Rokok Berbahan Baku Impor Lebih Mahal

Share
Pemerintah resmi larang penjualan rokok eceran
Ilustrasi, (foto: bisnis)
Share

POPULARITAS.COM – Pemerintah mulai 1 Februari 2021 resmi memberlakukan kenaikan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT)  atau Cukai Rokok secara rata-rata tertimbang sebesar 12,5 persen. Namun, besaran kenaikan tarif cukai berbeda-beda berdasarkan golongan.

Untuk Sigaret Kretek Mesin (SKM) I kenaikannya mencapai 16,9 persen atau Rp125 menjadi Rp865 per batang. Sementara SKM II-A naik 13,8 persen sebesar Rp65 menjadi Rp535 per batang dan SKM II-B naik 15,4 persen menjadi Rp525 per batang.

Kemudian untuk Sigaret Putih Mesin (SPM) I naik 18,4 persen sebesar Rp145 menjadi Rp935 per batang. Lalu SPM II-A naik 16,5 persen menjadi Rp565 per batang dan SPM II-B naik 18,1 persen sebesar Rp70 menjadi Rp555 per batang.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menjelaskan perbedaan pengenaan tarif cukai untuk golongan Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM) yang utamanya terletak pada kandungan lokal.

“SPM jumlah tembakaunya, baik ukuran dan berat lebih banyak menggunakan impor,” kata Kepala Sub Bidang Cukai Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Sarno seperti dilansir laman Antara, Selasa (2/2/2021).

Menurut dia, dengan kandungan tembakau impor yang lebih banyak di SPM itu, maka tarif cukainya juga ditinggikan. Apalagi secara komposisi, konten lokal dalam SPM lebih rendah karena golongan tersebut adalah rokok putih dan tidak menggunakan cengkih.

Sedangkan SKM, lanjut dia, merupakan rokok kretek yang menggunakan cengkih, menggunakan produk tembakau lokal yang lebih banyak porsinya.

Dia menegaskan, untuk melindungi petani tembakau dalam negeri, tarif cukai Sigaret Kretek Tangan (SKT) tidak mengalami kenaikan. Dengan pertimbangan pabrik SKT merupakan sektor padat karya dan masa pemulihan perekonomian akibat pandemi COVID-19 sekaligus melindungi tenaga kerja.

Pemerintah, lanjut dia, tidak melakukan simplifikasi layer tarif pada 2021. Langkah itu diambil ditujukan agar pabrikan tidak mendapat pukulan ganda dari kenaikan tarif dan dampak simplifikasi. Namun demikian sinyal simplifikasi tetap ada dengan penyempitan gap tarif SKM-IIA dan II-B serta SPM II-A dan II-B.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Tulisan Terkait
EkonomiNews

Misi Dagang Aceh-Jatim Catat Transaksi Rp1,079 Triliun

POPULARITAS.COM  – Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah (Dek Fadh) menyambut baik pelaksanaan misi...

InternasionalNews

Eksekusi Mati Pezina di Tanah Suci, Hubungan Saudi dan Bangladesh Memanas

POPULARITAS.COM –  Hubungan bilateral Bangladesh dan Kerajaan Arab Saudi tengah diuji. Baru-baru...

News

Satgas PRR Aceh Paparkan Progres Pemulihan Pascabencana di Berbagai Sektor Strategis

POPULARITAS.COM –  Pemerintah menegaskan akan terus mengoptimalkan upaya percepatan pemulihan Aceh pascabencana...

News

3 Hal yang Disampaikan Sekjen PBB Saat Bertemu Prabowo

POPULARITAS.COM – Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)...

Exit mobile version